
Zara termenung duduk termenung di halaman belakang rumahnya. Menghabiskan waktu di bangku taman. Meskipun Alfi begitu tulus mencintainya. Entah kenapa Zara merasa sepi. Hatinya terasa hampa. Zara menghembuskan nafas berat untuk melegakan rasa sesak di dadanya. Kenapa ini harus terjadi padanya. Kenapa selalu bayang Ken yang selalu terlintas dalam hati dan pikirannya.
" Sayang." Panggil Alfi yang baru saja pulang dari kantornya.
Zara menoleh sekilas dan tersenyum tipis.
" Aku kira kamu kemana. Ternyata kamu disini." Ucap Alfi dan memberikan bingkisan yang dibawanya.
" Apa ini?" Zara penasaran dan membuka bingkisan itu. Ada sekotak perhiasan keluaran terbaru. Zara tersenyum getir melihat semua keindahan dan kemewahan yang diberikan Alfi.
" Kamu suka?" Tanya Alfi dengan mata berbinar.
" Suka. Tapi aku lebih suka kalau kamu menabung saja." Ucap Zara.
" Ini juga bisa dijual lagi. Yaa anggap aja aku menabung sambil mempercantik istri." Ucap Alfi senang.
Zara menutup kembali kotak perhiasan itu dan sejenak menunduk. Zara mengambil nafas panjang. " Aku ingin cerai." Ucap Zara.
" Apa?" Alfi sedikit terkejut.
Zara mengangkat wajahnya dan menatap manik mata Alfi yang tampak kebingungan.
" Pernikahan ini menyiksa kita, Al." Ucap Zara dengan suara tercekat. Ya.. Wanita mana yang ingin bercerai dari suami yang begitu baik. Tetapi perasaan Zara yang membuatnya tersiksa. Harus melepaskan Alfi. Alfi terlalu baik jika harus terus menelan kecewa.
" Kenapa? Aku sama sekali gak tersiksa, Sayang."
" Aku gak bisa lagi sama kamu, Al." Ucap Zara. Tangisnya pecah.
" Aku sangat mencintaimu, Zar." Alfi mengiba. " Aku gak akan pernah menceraikan kamu." Ucap Alfi lagi.
" Aku gak mau bikin kamu kecewa."
" Kalo ini semua karena Ken. Aku udah tau semuanya, Zar. Aku bahkan gak masalah kalau kamu mau menjalin hubungan dengan Ken dibelakangku. Asal kamu tetap denganku, Zara." Ucap Alfi kini bersimpuh di depan Zara.
" Aku sangat mencintai kamu, Zara." Ucap Alfi lagi.
Zara hanya diam tak menanggapi ucapan Alfi. Entah harus bilang apa lagi agar Alfi mau menceraikannya. Ini gila. Bahkan Alfi mengizinkan dia berselingkuh dengan Ken.
" Aku akan meminta Ken ke sini. Kamu tunggu ya." Ucap Alfi dan mengambil ponselnya dari saku jas.
" Jangan, Al." Zara mencegah.
" Aku akan telepon Ken." Ucap Alfi dan tetap menghubungi Ken.
Tak berselang lama. Ken datang dengan wajah bantalnya. Yaa saat Alfi menghubunginya. Ken memang sedang tidur. Badannya terasa lelah. Beberapa hari belakangan dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum meninggalkan perusahaan Alfi.
" Al." Panggil Ken berkeliling mencari Alfi.
__ADS_1
" Taman belakang, Ken." Sahut Alfi berteriak.
" Gue harus ngapain nih. Mana yang mau diangkat?" tanya Ken karena Alfi mengatakan butuh bantuan Ken untuk memindahkan beberapa barang.
" Sini dulu lah." Ucap Alfi memaksa Ken mendekat.
Dengan enggan. Ken mendekati Alfi yang berdiri dan ada Zara yang duduk di bangku taman.
" Ada apaan?" Tanya Ken dengan tatapan mata tajamnya dan berhenti sedikit menjauh dari mereka.
" Gue butuh lo jadi pacar Zara." Ucap Alfi tak kalah menatap Ken tajam.
Ken menarik bibir sebelahnya seolah mencibir. " Ngaco!" Sanggah Ken.
" Gue gak mau kalian terus umpet- umpetan dari gue."
" Apanya yang umpet- umpetan?!" Ken tak suka mendengar ucapan Alfi. " Gue gak pernah ada hubungan sama istri lo!"
