Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
51


__ADS_3

" Bokap lo gimana sih?! Masa Ken mau di jadiin mantunya. Artinya dia jadi suami lo dong!" Keluh Kinan ketika dia berkunjung kembali ke rumah sakit ditemani Ken. Tapi saat ini Ken lagi ke kantin buat beli makanan.


" Gue juga kaget. Tapi lo tau sendiri bokap gue gimana."


" Makanya gue tau. Gue takut kehilangan Ken." Kinan terlihat memelas.


" Hemm.." Caca memutar- mutarkan ujung rambutnya. " Kalo jodohkan gak kemana." Ucap Caca terlihat senang.


" Elo mah maunya berjodoh sama Ken. Nasib gue gimana?" Kinan tampak kesal.


" Elo sama Ken. Emang lo mikirin nasib gue?!" Timpal Caca kesal.


" Dih. Ngapain mikirin nasib lo?!" Sergah Kinan dengan berkacak pinggang.


Ken masuk tepat pada waktunya. Meredam semua argumen yang siap dilontarkan oleh tom and jerry ini. Ken memberikan pop mie pada Kinan dan mengaduk pop mie yang dia bawa untuknya sendiri.


" Bagi dong." Pinta Caca dengan wajah memelas.


" Beli sendiri!" Sahut Kinan jutek.


Ken hanya tersenyum melihat dua bersaudara ini. Pasti saat dia tidak ada. Mereka bertengkar. Ken menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sikap Kinan dan Caca membuatnya sedikit terhibur. Ken memberikan pop mie miliknya pada Caca.


" Dikit aja. Lo gak belom boleh makan mie." Ujar Ken mengingatkan.


" Iya. Thanks Ken." Caca tersenyum penuh kemenangan menatap Kinan. Kinan mendengkus kesal karena Ken menuruti keinginannya.


" Udah..udah.. Udah... Jangan banyak- banyak. Nanti makanan CALON SUAMI GUE abis!" Ucap Kinan penuh penekanan dan merebut paksa pop mie milik Ken dengan paksa,


" Pelit." Dengkus Caca tak kalah kesal.


" Berantem mulu. Udah kaya bocah!" Ken menengahi.


" Dia duluan tuh!" Omel Kinan.


" Yeee jelas- jelas elo duluan!" Sahut Caca tak kalah geram dengan sikap Kinan,


" Malah tambah ribut!" Keluh Ken merasa pusing dengan dua wanita itu. Ken memutuskan untuk keluar dari kamar Caca. Berada di sana semakin pusing kepala dibuatnya.


Ken duduk di ruang tunggu sambil menghabiskan pop mie miliknya. Perutnya terasa sangat lapar. Karena seharian ini, Ken mengecek satu persatu kontrak kerjasama PT SOLID dengan beberapa perusahaan. Jika ada yang tidak masuk dalam hitungan Ken. Dia akan ajukan revisi untuk kerjasama tersebut.


" Kenryu kan?" Sapa seorang wanita berpakaian minim menghampiri Ken.


Ken mengernyitkan dahinya mencoba mengingat wajah wanita itu.


" Ini aku, Mona. Temen putih biru." Mona mengingatkan.


" Ahh.. Iya. gue inget." Ujar Ken akhirnya. " Apa kabar?" Ken berbasa basi.


Mona duduk di kursi samping Ken. " Baik." Jawab Mona. " Kamu lagi apa?"


" Jenguk temen." Jawab Ken.


" Kok diluar. Sambil makan pop mie lagi."

__ADS_1


" Di dalem lagi ada perang." Jawab Ken asal. " Elo sendiri ngapain?"


" Biasalah. Check up." Jawab Mona dengan senyum getir.


" Elo sakit?" Tanya Ken heran. Mona mengangguk. " Sakit apa?"


" Kanker payudara." Ucap Mona. Matanya mulai berkaca- kaca.


" Gue turut prihatin."


" Thanks." Ujar Mona dan menyeka air matanya yang lolos begitu saja.


" Gue balik duluan ya." Ucap Mona tak ingin dia berlama- lama memghabiskan waktu bersama lelaki zaman cinta monyetnya.


" Hati- hati." Ujar Ken dan melambaikan tangan pada Mona.


Ken menghela nafas dalam. Hatinya terenyuh mendengar penderitaan temannya. Saat sekolah dulu. Mona dikenal gadia yang cukup pendiam. Ken memang jarang berinteraksi dengan Mona. Makanya Ken agak lupa dengan Mona.


" Kamu liatin apa?" Tanya Kinan menepuk bahu Ken yang menghadap ke arah lift.


" Tadi ada temen aku. Baru aja dia pulang." Jawab Ken jujur.


" Cewek?" Ken mengangguk.


" Harus berapa wanita lagi yang harus aku lawan buat pertahanin kamu?!" Omel Kinan kesal. Perdebatannya dengan Caca tidak berakhir baik.


" Maksud kamu?"


