
Perlahan Ken membuka matanya. Suasana di apartemen Kinan tampak sepi. Ken mencoba untuk bangun. Ken melihat lukanya sudah di jahit kembali. Sambil menahan perih. Ken keluar dari kamar.
" Ken. Kamu udah sadar?" Ucap Zara senang ketika melihat Ken berdiri di ambang pintu kamar.
" Alfi mana?" Tanya Ken.
" Duduk dulu." Zara membantu memapah Ken duduk di sofa.
" Kinan mana?" Tanya Ken lagi.
Zara duduk di samping Ken dan menatapnya lekat . " Alfi sudah membawa Kinan di aula lantai LG. Pihak pengelola apartemen mengarahkan ke sana." Ucap Zara.
Ken menunduk. Ternyata yang dia alami adalah nyata dan bukan sekadar mimpi. Ken membuang nafasnya kasar dan kembali mengangkat wajahnya.
" Gue harus ke sana." Ucap Ken menguatkan dirinya.
" Biar aku telepon Alfi." Ucap Zara.
" Gue sendiri aja." Ucap Ken dan bangkit.
Zara yang merasa cemas. Terpaksa membantu Ken dan meninggalkan Arkan yang tertidur pulas sebentar di apartemen.
Entah kenapa dadanya kembali berdesir berada sedekat ini dengan Ken. Sebisa mungkin Zara mengabaikan perasaannya.
" Kamu harus sabar dan kuat, Ken." Ucap Zara.
" Seandainya Kinan gak pernah sama gue. Dia pasti masih baik- baik aja." Sesal Ken. " Harusnya gue gak sekeras kepala itu." Air mata Ken kembali berguguran walaupun Ken sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis.
Sesampainya di ruangan aula. Sudah dipenuhi para pelayat. Mulai dari teman- teman kuliah hingga para kerabat Ken dan juga Kinan. Alfi sebisa mungkin menghubungi semua orang yang ada dalam kontak ponsel Kinan.
Ken jalan perlahan di bantu di papah Zara menuju tubuh Kinan. Orang yang melihat Ken terus menatapnya dengan tatapan iba. Beberapa kali Ken menarik nafasnya dalam untuk melegakan sesak yang ada dalam dadanya.
" Kenapa gak telepon aku dulu?!" Ucap Alfi dan lamgsung menggantikan Zara memapah Ken.
" Ken gak mau nunggu." Ucap Zara.
Ken berdiri terpaku melihat tubuh Kinan tertutupi kain dan kerudung putih pada bagian wajahnya. Dengan mengucap basmalah dan menguatkan hatinya. Ken membuka penutup wajah Kinan. Terlihat wajah Kinan bersih dan tampak tersenyum. Ken hanya diam mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terasa kelu. Ken hanya mampu memanjatkan doa dalam hatinya.
__ADS_1
" Kamu harus kuat, Ken." Sandra dan Anton menghampiri Ken. Ken hanya diam tak bergeming. Telinganya seolah tuli matanya terpaku menatap Kinan.
" Kita tinggal tunggu ayah Kinan Setelah itu kita bisa kebumikan Kinan." Ucap Alfi menjelaskan pada Ken.
Satu persatu pelayat yang mengenal Ken dan yang mengetahui hubungannya dengan Kinan. Mendatangi Ken dan berusaha menghibur Ken. Ken hanya mengucapkan terima kasih tanpa mengingat siapa yang datang dan apa yang mereka katakan.
*******
Kinan telah dikebumikan setelah kedatangan ayahnya. Caca juga tampak menghadiri pemakaman Kinan dengan dikawal polisi. Ken kembali ke apartemennya sendiri dengan ditemani sahabat- sahabatnya. Ken yang sejak tadi hanya diam. Alfi dan Desta menyodorkan makanan pun tak disentuhnya sama sekali.
" Ken. Jangan terlalu di sesali." Ucap Alfi. " Semua ini bukan kesalahan lo." Ucap Alfi.
" Iya Ken. Kinan sekarang udah tenang. Ikhlasin Ken." Sahut Desta.
Ken menarik nafas dalam. " Gue masih gak nyangka aja. Secepat itu racunnya bekerja." Ujar Ken penuh penyesalan. " Kinan selalu aja nolak buat di rawat inap. Gue pengen dia sembuh. Tapi dia..." Ken tak mampu melanjutkan kata- katanya dan hanya menarik nafas dalam.
