
Zara tetap diam tak bergeming dari tempatnya. Tangis Zara pecah begitu saja. Ken berkali- kali menarik nafasnya berusaha mengatur kembali emosinya. Sikap Alfi yang Ken nilai kurang tegas. Menambah rumit masalah ini. Mungkin jika Ken jadi Alfi. Sudah lama Zara akan Ken tinggalkan. Untuk apa mempertahankan wanita yang tidak cinta dengannya lagi.
" Gue anter lo sampai parkiran." Ken melunakkan suaranya.
" Kamu jahat, Ken." Ucap Zara di sela isak tangisnya.
" Gue cape, Zar. Tolong ngerti gue."
" Aku juga cape, Ken berpura- pura jadi istri yang baik. Membiarkan lelaki yang tidak aku cinta menyentuh tubuhku." Zara mengungkapkan isi hatinya. " Apa kamu pikir itu semua mudah buat aku?!"
" Kenapa elo mau nikahin Alfi?" Tanya Ken menatap tajam Zara.
" Aku cuma berharap selalu bisa lihat kamu. Gak peduli kamu akan hidup dengan siapa."
Ken menarik nafasnya. " Kenapa elo cemburu tiap ada cewek yang deket sama gue?"
" Aku sayang sama kamu, Ken." Ungkap Zara.
" Huuufffttthhh" Ken membuang nafasnya kasar. Pikirannya menjadi buntu karena sikap keras kepala Zara.
" Gue ikutin mau lo, Zar. Tapi gue gak punya waktu tiap hari. Gue luangin waktu gue buat lo." Ucap Ken akhirnya. ' Pada akhirnya gue akan tinggalin elo' Gumam Ken dalam hatinya.
Zara menatap Ken tak percaya. " Benar Ken?" Ken hanya mengangguk. Setidaknya dia harus punya waktu untuk menghancurkan hati Zara dan membuat Alfi menjadi pahlawan dalam hidupnya.
Zara memeluk Ken dengan erat. Dapat dia dengar detak jantung Ken yang teratur. " Aku sayang sama kamu, Ken." Zara kembali mengungkapkan isi hatinya.
" Sebaiknya lo pulang. Gue gak mau Alfi curiga kalo lo gak pulang- pulang. Kasihan Arkan." Ucap Ken melerai tubuh Zara.
Zara menyeka air matanya dan mengangguk dan menatap Ken lekat. " Kamu antar aku ke parkiran ya."
Ken mengikuti kemauan Zara. Membiarkan Zara menggandeng tangannya. Ken memang selalu melunak jika melihat wanita menangis.
" Hati- hati di jalan." Ucap Ken ketika Zara sudah berada di balik kemudinya.
" Bye." Ucap Zara dengan hati riang.
Ken berdecak kesal. Haruskah dia selalu bersikap seperti ini. Ken merasa telah menusuk Alfi dari belakang.
Sejak hari itu. Zara sering berkunjung ke apartemen Ken. Walaupun Ken tak menyentuh Zara lebih dari sekadar pelukan. Itupun juga Zara yang memeluknya selalu secara mendadak. Ken tidak ingin menyentuh istri sahabatnya.
" Ken.. " Panggil Zara yang sejak tadi sibuk di dapur Ken.
" Ya." Ken muncul dari kamarnya.
" Kamu ngapain?"
" Terima telepon." Ucap Ken dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
" Cicipi ini." Zara menyodorkan sendok ke depan mulut Ken.
Ken melihatnya sekilas dan mengikuti kemauan Zara.
" Bagaimana?"
__ADS_1
" Sudah pas." Ucap Ken. " Apa perlu aku bantu?"
Zara tersenyum. Sikap Ken jadi jauh lebih manis. " Udah mau selesai."
" Biar aku yang cuci perabotan itu." Ucap Ken dan berjalan menuju wastafel. Mencuci panci, piring dan beberapa gelas yang kotor.
' Dddrrrttt' Ponsel Ken kembali berdering.
Zara berjalan ke arah ponsel Ken di letakkan. Tertera nama Cinta di sana. Zara terhenyak mematung. Apakah diam- diam Ken menjalin hubungan dengan wanita lain?
" Siapa yang menelepon?" Tanya Ken setelah selesai dengan kegiatan cuci mencuci perabotan.
" Siapa Cinta?" Tanya Zara menatap Ken lekat.
" Teman." Ucap Ken dan mengambil ponselnya.
" Ken!"
" Apa?" Ucap Ken tajam. " Kamu cemburu?" Tebak Ken pada Zara yang menatapnya marah.
" Kamu sayang gak sama aku?"
Ken menarik nafasnya dalam. Ken tak mampu menjawab soal itu. Ken menyergap Zara dengan bibirnya. Sengaja dia melakukan itu. Agar dia bisa meyakinkan Zara.
Setelah cukup lama mereka saling bergulat dalam c*uman yang cukup panas. Ken mengakhirinya saat dia mulai terbawa suasana.
" Sorry." Ucap Ken dan menjauh dari Zara.
