
Ken melirik jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Ken mengerjakan berbagai macam proposal dan memeriksa beberapa cv yang sudah masuk ke emailnya. Dia harus segera merekrut karyawan untuk membantunya mengurus perusahaan. Ken juga mengecek proposal yang dikirim beberapa perusahaan pada emailnya. Perusahaan yang Ken tangani bukanlah perusahaan kecil. Kansai Group sudah menjadi perusahaan besar yang beberapa cabangnya ada di beberapa negara. Perusahaan yang dulu hanya Ken kenal lewat seminar dan juga beberapa pertemuan dengan para pengusaha mewakili perusahaan Alfi. Kini dia menjadi salah satu pemimpinnya. Bahkan tak pernah Ken bayangkan. Jika dia ternyata pewaris dari itu semua.
Ken meraih ponselnya dan kembali mengaktifkan jaringan selulernya. Ponselnya langsung ramai oleh beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan. Beberapa ada pesan dari Zara dan juga panggilan tak terjawab. Ken hanya membaca pesan dari Zara dan tak membalasnya.
' Dddrrrttt'
Ponsel yang baru saja Ken letakkan kembali di atas nakas. Bergetar. Ken melihat nama Zara tertera pada layar ponselnya. Ken menggeser tombol hijau.
" Ada apa, Zar?" Tanya Ken datar.
" Kamu kemana aja? Nomor kamu gak aktif." Tanya Zara.
" Gue habis periksa beberapa email yang masuk dan juga CV." Jawab Ken jujur.
Ken menuangkan air mineral pada gelasnya.
" Aku mau ketemu kamu." Ucap Zara.
' Uhuk Uhuk Uhuk' Ken yang sedang minum sontak saja tersedak mendengar ucapan Zara.
" Kapan?" Tanya Ken setelah batuknya mereda.
" Besok. Kamu bisa?"
Ken berpikir sejenak. " Ya. Dimana?"
" Biar aku ke apartemen kamu. Aku akan ajak Arkan juga." Ucap Zara.
Deg!
Entahlah kenapa Ken jadi merasa dirinya sedang berselingkuh dengan Zara. Bertemu secara diam- diam tanpa sepengetahuan Alfi.
" Kita ketemu di luar aja."
" Kalo Alfi lihat atau ketemu orang yang kita kenal gimana?" Ucap Zara sedikit panik. Biar bagaimana pun dia tidak ingin di cap istri yang tidak setia.
" Zar. Kita gak lagi punya hubungan di belakang Alfi. Gue gak mau rebut lo dari dia." Ucap Ken menegaskan dan seolah mengingatkan Zara pada status mereka.
" Iya, Kamu benar. Aku aja yang terlalu PD." Ucap Zara lesu.
" Tetap jadi istri yang baik, Zar." Ucap Ken.
Zara tak lagi menjawab. Hanya terdengar suara tarikan nafasnya.
" Kalo lo mau ketemu ama gue. Silahkan. Tapi jangan sampai Alfi gak tau." Ucap Ken.
" Lalu hubungan kita apa?"
" Gak ada. Cukup sebagai gue yang memang sahabat suami lo." Jawab Ken.
" Gak lebih?"
" Engga." Jawab Ken. " Gue mau tidur dulu. Cape banget." Ucap Ken. " Lo juga tidur. Harus banyak istirahat." Ken menambahkan membuat Zara sedikit tersipu karena merasa diperhatikan Ken.
******
Dengan hati yang riang. Zara menyiapkan sarapan untuk Alfi. Alfi yang baru bergabung di meja makan. Langsung di suguhkan Zara sepiring nasi goreng spesial buatannya sendiri juga segelas jus mangga kesukaan Alfi. Alfi tampak sumringah melihat perlakuan istimewa dari Zara.
" Terima kasih, sayang." Ucap Alfi lembut.
" Hari ini aku harus bawakan kemana bekal makan siangmu?" Tanya Zara.