" Udahlah Ken. Ini demi kebaikan pernikahan gue. Terima aja tawaran gue." Alfi memaksa.
" Sakit jiw* nih orang!" cibir Ken kesal dengan sikap Alfi dan segera pergi meninggalkan Alfi dan Zara.
" Ayolah!" Alfi menarik baju Ken dari belakang mencegah Ken untuk pergi.
" Ngaco lo!" ken melepaskan tangan Alfi dan kembali berjalan.
" Ini yang terakhir gue bilang. Sampai kapan pun. Gue gak akan mau sama Zara." Ken mempertegas ucapannya dan melepaskan Alfi kemudian langsung pergi dari rumah Alfi.
******
Ken menyambangi ruangan Alfi dengan beberapa berkas yang dia bawa di tangannya. Tanpa mengetuk pintu. Ken meletakkan berkas- berkas itu di meja Alfi.
" Semua laporan dan proposal udah gue kerjain semua. Ini hari terakhir gue!" Ucap Ken tajam dan berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Alfi.
Alfi yang terperangah membeku sebentar dan langsung bergegas mengejar Ken saat menyadari ucapan Ken. Ken membanting kasar pintu ruangannya. Sejak semalam. Suasana hatinya tidak baik.
" Elo masih ada seminggu kerja di sini, Ken. Gak bisa lo keluar seenaknya." Ucap Alfi mencari alasan untuk menahan Ken.
" Gue gak peduli."
" Ohh kalo gitu lo harus bayar pinalti."
" Berapa?" Sahut Ken cepat membuat Alfi terdiam.
" Ayolah Ken. Semalam Gue cuma emosi." Alfi mencoba menjelaskan.
Ken tak bergeming.
__ADS_1
" Semalam Zara minta cerai. Tapi gue gak bisa lepasin dia Ken. Gue tau kalo Zara masih cinta sama lo. Gue mau dia bahagia tapi gue gak bisa lepasin dia, Ken." Alfi menjelaskan dengan wajah memelas.
" Elo pikir dia akan bahagia dengan punya hubungan sama gue?" Sergah Ken kesal.
" Zara akan bahagia bersama orang yang dia cinta."
" Gimana sama lo?"
Alfi menarik nafas dalam. Menahan segala rasa sakit yang dia rasakan di hatinya. " Gue akan bahagia kalo dia bahagia." Ucap Alfi dengan senyum getir.
Ken memegang bahu Alfi seraya memberikan kekuatan dan dukungan untuk Alfi. " Lepas Zara. Elo pasti akan bertemu dengan wanita yang jauh lebih pantas buat lo perjuangkan." Ucap Ken.
" Ken.."
" Gue udah punya Kinan, Al. Dan gue gak ada niat buat hidup sama Zara." Ujar Ken dingin.
Alfi menunduk dengan wajah sedihnya. Kecewa sudah pasti. Sekuat apapun Alfi berusaha. Tetap Ken yang ada di hati Zara.
*******
Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ken yang baru saja sampai di apartemennya melemparkan tas kerja ke sofa dan menghempaskan dirinya begitu saja di atas sofa. Seharian ini pikirannya terasa sangat penuh dengan cerita Alfi. Kenapa harus begini. Kenapa harus ada dia di hati Zara. Ken seakan menyesali suatu hal yang tak dia lakukan.
' Ting tong'
Ken menghela nafas dan berjalan ke arah pintu dengan gontai. Tubuhnya terlalu lelah untuk menerima tamu saat ini.
" Ken." Panggil Zara lembut ketika pintu baru saja dibuka Ken.
" Mau apa?"
" Boleh aku masuk?"
" Cukup di sini dan seperti ini." Tolak Ken dingin.
" Aku sudah bicara dengan Alfi. Aku gak bisa terus nyakitin dia." Ucap Zara dengan wajah yang sedikit pucat.
" Lalu apa hubungannya sama gue?" Ken bersidekap dada menatap Zara tajam.
" Aku tau kamu tetap gak akan mau dengan aku. Seenggaknya aku harap aku gak lagi menyakiti Alfi." Ucap Zara. Tangannya mulai memijat keningnya.
" Lalu?"
" Biarkan aku...."
' Bruk'
Tubuh Zara ambruk begitu saja di depan apartemen Ken.
__ADS_1