" Kinan punya alasan lain mungkin."
" Baru tadi pagi kita ngebahas hubungan kalian." Sahut Zara yang datang dari arah dapur dengan membawa empat cangkir cappuccino di atas nampan dan menyuguhkan pada Ken, Desta, Alfi dan untuk dirinya sendiri. " Kinan seperti udah punya firasat jika waktunya gak lama. Dia mau kamu bahagia Ken. Itu aja," Ucap Zara.
" Makan dulu Ken."
" Males." Tolak Ken dan masuk ke kamar tidurnya. Membuat Alfi dan Desta menarik nafas. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Ken bukan orang yang bisa dipaksa. Semakin dipaksa. Dia akan semakin enggan melakukannya.
*******
Seminggu setelah kepergian Kinan. Ken mendatangi polsek tempat Caca ditahan. Ken memutuskan untuk mencabut laporannya. Sekalipun Caca ditahan. Tak akan mengembalikan Kinan. Ken hanya berharap jika Caca bisa menjadi lebih baik lagi.
Caca mendatangi Ken dengan wajah tertunduk dan penuh penyesalan. Kematian Kinan membuatnya sangat terpukul. Ken hanya menatap Caca datar.
" Ken." Tangis Caca langsung pecah.
" Dengan menangis gak akan mengembalikan Kinan lagi." Ucap Ken dengan nada dingin.
" Aku benar- benar menyesal Ken." Ucap Caca dengan tangis meratap.
Ken menyunggingkan senyum tipis. " Syukurlah kalo lo menyesal. Jadikan ini semua cambuk buat lo jadi lebih baik." Ucap Ken.
__ADS_1
" Gak ada yang sesayang itu ke gue selain Kinan. Sementara waktu gue dibutakan sama cinta sampai gue tega mau memb*nuh dia." Ucap Caca diselingi isak tangisnya.
" Gue kesini cuma mau kasih tau ke elo. Gue udah cabut semua laporan dan tuntutan gue ke elo. Gue lakuin ini semua semata karena Kinan." Ucap Ken dingin.
Caca menatap Ken tak percaya.
" Berkali- kali Kinan selalu mempertimbangkan buat bebasin elo. Dia gak tega ngeliat lo jadi pesakitan seperti ini." Ucap Ken dengan suara tercekat. Kinan memang memiliki sifat yang keras. Tapi hatinya sangat lembut.
Air mata kembali menetes membasahi pipi Caca mendengar ucapan Ken.
" Lo tau. Racun yang lo kasih. Bekerja dengan sempurna. Gue dan Kinan menutupi dari semua. Cuma gue dan Kinan yang tau perbuatan lo!" Ujar Ken. " Jantung Kinan berhenti mendadak. Itu udah diperkirakan dokter. Tapi gue gak sangka akan secepat itu."
" Ken..."
" Gue gak butuh penjelasan apapun dari lo. Setelah lo bebas. Lo bisa melanjutkan hidup lo dan jangan pernah nampakin muka lo di depan gue!" Ucap Ken tegas dan tanpa permisi meninggalkan Caca yang terpaku.
*******
" Dar mana lo?" Tanya Alfi yang sudah tiba lebih dahulu di apartemen Ken. Alfi memang memegang satu kunci cadangan milik Ken.
" Kantor polisi." Ucap Ken datar dan meletakkan begiti saja kunci mobil miliknya di atas meja.
Ken menjatuhkan dirinya begitu saja di atas sofa santai dan mengusap wajahnya.
" Ngapain?"
" Cabut laporan." Jawab Ken.
" APA?!!" Seru Alfi dan Zara yang memang sejak tadi hanya diam terkejut.
" Elo stress? Dia yang udah bikin Kinan meninggal!" Protes Alfi keras.
Ken menyunggingkan senyum. " Ini permintaan terakhir Kinan. Dan menurut gue ada benarnya."
" Maksudnya?" Zara tak mengerti.
" Cara terbaik membalas kejahatan adalah dengan berbuat baik." Jawab Ken dengan wajah yang jauh lebih tenang. " Gak menyimpan dendam adalah pilihan terbaik dalam hidup gue." Sambung Ken kembali.
__ADS_1