
Ken tergeletak begitu saja di lantai. Semua yang hadir sontak saja melihat ke arah Ken. Alfi dan Desta dengan cepat segera menghampiri Ken. Dan segera menggotong Ken ke sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Naila menatap Ken dengan cemas. Begitupun dengan Zara. Menggigit bibir bawahnya menahan rasa cemasnya. Alfi segera membuka sepatu Ken.
" Beri ruang." Teriak Alfi karena mereka yang hadir berkerumun sangat dekat dengan Ken.
" Ken sadar, Ken." Ucap Naila sambil menepuk- nepuk pipi Ken.
" Minggir!" Rumi menarik tubuh Naila agar menjauh.
Rumi mendekatkankan minyak kayu putih pada hidung Ken dan mengoleskannya di beberapa titik.
" Emmhh.." Ken perlahan membuka matanya.
" Syukurlah.." Ucap Rumi dan yang lain hampir bersamaan melihat Ken tersadar.
Ken langsung duduk dan memijat keningnya. Kepalanya terasa sakit. Rumi dengan cepat memijat kepala Ken. Zara yang melihat hal itu. Perlahan mundur dan menjauh dari sana. Naila hanya diam melihat Rumi memijat kepala Ken.
" Elo sering banget begini, Ken. Periksa deh takut ada apa- apa.' Ujar Desta mengkhawatirkan kesehatan Ken.
Ken menahan tangan Rumi agar berhenti memijat kepalanya. " Thank, Rum." Ujar Ken.
" Iya." Rumi duduk di sofa kecil.
" Gue gak papa. Mungkin cuma capek aja." Ujar Ken menarik nafas panjang.
" Tetap periksa Ken." Saran Alfi yang ikut cemas dengan keadaan Ken.
" Iya. Nanti gue periksa." Ujar Ken akhirnya.
" Yaudah. Makan dulu yuk." Ucap Desta menepuk bahu Ken.
" Duluan."
Tinggallah Ken dan Naila yang sejak tadi menatapnya dengan wajah cemas. Naila duduk di lantai tepat di hadapan Ken. Matanya sudah berkaca- kaca.
" Kamu kenapa?" Tanya Ken dengan senyumnya.
" Aku sedih lihat kamu begini." Ujar Naila kini air matanya meluncur begitu saja dan buru- buru Naila menghapus air matanya.
__ADS_1
" Aku cuma kecapean aja." Ujar Ken dan memegang lembut pipi Naila.
" Kita pulang aja?"
" Sebentar lagi." Ujar Ken. " Badanku belum sanggup untuk bawa mobil." Ucap Ken.
Naila memeluk Ken dengan erat. Perasaan cemasnya sangat mengusik pikirannya. " Aku gak mau kenapa- napa." Ujar Naila lirih.
Ken membalas pelukan Naila dan mengelus lembut punggung Naila. Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata melirik ke arah mereka dengan cemburu. Naila melerai pelukannya dan kembali duduk di hadapan Ken. Ken mencubit gemas pipi Naila. Wajah polos Naila selalu berhasil membuat Ken terhibur.
" Makan dulu Ken." Ujar Rumi dan duduk begitu saja di dekat Ken. Tak dipedulikannya Naila yang berada di dekat Ken.
" Duluan aja." Tolak Ken halus.
" Buka mulutnya." Rumi menyodorkan sesendok makanan depan mulut Ken.
Tak mungkin Ken membuat keributan lagi. Ken membuka mulutnya. Rumi tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Naila tajam.
" Biar gue makan sendiri." Ujar Ken masih terdengar lemas.
" Udah gak papa. Biar gue suapin." Ucap Rumi memaksa.
Arsyi melihat ke arah Ken dan Rumi. " Lebih cocok sama Rumi." Ucap Arsyi.
Diam- diam Zara ikut memperhatikan dengan tatapan sendu.
" Udahlah.. Apapun pilihan Ken. Kita dukung aja." Ujar Alfi yang mendengar pembicaran Desta dan Arsyi.
" Tapi Ken. Naila gak sebanding sama Ken. Udah umur masih kecil. Gak dewasa. Udah gitu dia cuma waiters." Arsyi mencemooh Naila.
