
Alfi menyunggingkan senyumnya ketika dia sengaja mengundang para sahabatnya dan juga keluarganya dan Zara untuk berkumpul. Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Tak terbayangkan bagaimana kehamilan Zara menyelamatkan pernikahannya. Ini adalah berkah yang tak terkira untuk Alfi. Alfi tak pernah jauh sedikitpun dari Zara. Selalu bersedia menemani Zara dan melayani Zara.
Alfi sedikit bingung karena Ken tak kunjung tiba. Alfi menghampiri Desta dan menanyakan padanya.
" Udah ada kabar dari Ken?" Tanya Alfi.
" Chat gue belom dibales. Telepon gue gak di angkat. Gak tau ni anak kemana." Keluh Desta yang tak kunjung mendapatkan kabar.
" Kinan udah kasih kabar?"
" Belom juga. Katanya dia mau susul Ken ke apartemennya."
" Acara gue kan penting. Emangnya dia gak mau kasih gue selamat apa?!" Alfi menggerutu.
" Yaudahlah. Yang penting kan yang lain datang."
" Yaudah gue ke Zara dulu. Kalo udah ada kabar dari Ken. Kasih tau gue." Ucap Alfi dan meninggalkan Desta.
Di apartemen Ken...
" Kamu yakin gak mau datang?" Tanya Kinan tengah menyuapi Ken yang terbaring lemah.
" Aku sakit begini masih di suruh dateng?" Ken menyuap makanan yang disodorkan Kinan.
" Muka kamu pucat. Kita ke dokter ya." Bujuk Kinan untuk yang kesekian kalinya.
" Cuma butuh istirahat." Tolak Ken halus.
" Aku kasih kabar ke Desta ya."
" Jangan sekarang. Biarin kita nikmati dulu waktu berdua." Goda Ken pada Kinan.
" Lagi sakit masih aja..." Kinan mencubit pinggang Ken hingga Ken meringis.
Kinan menatap Ken lekat. " Apa kamu coba menghindar dari Zara?" Terka Kinan.
Ken menghela nafas. " Hubungan mereka baru menghangat. Aku gak mau jadi penghancur lagi di hubungan mereka." Ujar Ken. Sedih rasanya Ken tidak bisa ikut hadir dalam hari bahagia Alfi. Tapi mau bagaimana lagi. Ini harus Ken lakukan untuk hubungan mereka.
" Kamu pasti sulit menahan diri kamu, Ken." Ujar Kinan. Matanya berkaca- kaca.
" Maksud kamu?"
" Menyembunyikan perasaan kamu ke Zara selama ini. Pasti sulit." Ucap Kinan dengan senyum getir.
__ADS_1
Ken mengacak lembut pucuk kepala Kinan. " Mikir apa sih?!"
Kinan menekuk wajahnya dan merapikan ujung rambutnya yang sedikit berantakan.
Ken membenarkan posisinya dan duduk di dekat Kinan. Perlahan Ken mendekati Kinan dan menciumnya dengan lembut.
" Aku udah punya kamu. Yang kamu harus tau. Aku gak akan berpaling dari kamu." Ucap Ken seraya menatap Kinan dalam.
" Kamu selalu aja nyerang tanpa aba- aba." Kinan merasakan panas di pipinya karena ditatap begitu lekat oleh Ken. Sorot mata Ken masih saja membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Ken mencolek pipi Kinan dan semakin senang menggoda Kinan yang tampak malu- malu.
" Jangan rese, Ken." Ucap Kinan.
Ken dan Kinan bersenda gurau sepanjang hari hingga Ken lupa jika keadaannya saat ini kurang vit.
Ken mengejar Kinan hingga ke ruang depan dan berhasil menangkap Kinan dari belakang. Namun bersamaan dengan itu. Pintu apartemen Ken terbuka dan terlihat Desta, Arsyi, Alfi juga Zara di sana. Ken dan Kinan mematung karena sejak tadi Kinan lupa mengunci pintu. Apalagi makhluk bernama Desta ini sangat jarang sekali mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia akan mencoba membuka pintu tapi kalau pintu memang terkunci. Barulah dia mengetuk pintu itu.
