Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
56


__ADS_3

" Al. Gue minta maaf. Kondisi bayi Zara lemah dan harus segera di lahirkan. Karena kalo kita tunda bisa membahayakan Zara juga." Ujar Ken.


Alfi terdiam dan terdengar menarik nafas panjang. " Elo udah lakuin hal yang benar, Ken. Gue udah di bandara. Mungkin Sepuluh menit lagi gue take off."


" Oke. Hati- hati di jalan."


Ken menutup panggilan telepon Alfi dan beralih menjawab panggilan Kinan.


" Bagaimana keadaan Zara?" Tanya Kinan panik. Ken baru menceritakan bahwa Zara jatuh dan dia melarikan Zara ke rumah sakit.


" Udah stabil. Tapi sekarang Zara lagi di operasi untuk mengeluarkan janinnya."


" Kehamilan Zara baru tujuh bulan Ken." Kinan tak percaya.


" Ini harus dilakukan untuk keselamatan keduanya." Ucap Ken dan langsung menutup panggilan telepon Kinan.


Ponsel Ken kembali berdering. " Ada apa?"


" Haruskah aku ke sana?"


" Tidak perlu. Kamu temani Caca aja." Ucap Ken. Ken menahan tangisnya. Tanpa ucapan apapun. Ken kembali menutup panggilan telepon Kinan. Dia tidak sanggup lagi untuk bicara. Ken hanya mampu berharap. Anak Zara dan Alfi bisa selamat. Bayangan raut bahagia Alfi ketika memberikan kabar bahwa Zara hamil. Masih terbayang jelas dimata Ken. Entah bagaimana kondisi hati Alfi saat ini.


Satu jam berlalu. Zara terlihat sudah selesai melaksanakan operasi dan di pindahkan ke ruang rawat inap. Bayi Alfi dan Zara terlahir dengan selamat. Namun kondisinya sangat lemah hingga harus mendapatkan perawatan yang intensif .


Ken menghampiri bayi mungil sebesar botol sirup yang sudah terpasang berbagai macam alat kedokteran untuk menopang hidupnya. Tanpa terasa. Air mata Ken jatuh begitu saja. Anak yang baru di lahirkan kedunia harus berjuang mempertahankan hidupnya. " Kamu harus kuat sayang." Ucap Ken dengan suara bergetar. Kemudian para perawat membawa bayi mungil itu ke ruang perawatan khusus.


Melihat kondisi bayi Alfi dan Zara membuat Ken kembali terkulai di kursi ruang tunggu. Ken menarik nafas dan mengusap wajahnya. Dia kuatkan dirinya sebisa mungkin dan berjalan menuju kamar Zara di rawat.


Zara masih terlihat tertidur karena pengaruh obat bius. Selang infus masih terpasang. Ken duduk di kursi samping ranjang Zara dan menatap istri sahabatnya yang terlihat pucat.


*******


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Perlahan. Zara membuka matanya. Terlihat Alfi sedang tidur dalam posisi duduk di kursi samping ranjangnya dan terlihat Ken juga tertidur di sofa kecil yang ada di kamar tersebut.


" Alfi.." Panggil Zara dengan suara lemah.

__ADS_1


Alfi tak bergeming.


Zara melihat sekitarnya. Dan selang infus yang terpasang pada pergelangan tangannya. Namun Zara terpaku mendapati perutnya yang sudah rata dan mulai terasa perih.


" Hikz..." Zara terisak menangisi perutnya yang rata.


" Zar." Ken terbangun mendengar isak tangis Zara. Ken mendekati Alfi dan membangunkan Alfi.


" Kenapa sayang?" Alfi segera mengelus lembut tangan Zara.


" Anak kita.... Hikzzz...."


" Terpaksa anak kita harus segera dilahirkan. Sekarang dia lagi ada di ruang perawatan." Ucap Alfi menenangkan hati Zara.


" Benarkah?"


" Iya." Jawab Alfi dengan tatapan teduhnya.


Zara terlihat sedikit tenang dan beralih menatap Ken. " Terima kasih banyak, Ken." Ucap Zara dengan tatapan sendu.


" Ken." Alfi menahan langkah Ken. Ken menoleh ke arahnya. " Besok bisa gantiin gue sebentar?"


" Al.."


" Plis Ken. Cuma sebentar. Gue harus ambil beberapa perlengkapan Zara dan bayi kami." Alfi memaksa.


" Oke." Ken akhirnya mengiyakan. " Istirahat yang banyak. Elo abis pendarahan, Zar." Pesan Ken.


Zara tersenyum dan melihat Ken yang kemudian keluar dari kamarnya.


******


Entah kenapa rasanya malam ini berlalu dengan cepat. Ken membuka matanya yang masih terasa berat karena ponselnya terus saja berdering hingga membuatnya terbangun.


" Halo." Ucap Ken dengan suara parau tanpa melihat siapa sang penelepon.

__ADS_1


" Ternyata ini benar nomor lo ya." Ucap seseorang di seberang telepon sana.


Ken mengernyitkan dahinya dan segera melihat layar ponselnya. Panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.


" Siapa lo?" Tanya Ken dengan nada tegas.


" Santai Kenryu. Elo pasti akan inget siapa gue ketika gue bilang ANAK HARAM!" Ucapnya penuh penekanan di akhir kalimatnya.


" Riko." Tebak Ken. Pria itu tertawa puas. Yaa. Siapa lagi yang suka menghina Ken dengan sebutan itu jika bukan Riko. Teman saat Ken duduk di sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.


" Oh iya. Elo kenal Kinan kan? Ahh pasti kenal lah. Dia kan tunangan lo. Hemmm gimana kalo gue ganggu juga tunangan lo."


Ken langsung merubah posisinya . " Mau lo apa?"


Riko terdengar tertawa mendengar Ken seperti ingin bernego dengannya.


" Simpel. Gue cuma pengen elo merasa kehilangan. Sama seperti elo mencabut langsung proyek kerja sama kita!" Ujar Riko.


" Kinan gak ada kaitannya dengan itu!" Ken mempertegas ucapannya.


" Ahh elo takut rupanya. Tenang aja. Gue cuma mau sedikit bermain sama lo." Ujar Riko dan kemudian menutup panggilan teleponnya.


Ken segera menghubungi Kinan. Namun, berkali- kali Kinan tidak menjawab panggilan teleponnya. Akhirnya Ken memutuskan menghubungi Caca.


" Ca. Kinan dimana?" Cecar Ken saat Caca menjawab panggilan teleponnya.


" Kinan udah balik sepuluh menit yang lalu. Ada apa Ken? Panik banget." Jawab Caca.


" Kok dia gak minta gue jemput."


" Dia gak mau ganggu lo tidur. Makanya dia langsung balik. Katanya nanti siang dia mau ke apartemen lo." Ucap Caca lagi.


Ken menggaruk kepalanya dengan gelisah. " Kalau ada kabar dari Kinan. Hubungi gue segera." Ucap Ken.


Ken kembali menghubungi Kinan lagi dan kali ini di angkat. Namun, terdengar Kinan menjerit ketakutan dan terdengar beberapa orang pria sedang tertawa.

__ADS_1


" JANGAN SENTUH DIA!!!!" Teriak Ken tidak peduli orang di seberang sana mendengarkan atau tidak.


__ADS_2