
Agatha menatap Ken nanar dan mematung di ambang pintu. Senyum manis yang tadi dia tebarkan mendadak menghilang karena sikap acuh Ken. Alfi hanya diam sesekali memperhatikan Ken yang langsung menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
" Apa kamu tidak memberiku kesempatan?" Pinta Agatha.
" Apa kamu gak sadar dengan perut besarmu?" Sergah Ken dingin tanpa menatap Agatha.
Agatha tertunduk sedih mendengar ucapan dingin Ken. " Roy pergi. Dia ingkar, Ken dengan tanggung jawabnya. Bayiku sebentar lagi lahir dan dia butuh seorang ayah." Ucap Agatha dengan tangis buayanya. Selalu saja dia ingin memenangkan hati Ken dengan air mata.
Ken beralih menatap Agatha sambil tersenyum penuh arti. " Aku gak ada kaitannya dengan bayi yang kamu kandung."
" Tapi Ken, aku masih sayang sama kamu...
" Tapi aku enggak!" Sanggah Ken tajam dan menohok. Ken langsung menekan nomor ext security dan meminta mereka untuk membawa Agatha pergi dari ruangannya.
Enak saja. Siapa yang berbuat siapa yang bertanggung jawab.
" Kenapa lo bisa pacaran ama dia. Cewek aneh begitu."
" Dulu gak seaneh sekarang." Sanggah Ken. " Balik sana. Penuh-penuhin ruangan gue aja lo!" Omel Ken pada Alfi yang masih betah berdiam di ruangan Ken.
" Si*l*n!" Maki Alfi dan beranjak dari ruangan Ken.
********
Desta membantu Ken membawa beberapa barangnya untuk pindah ke apartemen yang sudah di siapkan Akihiro untuknya. Sebuah unit Apartemen yang besar dan mewah di kawasan yang juga cukup elit. Mata Desta ikut berkeliling memandang takjub dengan dekorasi ruangan. Ini pertama kalinya Desta menginjakkan kaki di apartemen Ken setelah selesai di renovasi.
" Gokil.. Duit bokap lo kayanya emang gak ada limitnya Ken." Ujar Desta memandang takjub.
Nuansa ruangan yang berwarna putih di beri sentuhan aksen gold. Ken hanya memandang biasa saja dengan apa yang sudah disiapkan ayahnya. Terlalu berlebihan jika menurut Ken.
" Rumah gue kalah mewah." Tambah Desta berdecak kagum.
" Biasa aja lah." Ujar Ken sambil menata bajunya ke dalam lemari besar yang ada di kamar utama.
" Ini kasur terlalu luas Ken. Elo kan tidur sendiri doang." Ledek Desta.
" Bawel."
" Gak nyangka. Ternyata Ken jauh lebih kaya dari pada gue dan Alfi." Ucap Desta sambil terkekeh.
__ADS_1
" Lebay."
" Elo kenapa sih. Gak mau banget di puji."
" Biasa aja. Ini punya bokap gue. Bukan punya gue." Ucap Ken dan meletakkan beberapa buku yang biasa dia baca.
" Ya ampun, Ken. Buku buluk masih aja di simpen." Ledek Desta.
" Buluk juga berharga." Ken langsung merebut kembali buku lusuhnya dari tangan Desta. Membuat Desta terkekeh.
" Credit card yang dari bokap lo gak di pake, Ken?"
" Engga. Buat apaan juga."
" Sini gue pake."
" Enak aja!" Omel Ken. " Alfi jadi ke sini?"
" Jadi. Nah. Panjang umur." Ucap Desta karena terdengar suara bel berbunyi.
Desta bergegas membukakan pintu. Benar saja jika Alfi yang datang. Namun kedatangan Zara yang ikut juga. Membuat Desta terdiam dan menarik nafas dalam.
" Taro aja Al." teriak Ken dari dalam.
Desta langsung masuk ke kamar Ken dan menghampiri Ken yang baru saja selesai menata jam tangan serta dasinya.