" Hemmm.." Ledek Desta yang melihat Ken seperti sedang memeluk Kinan dari belakang.
Sontak saja Ken menarik tangannya dan mendorong sedikit tubuh Kinan. Keduanya melemparkan senyum canggung.
Alfi menatap Zara yang memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Tak sanggup rasanya hati Zara melihat pemandangan itu.
" Tega lo gak ngasih kabar!" Protes Desta dan meletakkan makanan yang dibawanya dari rumah Alfi.
" Gue gak enak badan." Ken mengintip pada kantong kresek yang tadi di letakkan Desta.
" Elo sakit?" Tanya Alfi seraya memeriksa suhu tubuh Ken dengan telapak tangannya.
" Udah enakan."
Kinan membantu Arsyi menyiapkan makanan yang di bawa Desta.
" Kalian ngapain kesini?"
" Gue gak afdol kalo acara gue belom dirayain kita bertiga." Ujar Alfi menyela Desta yang ingin menjawab.
" Ohh iya. Selamat ya.. Akhirnya jadi calon bapak." Ken memeluk Alfi erat.
" Selamat ya Zar." Ucap Ken beralih pada Zara. Zara hanya mengulas senyum.
" Makan dulu yuk. Udah kita siapin tuh." Ajak Kinan pada mereka yang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
" Repot- repot lo. Sering- sering aja Al bawa makanan." Gurau Ken. Di iringi gelak tawa yang lain kecuali Zara.
" Kamu masih mual?" Tanya Alfi dengan raut wajah cemas.
" Jangan di paksa kalo mual." Sahut Kinan cepat.
Zara menggeleng dan menyuapkan makanannya sedikit demi sedikit. Sikapnya sangat canggung jika berhadapan dengan Ken. Kinan sengaja menempel terus pada Ken. Agar Zara mengerti dan selalu ingat jika Ken sudah jadi miliknya. Sesekali Kinan menyuapi Ken dengan mesra.
" Belom sah. Jangan mesra- mesra banget, Woy!!!" Protes Desta gemas melihat tingkah Ken dan Kinan.
" Sirik dia.." Ledek Kinan. Membuat Desta melemparinya dengan kerupuk.
" Arsyi.. Cowok lo kenapa dah. Kesambet ya." Teriak Kinan kesal dengan Desta.
Arsyi dan Ken hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Desta dan Kinan. Alfi tertawa sedangkan Zara menunduk. Menahan sesuatu yang berdesir di hatinya.
" Kita pulang yuk." Ajak Zara lembut pada Alfi.
" Iya sayang." Sahut Alfi dan langsung berpamitan pada Ken dan Desta.
" Hati- hati dijalan. Bawa bumil tuh!" Desta memperingati Alfi.
" Iya." Alfi merangkul mesra Zara.
"Anak yang di kandung Zara. Murni anak Alfi kan, Ken?" Desta berkata pelan pada Ken.
" Maksudnya?"
" Yaa kali aja lo nyumbang dikit." Gurau Desta pada Ken.
" Si*l*n!" Ken menendang pelan bokong Desta.
" Tapi lo emang belom pernah lakuin itu kan sama Zara?" Desta kali ini bertanya dengan wajah serius.
" Ngaco lo! Gue masih perjaka!" Omel Ken. " Lo mau rasain keperjakaan gue?!" Ledek Ken menambahkan.
" Ogah!" Desta berlari menjauh.
" Ayo sini gue rela melepas keperjakaan gue buat lo!" Ken mengejar Desta sampai masuk ke apartemennya.
" Udah Ken. Geli gue!" Desta bergidik ngeri membayangkan hal yang tidak- tidak.
Ken tertawa geli melihat reaksi Desta.
__ADS_1