Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
60


__ADS_3

Alfi tersenyum gembira ketika perawat memberikan baby Arkan pada Zara. Mata Alfi berbinar menahan kegemasan melihat putranya. Ingin rasanya Alfi segera menggendong putranya dan menciuminya.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Senyum Alfi terus merekah karena kebahagiaannya sudah terasa sangat sempurna. Cinta istrinya yang kembali serta kehadiran buah hatinya. Sesekali mata Alfi melirik ke arah Arkan dan juga Zara.


" Kamu udah gak sabar mau gendong Arkan bukan?" Terka Zara yang mendapati Alfi terlihat mencuri pandang.


" Ini hari yang paling bahagia. Setelah dua bulan penantian panjang kita berharap Arkan bisa segera pulang." Ujar Alfi dengan rasa haru yang membuncah di dadanya.


" Semua ini juga tidak lepas dari jasa Ken. Kalo saja Ken terlambat sedikit saja mengambil keputusan. Entah apa yang terjadi pada Arkan saat itu." Kenang Zara mengingat hari dimana dia terjatu dari tangga. Dan langsung saja cairan beserta darah mengalir dari jalur lahirnya.


" Iya. Aku selalu ingat itu sayang." Ucap Alfi dan mengelus lembut bahu Zara. " Diantara kita bertiga. Memang Ken yang paling bisa diandalkan. Keputusannya dalam bertindak sangat cepat dan matang." Sambung Alfi.


" Kira- kira bagaimana keadaan Kinan?"


" Gak tau. Ken ga cerita banyak tentang kondisi Kinan. Dia hanya selalu mengatakan. Kinan berangsur pulih."


Zara menyunggingkan senyumnya. Yaa begitulah Ken. Dia selalu menjadi pendengar yang baik tetapi pencerita yang buruk. Dia lebih banyak memendam masalahnya sendiri. Sering kali memang. Ken baru bercerita ketika masalah itu sudah bisa dia tangani dan kendalikan.


Zara dan Alfi serta baby Arkan tiba di rumah mereka. Beberapa mobil sudah terlihat berjajar memenuhi garasi serta halaman rumah mereka. Tampaknya keluarga dekatnya sudah tiba semua.


" SELAMAT DATANG!" Seru orang yang ada di dalam dengan meriah. Alfi dan Zara tersenyum takjub karena ruangan depan sudah di dekorasi. Padahal satu jam yang lalu Ruangan ini tampak masih kosong.


" Selamat datanh di keluarga kami sayang." Ucap Linda dan mencium pipi Arkan. " Terima kasih sudah memberikan kami cucu, Zara." Ucap Linda beralih pada Zara.


Guntur tak mampu berkata- kata. Dia hanya memeluk Zara dan mencium pucuk kepalanya. Roy dan Siska menghampiri putri mereka dan memeluk Alfi serta Zara bergantian. Air mata kebahagiaan jatuh begitu saja dari pelupuk mata Siska.


" Semoga anak kalian dapat memberikan keberkahan serta kebahagiaan dalam keluarga kalian." Ucap Siska dengan suara bergetar. Dan di amiinkan bagi yang mendengar.


" Selamat ya, Al. Akhirnya baby Arkan boleh pulang juga." Desta menyalami Alfi dan juga Zara. Di iringi dengan Arsyi.


" Thanks Bro. Siap- siap jadi tukang pijit istri, Des." Gurau Alfi dan disambut gelak tawa mereka.


" Ken mana?" Alfi mencari sosok Ken.


" Tadi ada. Ini dia yang ngide." Desta jadi ikut celingukan mencari sosok Ken.


Alfi menyusuri ruangan dan mendapati Ken tengah tergeletak di dekat kabinet dapur. Alfi segera menghampiri Ken. " Ken." Panggil Alfi sambil menepuk- nepuk pipi Ken dengan panik. Alfi bangkit dan memanggil Desta untuk membantu mengangkat Ken ke kamar tamu.


" Ken." Panggil Alfi lagi sambil membalurkan minyak kayu putih pada tubuh Ken. Tubuh Ken terasa dingin.

__ADS_1


Desta segera melepas sepatu kets yang dikenakan Ken.


" Kok gak ada nafasnya Des." Seru Alfi panik dan semakin mengguncangkan tubuh Ken.


" Bangun Ken!" Teriak Alfi semakin panik. Desta menggosok- gosokkan kaki Ken berkali- kali.


