Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
85


__ADS_3

Ken terpaku. Kedua netranya berbinar ketika melihat Alfi membuka matanya. " Al."


Alfi mengedarkan matanya dan merasa sedikit bingung. Kenapa dia ada di rumah sakit. Alfi menatap Ken yang tersenyum lebar. Tim dokter segera memeriksa perkembangan Alfi yang menurut mereka ajaib. Karena beberapa hari belakangan kondisi Alfi beberapa kali drop. Setelah selesai diperiksa. Ken kembali menghampiri Alfi.


" Gue kenapa, Ken?" Tanya Alfi dengan suara parau.


" Elo kecelakaan." Jawab Ken. Hatinya dipenuhi rasa syukur melihat sahabatnya kembali membuka kedua matanya.


" Zara mana?"


" Zara di rumah. Besok gue baru kabarin kalo elo udah sadar." Jawab Ken dan duduk di kursi.


Alfi masih terbata- bata ketika ingin bicara. " Udah berapa lama gue disini?"


" Kurang lebih tiga minggu." Jawab Ken. " Elo pindah kamar ya." Ken menjauh karena beberapa perawat akan memindahkan Alfi menuju ruang perawatan.


Ken menghubungi Naila jika dia tidak akan pulang malam ini. Menunggu Alfi di rumah sakit. Ken duduk di samping ranjang Alfi dan menatap sahabatnya lekat.


" Ngapain liatin gue begitu?" Ujar Alfi pada Ken.


" Gue seneng. Akhirnya bisa liat lo sadar." Ujar Ken penuh haru. Sedalam itu memang ikatan persahabatan antara Ken dan Alfi.


" Gimana pernikahan lo? Ga dibatalin lagi kan?"


" Engga." Jawab Ken. " Harusnya ini jadi malam pertama gue sama Naila. Tapi malah nemenin lo!" Gurau Ken.


Alfi tertawa kecil.


" Cabut sana! Temenin istri lo."


" Tadi gue udah izin sam dia buat gak pulang malam ini."


" Ngaco!" Ucap Alfi dan kemudian mereka tertawa bersama.


Pagi- pagi sekali Zara sudah mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Setelah membaca pesan dari Ken. Zara segera bersiap- siap menuju rumah sakit untuk menemui Alfi. Zara membuka perlahan pintu kamar rawat inap Alfi. Di dapatinya Alfi sedang tertidur dan Ken juga masih terlelap di kursi samping ranjang Alfi.


Ada perasaan perih ketika melihat Ken saat ini. Lelaki yang baru kemarin berstatus suami dari wanita lain. Zara menarik nafasnya dalam berusaha mengendalikan perasaannya. Sebisa mungkin Zara memendam semua yang dia rasakan di hatinya.


Zara meletakkan makanan dan buah- buahan yang dia bawa di atas nakas. Zara menghampiri Alfi dan mengelus lembut pucuk kepala Alfi yang masih terlelap.


" Sayang."


Zara menyunggingkan senyumnya dan mengecup kening Alfi. " Maaf membangunkanmu." Zara menatap Alfi lekat. " Aku senang kamu udah siuman." Ujar Zara dengan suara lirih menahan tangis.

__ADS_1


" Gimana kabar kalian?"


" Aku dan Arkan baik." Ujar Zara.


" Pengantin baru malah jagain aku. Dia pasti cape banget." Ucap Alfi melihat Ken yang masih terlelap walaupun dalam posisi duduk.


" Iya. Tamunya kemarin cukup banyak." Ujar Zara.


" Iya. Ayahnya seorang pengusaha besar."


Zara menunjukkan foto pernikahan Ken pada Alfi. Alfi tersenyum melihat hari bahagia sahabatnya walaupun saat itu dia tidak bisa hadir.


" Bisa tambah ganteng aja tuh anak pake baju begini." Puji Alfi melihat foto pernikahan Ken. Ada rasa sesal di hati Alfi tak bisa menghadiri hari bahagia Ken.


Lumayan lama setelah kedatangan Zara. Ken akhirnya kembali dari alam mimpinya. Ken mengucak kedua matanya. Tidurnya cukup nyenyak. Walaupun berakhir dengan rasa pegal pada badannya karena tidur dalam posisi duduk semalaman.


" Loh Zar. Kapan dateng?" Tanya Ken dengan mata terkesiap.


" Satu jam yang lalu." Jawab Alfi cepat.


