
Ken hanya terdiam mendengar ucapan Alfi. Ken yang sangat tahu bagaimana Alfi begitu mencintai Zara. Hanya mampu merasa iba ketika pernikahan mereka berada di ujung tanduk.
" Elo yakin?" Tanya Ken dengan nafas yang terasa berat.
" Harusnya udah gue lakuin ini dari dulu." Ucap Alfi tegas namun tetap saja merasa sakit. Berpisah dari Zara adalah hal yang sangat tidak ingin Alfi lakukan. Tetapi Zara semakin tidak menganggapnya ada masih saja mengejar lelaki yang kini juga sudah memiliki istri.
" Pikirkan lagi, Al. Ada Arkan yang butuh kalian."
" Biarkan Arkan ikut ibunya. Gue mau fokus sama kesembuhan gue." Ujar Alfi. Tatapan matanya jauh menerawang.
" Gue gak tau harus ngomong apa lagi. Hancurnya pernikahan lo. Sedikit banyak karena gue. Merasa bersalah. Udah pasti." Ucap Ken penuh penyesalan.
" Bukan salah lo! Istri gue yang udah gak ada rasa malunya lagi." Ujar Alfi. " Dia berubah jauh. Dari yang gue kenal dulu." Alfi terlihat kecewa.
Ken hanya diam tak bergeming. Keputusan Alfi sepertinya sudah bulat. Tak ada lagi yang bisa di lakukan Ken untuk menyelamatkan rumah tangga Alfi. Alfi terlihat mengeluarkan ponselnya yang dia letakkan tak jauh dari posisinya.
" Zara." Alfi menyapa ketika Zara menjawab panggilan teleponnya.
" Ya sayang."
" Kamu gak perlu lagi pulang ke rumah ini." Ucap Alfi.
" Maksud kamu?"
" Aku ceraikan kamu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi." Ujar Alfi.
Zara terdiam untuk sesaat. " Kenapa? Apa ada yang salah dariku?"
Alfi menarik nafasnya. " Bukan kamu yang salah. Tetapi aku. Aku yang salah udah pergi dari hatimu."
" Al.. Aku gak ngerti."
" Kamu ngerti, Zar. Saat kamu lihat Ken datang ke rumah ini. Kamu tau apa yang aku bicarakan. Kamu gak perlu lagi sembunyi- sembunyi lagi dari aku untuk ngejar Ken." Alfi menyunggingkan senyum mencemooh.
" Maaf. Aku khilaf, Al." Zara tertunduk.
" Untuk yang ke berapa kalinya khilaf yang kamu lakukan?" Ucap Alfi menohok tajam dan menutup panggilan teleponnya.
Alfi menghembuskan nafas panjang. Entah kenapa saat ini keputusannya menimbulkan perasaan lega yang tidak bisa dijelaskan Alfi sendiri.
" Kok elo senyum?" Tanya Ken merasa aneh melihat Alfi malah tersenyum.
" Keputusan gue tepat, Ken." Ujar Alfi. " Gue bisa lega sekarang." Ujar Alfi.
__ADS_1
" Aneh."
" Elo gak akan pernah tau rasanya jadi gue, Ken." Ujar Alfi membuat Ken hanya menggaruk belakang kepalanya bingung.
******
Guntur memasuki ruangan Ken yang sedikit lebih luas dari ruangannya. Pertama kalinya Guntur memasuki ruang kerja Ken pada perusahaan ini. Ken yang memang sudah menunggu kedatangan Guntur. Menyambutnya dengan suka cita.
" Silahkan duduk, Om." Ujar Ken mempersilahkan Guntur duduk di sofa yang ada di ruangannya.
" Om gak nyangka ternyata kamu lebih besar dari kami." Puji Guntur. Anak yang selama ini selalu dia support pendidikannya. Ternyata punya perusahaan yang jauh lebih besar darinya.
" Punya ayah saya, Om." Ken merendah. Tak nyaman rasanya selalu dipandang sebagai orang besar. Baginya sama saja dia yang dulu dengan yang sekarang.
" Merendah saja." Guntur tertawa lepas.
Setelah itu obrolan mereka dihiasi pembicaraan bisnis antar perusahaan. Ken dan Guntur terlihat sangat professional jika bahasan mereka sudah tentang bisnis. Setelah kedua belah pihak setuju. Keduanya menandatangani perjanjian kontrak kerja sama.
" Terima kasih, Ken." Guntur menjabat tangan Ken.