" Ke kantor saja." jawab Alfi saat dia sudah menelan makanan yang ada di mulutnya.
" Kamu gak ke proyek?"
" Engga. Aku cuma sesekali meninjau lokasi." Jawab Alfi menjelaskan. " Ada apa sayang?" Tanya Alfi ketika melihat raut wajah Zara sedikit berubah.
" Gak ada." Ucap Zara dengan memaksa dirinya untuk tersenyum.
Sepanjang hari Alfi memikirkan sikap Zara tadi pagi. Dia begitu baik menyiapkan segala keperluannya hari ini. Tetapi kenapa saat dia bilang tidak ke proyek. Zara seakan kecewa. Alfi memutar- mutarkan penanya. Alfi mengambil ponselnya dan segera menghubungi Ken.
__ADS_1
" Bisa ke kantor sekarang, Ken?" Tanya Alfi begitu Ken menjawab panggilan teleponnya.
" Ada apa?"
" Gak ada apa- apa. Ke kantor aja dulu." Ucap Alfi sedikit memaksa.
" Males kalo gak ada keperluan."
" Ayolah." Alfi kembali memaksa.
" Ck!" Ken berdecak sebal. " Yaudah ntar gue ke sana."
" Sekarang. Bukan entat!" Alfi menegaskan. Karena dia melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.
" Bentar lagi jam makan siang. Macet!" Sergah Ken malas.
" Ayolah. Gue traktir."
" Aneh lo!" Omel Ken. " Maksa banget!" Ken menggerutu dan akhirnya menuruti perintah Alfi.
Entah kenapa Alfi sedikit gelisah. Dia takut jika tebakannya benar. Entah harus apa lagi yang dia lakukan.
Setengah jam berlalu sudah. Ken belum juga tiba. Alfi melirik pintu ruangannya dengan gelisah. Alfi kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Ken kembali.
" Elo jadi ke sini gak?" Tanya Alfi tak sabar.
" Bawel!" Omel Ken kesal. " Gue udah di lobby. Gue bela- belain naik ojek biar cepet sampe!" Ken masih bersungut- sungut.
" Thank you, Ken. Lo emang sahabat terbaik." Ujar Alfi senang.
Sesampainya di depan ruangan Alfi. Mira, sekretaris Alfi yang baru menyapa Ken dengan ramah dan menanyakan maksud kedatangan Ken.
" Saya sudah ada janji dengan Alfi." Ucap Ken.
" Biar saya konfirmasi dulu, Pak. Silahkan menunggu." Ucap Mira tetap tak mengizinkan Ken masuk.
" Silahkan."
" Sekretaris lo yang baru. TOP!" Ucap Ken ketika masuk ke dalam ruangan Alfi.
" Tegas kan?" Alfi memainkan alisnya naik turun.
" Yup. Gue suka cara kerjanya." Ujar Ken kembali memuji.
' Cklek.'
Ken langsung terdiam ketika melihat Zara masuk ke dalam ruangan Alfi.
" Loh. Kamu gak bilang kalo Ken ada di sini juga?" Ujar Zara berusaha menyembunyikan senyumnya.
" Gue baru datang." Ucap Ken cepat. " Gue cabut ya." Ucap Ken.
" Duduk dulu sih." Alfi menahan Ken. "Gue udah pesan makanan buat lo. Bentar lagi juga dateng." Ujar Alfi dan mengajak Ken untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Alfi.
' Tok Tok Tok'
" Masuk." Sahut Alfi.
" Pak. Makanan yang bapak pesan udah datang." Ujar Mira.
Alfi melihat kotak makanan yang dia pesan dua. Awalnya dia pesan yang satu untuk Zara. Tapi Alfi bagaikan menemukan sebuah ide yang baru begitu melihat Ken memuji Mira.
" Kamu ikut makan ya bareng kita." Ucap Alfi dan meminta Mira untuk duduk di samping Ken.
" Tapi Pak..."
" Udah Temani teman saya. Kasihan dia jomblo. Gak ada yang nemenin." Ujar Alfi memaksa Mira.
