Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
87


__ADS_3

Perlahan Ken melepaskan kecupannya pada bibir Naila. Naila menatap Ken tak mengerti. Ken dan Naila memang hanya melakuannya sebatas berci*man saja. Ken tak ingin memaksakan kehendaknya jika Naila belum merasa siap.


Ken menyeka bibir Naila yang basah karenanya. Ken melemparkan senyum pada Naila. " Maaf, sayang." Ujar Ken.


Naila menyunggingkan senyum tipisnya. " Apa terjadi sesuatu?" Tanya Naila merasa sikap Ken yang aneh. Ken tak pernah menunjukkan kemesraan di depan keluarganya. Ini di rumahnya juga bukan di kamar juga ngga. Tetapi Ken menciumnya begitu saja seolah tak lagi memikirkan keadaan sekitarnya.


" Tidak ada." Jawab Ken singkat. Tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya keadaan hatinya yang saat ini terjadi. Pergulatan batinnya berjuang lebih keras daripada dulu.


Nail mengelus lembut pipi Ken dan menatapnya lekat. " Aku cinta sama kamu." Ungkap Naila.


" Aku juga." Ken mengecup kening Naila.


Zara yang sejak tadi diam- diam memperhatikan pasangan tersebut hanya mampu menahan tangisnya agar tak pecah. Hatinya sungguh hancur melihat Ken mencumbu wanita lain. Kenapa cinta ini tak kunjung pergi dari hatinya. Zara memegangi dadanya yang terasa sesak.


******


Suasana makan malam tampak berbeda di kediaman Alfi saat ini. Naila yang menyiapkan makan malam mereka kali ini. Zara yang sudah terlihat lebih baik, ikut bergabung bersama Ken dan Naila juga Alfi yang duduk di kursi rodanya.


" Masakan kamu enak, Nai." Puji Alfi begitu suapan pertamanya mendarat di lambungnya.


" Terima kasih." Ujar Naila sedikit tersipu.


Naila membantu Zara meletakkan lauk pauk di piringnya.


" Cukup Nai." Ujar Zara.


" Gimana keadaan mba?" Tanya Zara dengan wajah prihatin.


" Udah jauh lebih baik." Jawab Zara dengan suara yang masih lemah.


" Maaf banget nih. Kita jadi merepotkan kalian." Ujar Alfi meras sungkan.


" Santai. Kaya ama siapa aja." Ucap Ken.


" Kalian menginap?"


Naila melirik Ken untuk menjawab pertanyaan Zara.


" Gue tergantung Naila." Jawab Ken.


Zara beralih kembali menatap Naila.


Naila terlihat gelagapan. " Sepertinya kami pulang, mba." Ucap Naila. Jawabannya lolos begitu saja dari mulutnya. Ken hanya tersenyum. Itulah jawaban yang dia inginkan.


" Nginap aja. Ini udah malam." Ujar Zara membujuk Naila agar mengikuti kemauannya. Zara ingin berbicara empat mata dengan Ken.


" Naila masih beradaptasi, Zar." Ken menyela.


Zara hanya menatap Ken sekilas dan kembali melihat ke arah Naila. " Nginap ya. Aku kesepian. Arkan nginap di rumah neneknya." Zara terlihat memaksa.

__ADS_1


" Mereka masih pengantin baru, sayang." Alfi mencoba menghentikan Zara yang berusaha membujuk Naila. " Biarkan mereka menikmati masa berdua."


Itu yang Zara tidak inginkan. Seminggu sudah terlalu lama bagi Zara membiarkan Ken fokus dengan istrinya.


" Apa ada yang mau lo omongin?" Ken menyela Zara yang ingin mendebat Alfi.


Zara sekilas terpaku mendengar ucapan Ken lalu kemudian dia menggeleng. " Gak ada."


" Oke. Kita pulang. Setelah selesai makan malam." Ujar Ken.


Setelah semua sudah selesai makan malam. Ken membantu Naila membereskan meja makan. Sementara Naila mencuci piring kotor.


" Kamu ke mobil duluan. Nanti aku menyusul." Ujar Ken pada Naila dan mendorong kursi roda Alfi menuju kamar. Ken membantu Alfi untuk tiduran di kasurnya.


" Jadi ngerepotin, Ken." Ujar Alfi merasa tak enak pada Ken.


" Elo anggap gue adik. Maka lo gue anggap abang." Ujar Ken dengan wajah serius. " Bang Alfi." Panggil Ken sambil menahan tawanya. Aneh sekali rasanya memanggil Alfi dengan sebutan abang.


" Si*lan lo!" Sergah Alfi.


" Gue cabut dulu." Ujar Ken dan keluar dari kamar Alfi.


Ken tersentak kaget ketika tangannya tiba- tiba saja ditarik Zara dan menyudutkannya pada dinding yang tak jauh dari kamarnya.


Zara mencium Ken. Entah kenapa Zara tidak bisa menahan rasanya. Untuk yang kesekian kalinya. Zara kembali mengkhianati Alfi. Sejenak Ken seolah menikmati kecupan Zara. Tetapi...


