
Akhirnya, tibalah hari yang sangat di tunggu-tunggu, yaitu hari pertama mereka masuk di sekolah baru. Terlihat mereka sangat bersemangat dengan perlengkapan mereka yang serba baru. Mulai dari tas baru, sepatu baru, alat tulis baru, seragam baru, hanya muka baru yang tidak terlihat disana.
Satu-persatu panitia MOS pun mulai berdatangan dengan menggunakan almamater dan name tag yang di kalungkan. Para siswi baru mulai bersorak-sorak memperlihatkan bakat alami nya sebagai penonton bayaran. Saat melihat beberapa anggota OSIS yang bisa di bilang ganteng. Siswi-siswi perempuan pun satu persatu mulai berubah menjadi wonder woman. Enggak.. Enggak... Mereka mulai berteriak histeris sambil mengayunkan rambutnya ala-ala trio macan. “Ya ampuuuun... Itu anak Osis apa pangeran??? Ganteng bangetttt!!” Teriak Renita kepada Sesil dan Zahra. Sesil merespon nya dengan godaan-godaan yang akan membuat Renita kesal. Zahra yang tengah asyik membaca buku tidak terpengaruh dengan keadaan sekitar, dia sangat fokus dengan buku bacaan yang sedang dia baca. “Tuhaaaan... Bahasa mu itu loh Ren, alay banget!! Kaya baru turun dari pucuk hutan saja.” Sahut Sesil sambil mencubit gemas pipi Renita yang tirus. Renita langsung menepis tangan Sesil. “Idiiiihh.. Apaan siihh.. Sirik aje yeee.. Yeeee...” Tukas Renita dengan nada suara nya yang khas dan lucu. Sesil terus saja menggoda Renita dengan sindiran-sindiran yang biasa nya berhasil membuat Renita kesal.
__ADS_1
Sementara itu, Zahra masih asyik dengan buku bacaannya. Sudah tidak asing lagi bagi Renita dan Sesil melihat Zahra tidak bergeming saat mereka berdua ribut. Yaaapp!!!! Karena salah satu hobby Zahra adalah membaca. Zahra akan langsung membaca buku apapun yang berada di depannya.
Jika sudah begitu, Renita dan Sesil tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengalihkan perhatian Zahra. Karena sudah pasti mereka akan gagal, dan yang terjadi mereka akan menjadi kesal karena semua cara yang mereka gunakan tidak berhasil untuk membuat Zahra melepas pandangan nya dari buku bacaan yang berada di tangan nya.
__ADS_1
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga baca buku nya”. Ucap Zahra pelan seraya memasukkan bukunya ke dalam tas. “Juwii...” Panggil Renita dengan pelan. Zahra yang tidak biasa mendengar Renita berkata pelan merasa heran, mengapa tiba-tiba suara Renita menjadi seperti itu. “Iya, kenapa Ren??”. Jawab Zahra sambil mengarahkan pandangan nya ke arah Renita. Zahra langsung tertegun melihat banyak pandang mata mengarah kepadanya. “Ada apa ini?? Mengapa mereka semua menatap ku seperti itu???”. Batin nya. Sesil yang tidak suka sahabat nya di tatap dengan pandangan seperti itu, dengan sigap mengajak Zahra dan Renita untuk pergi dari bangku di sekitar lapangan upacara yang menghadap ke ruang guru itu. Zahra dan Renita hanya mengikuti Sesil yang menarik pergelangan tangan mereka yang entah akan membawa mereka kemana. Renita terus mengomel karena Sesil tidak menjawab pertanyaan nya yang sedari tadi menarik tangan nya dan tidak melepaskannya.
Lamunan Zahra terhenti seiring dengan terhenti nya langkah kaki Sesil yang berada sedikit di depan mereka.
__ADS_1
“Whatt?? Dimana ini Sil?? Apa ini taman?? Aku belum pernah kesini sebelumnya.” Tanya Renita spontan. Mendengar pertanyaan Renita, Sesil langsung menghela nafas panjang. “Huuufftt.. Wajar lah kalo kamu belum pernah kesini, kita kan murid baru..” Jelas Sesil dengan pandangan mata yang tidak menentu. “Mereka itu kenapa sih usil banget??!” Tanpa sadar Sesil melontarkan kata-kata itu. Zahra dan Renita tersentak mendengar ucapan Sesil. “Kamu kenapa, Sesil???” Tanya Zahra dengan ramah dan perlahan mendekat ke arah Sesil yang berada tak jauh dari mereka. Sesampainya Zahra di hadapan nya, Sesil yang tanpa sadar sudah sedikit terisak langsung memeluk erat Zahra. Zahra merespon hangat pelukan itu. Renita pun segera berlari menuju Zahra dan Sesil yang sedang menangis di pelukan Zahra. Renita mengerti benar, jika Sesil sudah menangis, berarti dia benar-benar sedih dan tidak bisa menahan perasaan nya lagi. “Sesil jangan nangis dong..” Pinta Renita yang tanpa sadar ikut meneteskan air mata. Melihat kedua sahabat nya menangis, Zahra tahu apa yang harus dia lakukan. Zahra membawa Sesil dan Renita duduk di bangku taman agar mereka sedikit tenang. Terlihat Sesil sedikit melamun sambil menundukkan kepalanya. Di samping nya ada Renita yang terus-menerus mengusap air mata Sesil yang membasahi pipinya.
“Sesil...” Tanya Zahra pelan. “Mereka itu jahat sama kamu. Aku gak suka.” Lirih Sesil yang kembali terisak dan menyandarkan kepalanya di batu nisan berasa di kuburan -_- di bahu Zahra.
__ADS_1