" Apapun itu. Pasti ada sesuatu yang menurut Ken dia lebih baik di bandingkan wanita manapun." Ucap Alfi tetap membela Ken.
Ken memang menerima suapan dari Rumi. Tapi matanya tak lepas dari sosok Naila yang tetap duduk diam di hadapannya. Sesekali Ken menggoda Naila dengan mencubit lembut pipinya. Rumi hanya melirik dengan wajah kesal.
" Nah.. Kan abis kalo di suapin." Ucap Rumi menyindir Naila.
" Thanks." Ucap Ken singkat.
Rumi kembali mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan duduk di dekat Arsyi.
__ADS_1
" Di suapi mau. Tapi masih aja godain cewek itu di depan gue!" Rutuk Rumi kesal.
" Sabar.. Cinta butuh proses, Rum." Ucap Arsyi seolah mendukung Rumi.
" Waktu gue gak banyak. Dua bulan dan ketemu juga jarang!" Rumi terlihat kesal.
" Kalo Ken gak mau. Jangan dipaksa." Sahut Desta.
" Iihhh laki lo ngeselin!" Omel Rumi dan menjauh dari Arsyi.
Bagaimana Rumi tidak kesal. Saat Ken dan dia pertama kali bertemu dan makan malam di sebuah restoran. Naila bekerja di sana. Dan parahnya lagi. Naila tidak sengaja menumpahkan minuman yanh di pesan Rumi saat itu. Rumi yang memang sedikit temperamen menjadi kesal dan marah- marah pada Naila yang sudah berulang kali meminta maaf. Di sanalah awal pertemuan Ken dan Naila.
*******
Naila terlihat murung sejak pulang dari rumah Desta. Senyum yang biasanya selalu terlihat di wajahnya. Kini senyum itu menghilang. Ken menghentikan mobilnya di depan kost Naila. Ken tidak segera turun dari mobilnya untuk membukakan pintu. Ken menatap Naila lekat. Tatapan penuh kehangatan.
" Ada apa? Dari tadi cemberut aja." Tanya Ken lembut dan mengelus pipi Naila.
" Teman- teman kamu gak suka sama aku." Ucap Naila dengan wajah manyunnya. " Aku udah berusaha jadi yang terbaik di depan mereka. Tapi kenapa mereka begitu."
Ken menyunggingkan senyumnya. " Tetap jadi diri kamu sendiri." Ujar Ken.
" Aku takut mereka akan menjauhi kamu kalo kamu menikah dengan aku!" Ucap Naila masih merasa kesal, " Aku cuma seorang gadis kampung yang merantau ke kota jadi seorang waiters. Dunia kita emang beda banget. Bagaikan bumi dan langit. Aku cuma tamatan SMA di kampung sedangkan kamu tamatan S2 Luar negeri pula. Warisan aku cuma lahan pertanian. Sedangkan kamu kerajaan bisnis papa kamu sudah ada di tangan." Naila menyebutkan perbedaan mereka yang memang sangat jomplang.
" Keluarga kamu, teman- teman kamu. Selalu bertanya, apa kamu yakin mau nikah sama gadis kaya aku?. Apa mereka gak mikir kalo aku bisa tersinggung dengan ucapan mereka?!" Naila mulai menitikkan air matanya. " Apa aku terus tertawa dan selalu terlihat masa bodo apapun yang mereka katakan. Membuat mereka berpikir kalo aku gadis yang bodoh yang gak ngerti maksud ucapan mereka?!" Naila terisak.
" Sssttt.." Ken menyeka air mata Naila dengan lembut. Di tatapnya lekat kedua manik mata hitam Naila yang basah. " Apapun yang mereka katakan. Gak akan merubah keputusan aku."
" Tapi bagaimana dengan mereka?"
" Kamu akan menikah dengan siapa?" Tanya Ken.
" Kamu."
" Lupakan ucapan mereka. Yang terpenting aku akan selalu berusaha melindungi kamu." Ujar Ken.
Naila memeluk Ken dengan erat. Ken memang selalu bisa membuat hatinya tenang.
" Jangan marah- marah lagi." Bujuk Ken dan melerai pelukan mereka. Tidak enak jika ada yang melihat. Nanti disangka orang. Mereka sedang berbuat mesum.
__ADS_1