
" Kinan." Panggil Ken yang melihat Kinan hanya berdiri di ambang pintu kemudian Kinan pergi begitu saja.
" Lepas, Zar." Ucap Ken mempertegas ucapannya dan menyentak kasar tangan Zara. Ken berlari mengejar Kinan.
" Aku jelaskan." Ucap Ken yang menemukan Kinan berdiri di koridor menunggu lift.
" Udah jelas, Ken." Kinan enggan mendengarkan ucapan Ken.
' Ting'
Pintu lift terbuka. Dan terlihat beberapa orang yang ada di dalam lift. Tak mungkin bagi Ken untuk memaksa Kinan mendengarkan ucapannya. Ken membiarkan Kinan pergi.
" Sebaiknya lo pergi dan jangan ke sini lagi!" Ucap Ken marah pada Zara.
" Ken."
" Mau lo apa, Zar? Gue gak ngerti lagi harus ngomong apa ke elo!" Ucap Ken kesal.
" Apa Kinan lebih penting dari aku?"
" Iya. Dia lebih penting dari siapapun! Termasuk dari lo!" Ujar Ken menunjuk wajah Zara dengan wajah yang murka. Sebisa mungkin Ken menahan emosinya.
" Ken."
" Gue akui. Gue emang pernah suka sama lo! Tapi itu dulu, Zar." Ken menekan intonasi bicaranya. " Apa lagi yang mau lo denger?"
Zara terdiam mendengar ucapan Ken.
" Lo ke sini apa maksud lo? Mau berc*uman sama gue?!" Ken langsung menarik Zara dalam dekapannya dan menc*um Zara dengan ganas hingga Zara sendiri yang mendorong tubuh Ken.
" Aku bukan wanita murahan, Ken!"
Ken menyeka bibirnya dan masih menatap Zara marah. " Kalo lo gak murahan. Lo gak akan datang ke sini!" Ucap Ken.
" Hiks.." Air mata Zara tumpah. Tangisnya pecah karena perbuatan kasar Ken padanya seolah Zara layaknya wanita yang menjajakan dirinya.
Ken menarik nafasnya dalam dan membuangnya secara kasar. Ken berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Ken mencoba meredam segala emosinya agar dia bisa berpikir jernih kembali. Setelah emosinya sudah reda. Ken kembali menghampiri Zara yang masih menangis. Perlahan Ken membimbing Zara untuk duduk di sofa. Biar bagaimanapun. Zara adalah istri dari sahabatnya.
" Maafin gue, Zar." Ucap Ken.
Zara hanya terisak dan tak mampu menanggapi ucapan Ken.
__ADS_1
Ken menyeka air mata Zara yang membasahi pipinya. " Gue minta maaf udah kasar sama lo." Ucap Ken lagi.
Zara tak menanggapi ucapan Ken dan semakin terisak. Ken enggan untuk memeluk Zara. Ken enggan memberikan kenyamanan untuk Zara. Ken hanya diam dan matanya menatap lurus. Otaknya mengatur siasat. Bagaimana caranya agar Kinan bisa memaafkan dia.
" Kamu benar Ken. Gak seharusnya aku ke sini." Ucap Zara dan menyeka sisa air matanya. " Aku pulang." Ucap Zara. Ken tak menanggapi. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Kinan. Wanita itu pasti marah besar dengannya.
Zara melangkah pergi meninggalkan apartemen Ken. Ken pun bergegas merapikan dirinya dan segera menyambar kunci mobilnya. Ken mengendarai mobilnya menuju rumah Kinan. Berkali- kali Ken mencoba menghubungi Kinan. Namun tak juga di angkat. Ken memijat pelipisnya. Kepalanya sedikit berdenyut karena sejak semalam dia belum tidur. Akhirnya Ken menghubungi Caca.
" Ada apa Ken?"
" Kinan ada di rumah?" Tanya Ken dengan nada cemas.
" Lohh.. Tadi bukannya mau ke tempat lo." Ucap Caca merasa heran. " Ehh.. Itu dia baru balik." Ucap Caca meralat ucapannya karena Kinan baru saja memasuki rumahnya dalam keadaan sedih.
" Gue ke sana." Ucap Ken dan semakin menambah kecepatannya.