" Ahh.. Pikir aja sendiri!" Omel Kinan dan berjalan menuju lift sambil menghentak- hentakkan kakinya dengan kesal.


" Pulang."


" Sebentar. Aku ambil tas dulu." Ujar Ken menahan Kinan dan segera menuju kamar Caca.


Ken masuk ke kamar Caca. Terlihat Caca memunggungi pintu. Tak tega juga Ken sebenarnya meninggalkan Caca sendirian di rumah sakit. Tapi suasana hati Kinan sepertinya sedang tidak baik.


" Gue balik dulu, Ca." Ken pamit.


" Iya. Bilangin sama pacar lo tuh! Kalo ngomong dijaga!" Sewot Caca.


Ken hanya menarik nafasnya dan enggan bertanya. Bisa jadi panjang ceritanya.


" Iya. Kalo ada apa- apa jangan sungkan hubungin gue." Ucap Ken dan keluar dari kamar Caca.


*******


Sejak menggantikan Caca. Ken memang selalu membawa mobil untuk mengantar jemput Kinan. Kasihan jika Kinan setiap hari harus naik motor. Ken tidak tega jika wanitanya kesusahan.


" Kamu berantem kenapa lagi?" Tanya Ken memecah keheningan.


" Males bahas Caca."


" Oke."

__ADS_1


Ken melirik ke kaca spion untuk belok kanan. Sesekali dia melirik Kinan dengan ekor matanya.


" Hemmm.. Menurut kamu ucapan papanya Caca serius gak?" Ken bertanya dengan hati- hati.


" Apapun yang keluar dari mulutnya adalah perintah. Jadi menurut kamu. Dia serius atau engga?!"


Ken terdiam. Repot juga kalo begini keadaannya. Ditambah lagi Kinan tinggal di rumah Caca. Bisa kacau semua rencananya untuk meminang Kinan. Ken memijat pelan pelipisnya. Berusaha memikirkan jalan keluar yang terbaik.


' Dddrrrrttt'


Ponsel Ken yang tergeletak dekat perseneling bergetar. Kinan melirik dengan ekor matanya melihat siapa yang menghubungi Ken.


" Alfi nelpon tuh." Ucap Kinan dengan nada sinis.


" Biarin dulu." Ujar Ken enggan. Pikirannya sedang kalut karena ucapan ayah Caca. Kondisinya yang sedang menyetir. Tak ingin mengacaukan pikirannya.


Kinan mengambil ponsel Ken dan menggeser tombol warna hijau. " Halo. Ada apa Al.?" Jawab Kinan. Ken hanya melirik sebentar dan membiarkan Kinan yang bicara.


" Dih. Kok di matiin!" Omel Kinan kesal dan meletakkan kembali ponsel Ken.


" Alfi gak jelas. Di angkat malah dimatiin." Kinan menggerutu.


Ken menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Caca. Ken turun dan membukakan pintu mobil untuk Kinan. Kinan tersenyum. Perlakuan Ken memang selalu manis. Untuk itulah Kinan mempertahankan Ken.


" Kamu istirahat." Ujar Ken.


" Besok kamu jadi bertemu Alfi?" Tanya Kinan dengan perasaan aneh yang menggelayut di hatinya.


" Ya, dia menyetujui revisi yang kita ajukan. Besok Alfi harus menandatangani kontrak ulang." Tutur Ken. " Ada apa?"


" Gak papa." Kinan tersenyum canggung.


" Aku pulang dulu. Besok aku jemput di jam biasa ya."


" Iya. Bye." Kinan melambaikan tangannya sebelum Ken masuk ke dalam mobilnya.


" KEN!" Panggil seseorang dengan suara berat begitu pintu pagar sedikit terbuka. Menghentikan Ken masuk ke dalam mobil dan menoleh ke arah sumber suara. Ada Yoga tengah tersenyum padanya.


Ken tak enggan menghampiri Yoga. " Mulai besok kamu tak perlu lagi mengantar jemput Kinan. Fokus mengurus Caca saja." Perintah Yoga pada Ken.


Ken menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Kinan yang mematung dekat mobilnya.


" Maaf, Om. Saya bukan siapa- siapa Caca. Kami hanya berteman." Ucap Ken menegaskan hubungannya dengan Caca.


Yoga menyunggingkan senyum penuh arti melihat Ken menggenggam tangan Kinan. " Apa kamu mau malam ini Kinan tidur dijalanan?" Ancam Yoga.


Ken melayangkan senyumnya. " Saya akan mengajak Kinan menginap di rumah teman saya." Ucap Ken dengan sopan dan membukakan kembali pintu mobil untuk Kinan.


" Ayo, sayang." Ken tersenyum lembut pada Kinan.


Tenggorokan Kinan seakan tercekat tak mampu bicara. Kinan hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca- kaca.


Ken mengernyitkan dahinya hingga alisnya bertaut. " Kenapa?"

__ADS_1


" Jadi Kinan belum menceritakan apapun pada kamu?" Yoga tertawa puas melihat Kinan seakan perlahan menjauh dari Ken.


__ADS_2