" Emmm.. Kamu masih punya waktu?" Tanya Guntur masih enggan beranjak dari ruangan Ken.
" Tiga puluh menit." Jawab Ken.
Ken hanya diam menatap Guntur.
" Alfi benar- benar akan melayangkan gugatan cerai pada Zara. Dia sudah memerintahkan sekretarisnya untuk mendaftarkan hal tersebut." Guntur membenarkan posisi kacamatanya. " Om takut jika keputusan Alfi salah. Sebab ada Arkan di antara mereka."
Ken menarik nafasnya dalam. Biar bagaimanapun masalah ini terjadi karena dia. " Sebelumnya saya minta maaf karena jadi penyebab hancurnya pernikahan mereka."
" Ahh. Tidak. Itu bukan salah kamu! Salah Zara tidak bisa menempatkan dirinya." Guntur dengan cepat meralat ucapan Ken.
" Tapi saya tetap merasa punya andil dalam masalah ini."
" Om hanya ingin cerita, Ken. Tak mungkin rasanya Om ceritakan masalah ini pada orang lain."
Ken menarik nafasnya. " Saya cuma bisa berharap pernikahan mereka bisa selamat. Kasihan Arkan." Ujar Ken.
" Itu yang menjadi fokus, Om. Om ingin ambil hak asuh Arkan. Tetapi keadaan Alfi tidak memungkinkan mengurus Arkan." Ujar Guntur terlihat bimbang.
" Kita doakan yang terbaik untuk mereka, Om." Ken menenangkan.
Guntur melirik jam di pergelangan tangannya dan kemudian Guntur pamit meninggalkan ruangan Ken.
__ADS_1
' Ddrrttt'
Ken menoleh pada ponselnya yang memang dia geletakkan di atas meja kerjanya. Baru saja dia ingin memulai kembali pekerjaannya sebelum jadwal pertemuan berikutnya. Nama Alfi sudah tertera dalam layar ponselnya.
" Bisa ke rumah gue sekarang?" Tanya Alfi begitu Ken menggeser tombol hijau dan belum mengatakan satu kata pun.
" Gak bisa. Sebentar lagi mau ada meeting."
" Penting, Ken." Ucap Alfi sedikit memaksa.
" Sorry, Al. Satu jam lagi gimana?" Ken menawar. Tidak mungkin Ken membatalkan secara sepihak. Apa lagi di waktu mepet. Kliennya pasti sudah dekat.
" Ken"
" Kalo mau bicarain masalah lo. Gue gak bisa. Gue bukan siapa- siapa dalam hubungan kalian." Ken kembali menolak.
" Bukan Ken. Ada yang salah sama perban gue. Perih dari kemaren. Tadi gue beraniin buat buka perban sendiri. Dan ada nanah di sana." Ujar Alfi.
" Apa?!" Ken tersentak.
' Tok Tok Tok.'
" Gue usahakan datang secepat mungkin. Klien gue udah dateng. Bye." Ujar Ken.
Ada apa lagi dengan Alfi sekarang. Sepanjang meeting dengan klien. Fokus Ken terbagi. Dia menyelesaikan meetingnya jauh lebih cepat dan ketika kliennya meninggalkan ruangannya. Ken segera menyambar kunci mobilnya.
" Cin. Kosongin semua jadwal gue!" Ujar Ken pada Cinta.
" Tapi Ken masih ada dua rapat lagi."
" Kosongin!" Tegas Ken.
Cinta hanya menggaruk kepalanya dan bisa dipastikan Cinta akan dapat omelan dengan klien ini. Karena Ken sudah dua kali membatalkan jadwal mereka.
Ken segera berlari menuju kamar Alfi. Ken menatap ngeri melihat luka pada kaki Alfi.
" Elo gak ganti perbannya?" Tanya Ken dengan wajah khawatir.
" Siapa yang bantuin?" Sergah Alfi.
Benar juga. Zara sudah tidak tinggal di sini. Alfi hanya tinggal sendiri dan paling hanya ada art yang membantunya membereskan rumah dan menyiapkan makan Alfi. Mandi pun sebisa mungkin Alfi melap badannya sendiri.
" Ke rumah sakit ya. Takut infeksi." Ujar Ken. Alfi mengangguk pasrah.
__ADS_1
Ken membalut kembali luka Alfi dan membantu Alfi duduk di kursi roda. Ken menatap iba sahabatnya. Kecelakaan itu membuatnya tidak berdaya seperti ini.