Ken segera turun dari mobil dan melemparkan kunci mobilnya pada penjaga di rumah Caca agar memarkirkan mobilnya. Ken bergegas masuk.
" Kinan mana, Ca?" Tanya Ken ketika masuk ke rumah Caca dan mendapati Caca tengah duduk di depan televisi.
" Ke kamar."
" Kinan!" Ken semakin mengeraskan suaranya.
Caca yang merasa penasaran karena tidak biasanya Kinan tidak menyahut jika Ken memanggil akhirnya menyusul Ken. Caca bergantian dengan Ken mengetuk pintu kamar Caca.
" Kinan. Ken udah dateng ni. Keluar napa!" Omel Caca.
" Suruh pulang aja!" Teriak Kinan dari dalam.
" Jangan kaya anak kecil lah!" Sergah Caca sebal dengan Kinan.
" Kasih aku kesempatan buat jelasin." Teriak Ken tak sabar.
' Cklek'
Kinan membuka kamarnya dengan wajah cemberut dan menatap Ken tak suka. " Mau jelasin apa? Zara yang datang ke apartemen kamu? Zara yang peluk kamu?" Ucap Kinan memberondong Ken.
" Iya."
" Selesaikan dulu masalah kamu sama Zara. Aku gak mau terlibat!" Kinan kembali menutup pintu kamarnya. Namun Ken menahan pintu kamar Kinan dengan cepat.
__ADS_1
" Dengarkan aku dulu." Ken mengiba.
Perlahan Caca menghindar dari mereka. Tak enak juga merasa dikacangin dua orang yang lagi ribut begitu.
" Aku capek Ken!" Omel Kinan namun sejurus kemudian Ken membungkam Kinan dengan bibirnya. Kecupan lembut Ken berikan untuk Kinan hingga Kinan hanyut dalam permainan Ken.
" Aku cuma sayang sama kamu." Ucap Ken lembut mengakhiri c*uman mereka dan menyeka bibir Kinan yang basah.
" Tapi Ken.."
Ken kembali mengecup singkat bibir Kinan. Membuat gadis itu kembali terdiam. " Aku akan terus lakukan itu kalo kamu mau menyangkal apapun." Ancam Ken dengan senyumnya.
" Rese!" Omel Kinan dan meninju pelan dada Ken.
Kinan mengajak Ken untuk bergabung bersama Caca. Tak baik rasanya mereka berlama- lama berdua di kamar. " Orang tua kamu kapan ke Jakarta?" Tanya Ken.
" Bulan depan." Jawab Kinan.
" Aku ajak orang tuaku ke sini ya." Ucap Ken.
" Hemmm.. Oke." Ucap Kinan di iringi tawa renyah.
" Udah baikan nih!" sindir Caca ketika mereka baru saja duduk di sofa.
" Udah dong." Ucap Kinan dengan nada meledek.
Ken menguap panjang. Rasa kantuknya kembali menyerang. Namun sebisa mungkin Ken menahannya.
" Tidur aja Ken." Ucap Caca.
Ken sejenak berpikir dan mengiyakan tawaran Caca. Bahaya juga jika dia menyetir dalam keadaan ngantuk parah begini. Ken menyandarkan dirinya di sofa mencari posisi yang nyaman dan memejamkan matanya.
" Titip bentar ya. Gue mau beli sesuatu." Ucap Kinan pada Caca.
" Hemm.." Caca hanya berdehem mengiyakan dan tetap cuek tanpa melihat Ken.
Caca merasa sedikit haus dan memutuskan untuk mengambil minuman di dapur. Caca melihat Ken yang terlelap sekilas. Wajah Ken yang terlihat lelah menarik perhatian Caca. Perlahan Caca memperhatikan setiap lekuk wajah Ken. Caca semakin merasa kagum pada Ken. Wajah yang seakan tanpa cela sedikitpun.
" Ngapain lo?!" Tanya Kinan yang baru saja tiba dan melihat jarak antara wajah Caca dan Ken hanya beberapa centi saja.
Caca tergeragap dan melemparkan senyum canggungnya. Bisa- bisanya dia terpana dengan pesona Ken. Lelaki yang sudah jadi calon suami sepupunya. Caca segera berjalan cepat menuju dapur melanjutkan niat awalnya.
__ADS_1