Ken langsung tersadar dan langsung mendorong Zara menjauh darinya. Ken segera menyeka bibirnya yang basah. Ken mengatur nafasnya agar kembali normal. Rasa yang sejak tadi dia tahan. Di bangkitkan kembali oleh Zara.


" Ya, sayang." Sahut Ken dan menghampiri Naila yang berdiri di ambang pintu.


" Kamu lama banget." Omel Naila.


Ken mengelus lembut pipi Naila. " Maaf." Ken membimbing Naila kembali ke mobil. Ken berusaha keras melupakan kejadian barusan.


Berkali- kali Ken menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Bayangan Zara semakin lekat dimatanya. Oh Tuhan. Kenapa di saat dia sudah beristri. Perasaan itu tak bisa dikendalikan.


Naila yang sejak tadi memperhatikan Ken. Menatapnya penuh tanya. Naila langsung mengajak Ken untuk langsung masuk ke kamar mereka. Tak mungkin Naila menanyakan hal ini di depan keluarganya.


" Ada apa sayang?" Tanya Ken merasa dirinya ingin di interogasi istrinya. Naila menarik tangannya begitu saja dan mengajaknya ke kamar.


" Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Zara?" Tanya Naila dengan tatapan menyelidik..


" Gak ada."


" Jangan bohong, Ken." Naila menunjuk wajah Ken dengan tatapan marah.


Ken menyunggingkan senyumnya. Perlahan Ken menurunkan telunjuk Naila dari wajahnya. " Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ken dengan tatapan teduh.


Naila terduduk di tepi kasur samping Ken. " Aku takut kamu menyambut cinta Zara." Ucap Naila dengan wajah sedih.

__ADS_1


Ken terdiam sejenak. " Kamu tau darimana Zara pernah jatuh cinta sama aku?" Tanya Ken.


" Tatapan mata Zara saat ketemu kamu. Saat di rumah sakit. saat kita nikah dan saat tadi." Jawab Naila penuh keyakinan.


Ken tersenyum dan menarik gemas hidung mancung Naila. " Itulah tugas kamu. Membentengi suamimu biar gak berpaling ke wanita lain." Ucap Ken dengan senyum menggoda.


" Maksud kamu?"


Ken mencolek pipi Naila dan kembali mencumbu Naia dengan lembut. Saat yang menegangkan bagi Ken. Perlahan Ken membuka baju Naila. Walaupun awalnya Naila terlihat takut. Tetapi raasa gemetar itu mulai hilang. " Jangan takut sayang. Aku suamimu." Bisik Ken lembut dengan penuh g*irah.


Naila hanya bisa pasrah menyerahkan tubuhnya yang memang sudah resmi bisa Ken nikmati sepenuhnya. Naila berjuang keras menahan traumanya saat Ken menggaulinya dengan sangat lembut. Tak ada sedikitpun Ken berbuat kasar.


******


Laksmi menatap Naila penuh dengan rasa iri ketika melihat Naila keluar dari kamarnya dengan rambut yang basah dan wajah berseri- seri. Wajah Laksmi tampak mengerucut melihat kebahagiaan yang baru saja Naila rengkuh semalam. Laksmi yang tidur bersebelahan dengan Naila dapat mendengar dengan jelas des*han nikm*t Naila semalam.


" Kamu kenapa Laksmi?" Tanya Tejo melihat Laksmi sejak tadi cemberut.


" Gak papa Pa'le." Ucap laksmi dengan perasaan jengkel.


Tak lama. Ken menghampiri mereka dengan rambut yang juga masih terlihat basah. Ken mengelus lembut pucuk kepala Naila dengan lembut. Laksmi yang sejak tadi memandang iri pada mereka. Semakin sebal melihat Ken bersikap mesra pada Naila.


" Besok Kami semua akan pulang." Ucap Tejo mengawali pembicaraan mereka.


" Tapi Laksmi boleh tinggal bersama kalian kan, Nai? Dia mau cari kerja di sini katanya." Ningsih menyela cepat.


" Naila sudah menikah, Ningsih." Tejo menanggapi. " Tak baik rasanya jika Laksmi satu atap dengan mereka." Tejo terlihat keberatan.


" Gak papa, Pak. Rumah kita punya banyak kamar." Ujar Naila.


" Kamu gimana Ken?" Tejo beralih pada Ken.


" Saya bagaimana dengan Naila aja , Pak. Karena seluruh urusan Rumah. Naila yang mengatur." Ujar Ken.


" Nah. Naila aja setuju. Jadi gimana kalo Laksmi kerja di kantor kamu, Ken." Usul Ningsih.


" Sebagai OB mau?"


Naila terlihat menahan tawanya.


" Jangan OB. Kamu kan bosnya. Bisa jadiin Laksmi manajer gitu."


Ken menyunggingkan senyumnya. " Maaf, Bu'de. Tetapi untuk menjadi staff biasa saja. Minimal harus S1. Itupun harus lulus tes." Ken mencoba menjelaskan.


" Gak papa, Ken jadi OB juga gak masalah." Ujar Laksmi.


" Oke. Kamu siapkan aja lamarannya. Nanti biar HRD yang menghubungi." Ucap Ken dengan tenang.


Naila yang malah bersungut- sungut.

__ADS_1


__ADS_2