" Kok gak bangunin gue." Ken merasa sedikit malu karena tidurnya terlampau nyenyak.


" Kamu keliatan capek. Mana tega aku bangunin kamu." Ujar Zara dengan tawa kecilnya.


Ken melihat jam dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Ken segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mencuci mukanya. Ken pamit pada Alfi dan Zara. Kasihan Naila pasti menunggunya.


" Pak, Bu." Ken mencium punggung tangan kedua orang tua Naila yang kini menjadi mertuanya.


" Dari mana?" Tanya Tejo dengan tatapan tajam.


" Rumah sakit, Pak."


" Duduk." Tejo ingin menginterogasi Ken.


" Tak baik seorang suami meninggalkan istrinya dimalam pertama." Ucap Tejo.


" Maaf, Pak." Ken mengaku dirinya memang bersalah meninggalkan Naila semalaman.


" Bapak gak mau kamu meninggalkan Naila begitu saja seperti semalam dengan alasan apapun!" Ucap Tejo menegaskan kalimatnya.


" Kamu jenguk siapa di rumah sakit. Sampai kamu meninggalkan malam pertamamu?" Rasmini jadi penasaran. Karena Ken sering terdengar mengunjungi rumah sakit.


" Teman, Bu."

__ADS_1


" Lelaki?"


" Iya."


" Apa hubunganmu dengannya sampai kamu tega meninggalkan istri kamu?" Tejo tampak marah melihat Ken.


" sahabat." Ucap Ken dengan tetap menundukkan wajahnya.


" Apa kamu yakin?"


" Iya, Pak. Maaf sebelumnya, Pak. Saya lelaki normal." Ucap Ken merasa tersinggung dengan kecurigaan mertuanya itu.


" Yasudah. Kamu masuk. Temui istrimu." Ujar Rasmini menengahi. Karena Tejo terlihat semakin murka melihat Ken.


Ken hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui Naila.


" Kenapa ibu suruh dia masuk?!" Tejo tampak belum puas karena belum memarahi Ken.


" Ini hari pertamanya jadi suami anak kita, Pak. Ibu gak mau karena hal sepele begini. Merusak hari bahagia anak kita." Ucap Rasmini.


" Mentang- mentang anak orang kaya. Seenaknya saja meninggalkan anak kita!" Omel Tejo. Sejak tahu jika Ken keluar semalam. Tejo memang tak berhenti menggerutu.


Ken menemui Naila yang sedang sibuk merapikan kasurnya. Ken memeluk Naila dari belakang mengejutkan gadis itu hingga berteriak kencang.


" Ini aku, sayang." Bisik Ken lembut pada telinga Naila.


" Kamu mengagetkan aku." Ujar Naila.


" Ada apa, Nai?" Tanya Laksmi yang sedang di kamar sebelah mendengar teriakan Naila.


Laksmi terdiam ketika memergoki Ken tengah memeluk mesra Naila dari belakang. Wajahnya tiba- tiba saja mengerucut sebal. Ken dan Naila yang tadi sedang tertawa kecil. Mendadak diam karena melihat Laksmi berdiri di ambang pintu kamar mereka.


" Tutup pintu kalo mau mesra- mesraan!" Omel Laksmi dan meninggalkan kamar Naila dengan perasaan sebal.


" Kamu sih!" Ucap Naila dengan perasaan malu dan segera menutup pintu kamarnya.


Ken duduk di tepi ranjang. Ken menepuk- nepuk kasur. Meminta Naila untuk duduk di sampingnya. Naila menuruti Ken. Ken menatap wajah Naila dengan sangat dalam. Wajahnya menyunggingkan senyum memperhatikan wajah mungil istrinya. Ken mengelus lembut pipi Naila.


" Kamu bikin aku malu!" Ujar Naila dengan pipi merona. Setampan itu ternyata lelaki yang kini jadi suaminya. Sejak kenal dengan Ken. Naila memang tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama.


" Kenapa? Kamu istriku." Ucap Ken kini memajukan perlahan wajahnya mendekat pada wajah Naila.


Jantung Naila berdegup tak karuan. Hembusan nafas Ken yang teratur dapat di rasakan Naila dengan jelas. Tetapi entah kenapa membuat Naila terasa sesak. Ketampanan wajah Ken membuat Naila tak berdaya dibuatnya.

__ADS_1


" Ken.."


Naila langsung bungkam ketika bibir mereka bertemu.....


__ADS_2