" Udah cukup lama kamu di sini. Lebih baik kamu pulang." Ucap Ken tak ingin lebih lama menghabiskan waktunya dengan Zara.
" Zara!" Panggil Ken menyadarkan lamunan Zara.
" I..Iya."
" Pulanglah." Ucap Ken.
" Kita makan dulu."
" Lain kali aja kita makan bareng. Sekarang kamu pulang. Aku gak mau Alfi curiga." Ucap Ken tanpa komando merapikan barang Zara.
" Tapi Ken."
' Cup.' Ken memberikan kecupan singkat pada pipi Zara. Ken enggan mendengar kalimat sanggahan lagi dari wanita ini.
" Aku pulang dulu." Ucap Zara dan mengambil tasnya dari tangan Ken.
" Bye." Ucap Ken dan menutup pintu apartemennya kembali.
" Apa yang lo lakuin sih, Ken!" Rutuk Ken memaki dirinya sendiri.
" oiya. Cinta pasti ngamuk nih." Ken segera menghubungi cinta.
Sepanjang perjalanan bibir Zara tak bisa berhenti tersenyum. Bibir Ken masih terasa di bibirnya. Bahkan ketika malam tiba. Zara masih saja terus tersenyum. Sampai Alfi menatapnya aneh.
__ADS_1
" Apa kamu baik- baik saja, sayang?" Tanya Alfi merasa sedikit aneh karena Zara tak berhenti tersenyum.
" Iya. Ada apa?"
" Apa kamu sedang bahagia?" Tanya Alfi penuh kehati- hatian.
" Iya. Aku bahagia bisa jadi istri kamu." Ucap Zara dan mengecup pipi Alfi. Walaupun sebenarnya dia membayangkan bahwa itu sosok Ken.
" Terima kasih sayang." Ucap Alfi tulus dan menarik Zara dalam pelukannya.
Senyum Zara memudar ketika dia merasakan hal berbeda ketika Alfi memeluknya. Tak senyaman dengan memeluk Ken.
" Aku lelah. Boleh aku tidur duluan?" Ucap Zara.
" Iya." Alfi mengecup kening Zara.
Alfi memandang istrinya yang dia tahu sedang berpura- pura memejamkan matanya. Alfi merasa ada yang aneh dengan sikap Zara belakangan ini. Dia terlihat lebih bahagia tapi Zara terlihat enggan Alfi sentuh. Alfi sejenak berpikir dan pikirannya tertuju pada Ken.
Alfi mengambil ponselnya dan menghubungi Ken di halaman belakang rumahnya agar Zara tidak mendengar pembicaraanya.
" Ken." Panggil alfi begitu Ken menjawab teleponnya.
" Ya. Ada apa?"
" Apa Zara sering ke apartemen lo?" Tanya Alfi menyelidik dan berharap jika itu tidak benar.
Ken terdengar menarik nafas. " Ya."
' Deg!' Alfi terdiam sejenak. " Buat apa?"
" Ketemu sama gue." Jawab Ken singkat.
" Ngapain aja kalian?" Tanya Alfi. Hatinya mulai memanas.
" Cuma ngobrol."
" Gak mungkin Zara sebahagia itu. Apa yang udah lo lakuin sama istri gue?" Tanya Alfi kembali menegaskan.
" Gak ada." Jawab Ken singkat.
" Jujur, Ken!" Bentak Alfi.
" Kalo gue jadi lo. Udah lama gue lepas Zara." Ucap Ken.
" Biar lo sama dia bisa bersatu?!"
" Gue gak akan pernah mau sama Zara, Al. Gak ada sedikitpun niat gue buat dapetin dia."
" Kenapa lo biarin dia terus datang ke apartemen lo?" Alfi tetap merasa tidak masuk akal dengan jawaban Ken.
" Gue udah berusaha mencegah. Tapi lo yang ajak dia ke apartemen gue." Ken tak mau kalah. " Apa harus gue pindah lagi buat menghindar dari istri lo?" Ken mendebat. " Di sini siapa yang salah?"
Alfi menarik nafasnya dalam. Ya.. Apa yang Ken ucapkan benar. Alfi yang mengajak Zara ke apartemennya saat Ken pindahan dulu. Ternyata ini maksud Ken melarang Zara ikut.
__ADS_1
" Sekarang gue cuma ikutin aja permainan kalian, Al." Ucap Ken " Kalo lo gak mau Zara ketemu gue lagi. Jaga dia baik- baik biar gak ke rumah gue terus. Biar bagaimanapun. Gue lelaki normal yang gak bisa terus nahan diri buat gak nyentuh istri lo." Ucap Ken kemudian menutup sambungan telepon mereka.
Alfi langsung terduduk pada kursi di halaman belakang rumahnya. Pikirannya membenarkan apa yang Ken ucapkan. Bagaimana jika Ken tak bisa menahan dirinya dan menyentuh Zara. Alfi mengacak- acak rambutnya. Alfi kesal dengan dirinya sendiri.