" Zara ikut." Bisik Desta.
" Apa?!" Ken terkejut. Karena dia sudah bilang pada Alfi. Jangan ajak Zara.
Ken langsung keluar kamar dan menemui Alfi. Tak dipedulikannya Zara yang melemparkan senyum pada Ken.
" Kok elo ajak Zara?" Tanya Ken tanpa berbasa basi pada Alfi.
" Kasian Ken kalo gue tinggal. Zara sendirian." Alfi beralasan.
" Elo tau kan kalo gue beneran menetap di sini!"
Alfi menarik nafas dalam. Serba salah juga posisinya. Di satu sisi Ken tidak ingin Zara tahu tempat tinggalnya. Di sisi lain, Zara sebagai istrinya merengek ingin ikut ke rumah Ken.
__ADS_1
" Apa kamu menghindar dari aku?" Tanya Zara akhirnya membuka suaranya.
" Ya." Jawab Ken cepat.
" Kalau begitu aku pulang sekarang." Ucap Zara dengan suara mulai lirih.
" Silahkan. Dan jangan pernah kembali ke sini!" Ucap Ken tajam.
" Dia istri gue, Ken!" Omel Alfi tak terima melihat sikap Ken begitu ketus pada Zara.
" Karena gue tau dia istri lo!"
" Gue baik sama lo. Lo juga harus baik ke istri gue!" Maki Alfi lagi.
Ken menarik nafasnya dalam mencoba mengatur emosinya. " Gue sangat menghargai elo sebagai suami Zara. Itu sebabnya gue harus menjauh dari Zara." Ken ingin Alfi mengerti tanpa harus dia jelaskan semuanya.
" Gue tau, Zara masih suka sama lo. Tapi bukan berarti elo bisa usir dia seenaknya di depan gue!" Maki Alfi kesal pada Ken.
Tangan Ken mulai mengepal. Tak mungkin jika dia mengatakan yang sebenarnya. Kejadian yang dulu saat Zara secara tiba- tiba datang ke kosannya. Biar bagaimana pun. Ken lelaki normal yang tak bisa menahan terus hasratnya jika selalu di pancing.
" Udah- udah." Desta menengahi. " Elo harusnya paham posisi Ken. Al."
" Gue udah coba sabar selama ini ya." Alfi kesal dan melayangkan begitu saja pukulannya pada Ken.
Ken hanya diam tak ingin membalas. Biar bagaimanapun. Alfi sudah Ken anggap sebagai saudaranya.
" Gue udah cukup sabar. Elo selalu ada di pikiran istri gue, Ken!" Maki Alfi sambil menunjuk wajah Ken.
" Harusnya elo bisa lebih menjaga istri lo biar dia gak pernah tau dimana tempat tinggal gue!" Ken maju selangkah mendekat ke arah Alfi.
Dengan sigap. Desta langsung berdiri di tengah antara Alfi dan Ken. " Udahlah. Sekarang gini aja, Ken. Kalo Zara tiba- tiba kesini. Yaudah. Lo apain aja dah tuh perempuan." Ucap Desta. " Dan Lo! Sekali lagi lo mukul Ken buat ngebela istri lo yang udah jelas- jelas masih ngejar Ken. Gue yang akan bales lo, Al!" Ancam Desta dan langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video dari cctv di rumahnya yang menyorot area dapur.
Alfi tercengang melihat kelakuan Zara yang agresif.
" Ini alasan Ken gak mau Zara tau tempat tinggalnya." Desta menambahkan.
" Gue pastikan. Zara akan bayar semuanya." Ucap Alfi dengan mata memerah dan segera keluar dari apartemen Ken.
Harga dirinya sebagai lelaki dan sebagai seorang suami. Seakan terkoyak melihat istrinya dengan mudahnya mencium sahabatnya.
__ADS_1
" Jangan sampe Alfi berbuat konyol." Ucap Ken dan menarik Desta untuk mengikuti Alfi.