" Bangun Ken.!" Seru Desta tak kalah panik.


" Hmmmm!" Ken terlihat seperti mengambil nafas dalam dan nafasnya kembali teratur. Alfi dan Desta menghela nafas lega melihat kondisi Ken.


" Ken bangun!" Ucap Desta lagi dan mengguncangkan tubuh Ken.


Perlahan Ken membuka matanya dan melihat sekitarnya dengan aneh. Ken merasa bingung kenapa semua orang memperhatikan dirinya.


" Elo kenapa, Ken?" Tanya Alfi menatap Ken.


" Emangnya gue kenapa?"


" Lah.. Lucu ni bocah!" Seru Desta kesal. " Tadi elo pingsan terus badan dingin gak nafas pula. Elo kenapa?" Cecar Desta.


" Emang begitu?" Ken tampak bingung.


Ken sejenak berpikir. " Ohh. Tadi gue mau ambil minum. Terus kok gue disini?"


" Au ah!" Desta sewot.


" Periksa lebih lanjut Ken. Lo gak nafas lumayan lama. Detak jantung lo juga mendadak berhenti." Ujar Alfi ketika kerumunan telah bubar.


" Emangnya iya, Al?" Ken masih merasa aneh.


" Emang lo ngerasa. Lo itu lagi ngapain?" Alfi terlihat gemas.


" Tidur."


" Gak beres nii anak. Elo bikin orang serumah panik." Alfi ikut gemas. " Yaudah ayo ke depan. Elo gak mau ketemu Arkan?!"


" Oke." Ken segera memakai kembali sepatunya.


*******

__ADS_1


Caca menyuguhkan minuman untuk Kinan, Entah kenapa Kinan keadaan Kinan semakin memburuk. Kinan tidak mampu menopang lagi tubuhnya. Dia hanya tergeletak di atas kasur. Dokter spesialis serta psikolog sudab di datangkan Ken untuk memeriksa keadaaan Kinan. Namun tidak ada perubahan yang berarti.


" Gue mau bawa Kinan ke rumah sakit, Ca." Ujar Ken dengan menatap Kinan nanar.


" Ide bagus. Kasian dia begini." Caca menyetujui. " Gue juga gak bisa bantu merawat Kinan lebih banyak. Kaki gue belom normal."


" Thanks udah bantu gue rawat Kinan selama ini." Ken merangkul Caca.


Caca tersenyum ketika tangan Ken merangkul pundaknya. Entah kenapa hatinya masih berdesir jika berdiri sedekat ini dengan Ken.


Ken menghampiri Kinan dan duduk di kursi samping tempat tidur Kinan. " Kita ke rumah sakit ya." Bujuk Ken berharap Kinan mau mengikuti keinginannya kali ini.


" Aku gak papa." Ucap Kinan dengan suara lemah.


" Aku mau kamu sembuh." Ken mengecup lembut punggung tangan Kinan.


" Aku cinta sama kamu, Ken." Ucap Kinan dengan senyum lemahnya.


" Aku juga. Aku mau kita hidup bahagia bersama." Ken menatap sendu Kinan.


Kinan hanya tersenyum mendengar ucapan Ken. Itulah yang dia inginkan selama ini. Tetapi melihat Caca yanh terus tersenyum bahagia ketika di dekat Ken. Membuat Kinan mengurungkan niatnya .


Beberapa kali Kinan melihat Caca membubuhkan sesuatu pada makanan atau minuman yang dia suguhkan untuknya. Kinan hanya bisa pasrah dan membiarkan semua itu terjadi pada dirinya. Kinan ingin menyerah. Kinan yang merasa tidak pantas lagi bersanding dengan Ken. Ingin menyerah pada keadaan.


" Ken."


" Ya."


" Jika aku gak ada. Kamu harus bahagiakan Caca ya." Ucap Kinan dengan suara tercekat.


" Sssttt.." Ken meletakkan telunjuknya pada bibir Kinan.


" Aku yakin kamu pasti sembuh." Ucap Ken. " Kita ke rumah sakit ya." Bujuk Ken lagi.


" Engga."


" Aku mohon sayang."


" Aku gak akan sembuh, Ken." Ucap Kinan dengan derai air matanya. Yaa.. Bagaimana Kinan bisa sembuh jika Caca terus memberikan sesuatu pada dirinya.

__ADS_1


Kinan terlalu menyayangi Caca hingga dia tak tega melaporkan perbuatan Caca pada Ken.


__ADS_2