Mau tak mau. Mira menurut dan tersenyum canggung ke arah Ken. Ken sedikit menggeser tubuhnya agar Mira dapat duduk dengan lebih leluasa.
" Mereka cocok ya." Ucap Alfi sambil memandang Ken dan Mira yang duduk bersebelahan pada Zara.
__ADS_1
" Ha?!" Zara sedikit kaget. " Iya." Jawab Zara dengan senyum penuh arti.
" Mira jomblo, Ken." Ucap Alfi.
Mira hanya tersenyum malu.
" Ngapain bahas hal pribadi karyawan." Ken enggan menanggapi. Ken sangat mengerti dengan maksud Alfi.
" Beneran, Ken."
" Terus lo mau gue jadian ama Mira?" Ucap Ken tanpa basa basi.
" Kenapa engga." Sahut Alfi. " Kamu mau kan, Mir?"
" Jangan begitu sama karyawan sendiri." Zara menyahut.
" Loh, kenapa sayang. Mereka sama- sama jomblo." Ujar Alfi senang.
Dengan cepat Ken menghabiskan makanannya. Ken langsung menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Mira menghabiskan makannya dengan malu- malu.
" Gue cabut ya." Ucap Ken enggan mendengar ocehan Alfi tentang Mira.
" Mau ngapain sih?!"
" Masih banyak kerjaan." Ucap Ken beralasan.
Ken langsung berdiri dan meninggalkan ruangan Alfi. Ken benar- benar merasa tidak nyaman berada dalam suasana seperti tadi.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan karena menembus kemacetan. Ken sampai di gedung apartemennya. Ken enggan kembali ke proyek. Mobilnya sengaja dia titipkan pada mandor.
Baru saja Ken menjatuhkan dirinya di sofa melepas penat. Bel di apartemennya berbunyi. Dengan perasaan malas Ken membuka pintu.
" Hhhhhh.." Ken menghela nafas panjang saat melihat Zara berdiri di depan pintu apartemennya. " Ada apa lagi?"
" Boleh aku masuk?" Tanya Zara ketus.
" Silahkan." Ken sedikit menggeser tubuhnya agar Zara bisa masuk.
" Aku cemburu, Ken." Ucap Zara tanpa di tanya lagi oleh Ken.
Ken kembali menghela nafas panjang. Dirinya sudah lelah berada diantara hubungan yang rumit.
" Ken!" Panggil Zara kesal merasa di acuhkan Ken.
" Sebaiknya lo pulang sekarang!" Ucap Ken dingin.
Zara terdiam. Perlahan Zara mendekat ke arah Ken yang tengah memijat pelipisnya. Zara mendaratkan bibirnya ada bibir Ken.
Ken terdiam sejenak dan detik berikutnya Ken mendorong tubuh Zara, Buru- buru Ken melap bibirnya.
" Sej*jik itu kamu denganku, Ken?"
" Ini gak harus kita lakuin, Zar." Ucap Ken kesal.
" Ken."
" Elo mau apa dari gue?!" Tanya Ken menaikkan sedikit intonasi suaranya.
" Gue udah banyak urusan, Zar. Kepala gue udah penuh dengan urusan perusahaan bokap gue! Gak ada waktu buat gue mikirin hal yang lain. Apalagi hal receh begini!" Maki Ken kesal. " Tolong beri gue sedikit ruang!"
" Beri aku sedikit waktu kamu, Ken."
" Buat apa? Gue bukan suami lo!" Bentak Ken kesal.
" Ken.."
" Cabut lo!" Ken mengusir Zara.
" Ken.."
" CABUT!" Ken meninggikan intonasi suaranya.
__ADS_1
Zara tersentak dan seketika air matanya menetes dan menatap Ken sendu. Ken tak menggubris tangisannya dan luka di hatinya. Ken menatapnya tajam dan dingin. Tak ada senyuman atau kata maaf terlontar dari mulut Ken.