
Meeting mereka di ruang multimedia pun selesai, dan mereka pun mulai memasuki ruangan mereka masing-masing. Rendi tampak celingak-celinguk (tengok kanan-kiri) seperti sedang mencari sesuatuu yang ada di hatiku.. sesuatuu.. *Sop! Eehh.. Stop! Jangan keluarkan bakat biduan mu disini --. Bukan karena Rendi sedang mencari anak yang menjadi trending topic itu, tapi dia sedang melihat sekeliling kalau-kalau ada si permen karet muncul tiba-tiba. Yup!! Permen karet adalah gelar yang di berikan teman-teman Rendi khusus untuk Fanny. Why??? Karena, Fanny tidak akan pergi jauh-jauh dari Rendi jika dia sudah melihat batang hidung Rendi yang mancung. Meskipun sudah berkali-kali Rendi menyuruh Fanny untuk tidak mendekati nya bahkan mengikuti nya seperti bodyguard, namun tetap saja, kuping Fanny seakan-akan tidak mendengar apapun yang di katakan Rendi. “Rendi, nyari siapa?? Nyari Ardi???”. Tanya gadis cantik yang tinggi badan nya tidak terlalu jauh dari tinggi badan Rendi.
”Kamu ngagetin aa’ aja teh”. Jawab Rendi setengah kaget. Yaaa dia kaget karena dia pikir itu si permen karet, ternyata bukan. Gadis cantik itupun meminta maaf kepada Rendi. “Hehee.. Maaf deh a’ kalo teteh bikin aa’ kaget. Gak ada niatan kok”. Kemudian mereka pun berjalan menuju ruang 2. Rendi tidak mengetahui bahwa ruang yang dia pegang (R.2), adalah ruangan dimana Zahra akan menjalani masa percobaan selama 4 hari di sekolah baru nya itu. Banyak mata yang memperhatikan ke arah Rendi dan gadis cantik yang berjalan bersamanya, dengan wajah yang saling melengkapi dengan tingkat kemiripan yang lumayan, tidak heran banyak yang penasaran siapakah gadis cantik yang berjalan berdampingan dengan Rendi. Tidak sedikit yang menyimpulkan bahwa gadis itu adalah pacar nya Rendi, terutama kaum hawa. Mereka merasa sangat patah hati melihat Rendi berjalan bersama gadis cantik yang belum pernah mereka lihat dengan jarak yang cukup dekat. Terdengar bisikan antara siswa dan siswi di berbagai sudut, mereka dengan rasa penasaran yang tinggi melihat Rendi yang berjalan menuju lokal 2. Mereka berdua mendengar pembicaraan anak-anak baru tentang mereka yang mengintip dari jendela ruangan, namun mereka lebih memilih diam dan mengabaikan nya ketimbang mereka harus membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia. Sesampainya di lokal 2, sudut mata hanya tertuju kepada mereka berdua yang berdiri di ambang pintu. Gadis cantik yang datang bersama Rendi menjadi kikuk dengan situasi itu. “Hay??”. Sapa gadis cantik itu dengan sedikit melambaikan tangan berusaha mencairkan susasana yang terlihat tidak karuan. Namun agaknya, rencana itu gagal. Karena siswa/siswi baru itu malah menjadi kebingungan dan merasa aneh dengan sikap nya yang tiba-tiba menyapa dan melambaikan tangan nya. Ssrreeeettt.. Terdengar suara bangku yang di geser pelan. (no koment tentang suara bangku nya --). “Maaf kak, saya izin mau ke toilet sebentar, tapi saya nggak sendirian kak ke toilet nya. Saya sama teman saya. Boleh kak??” Tanya Zahra denga ramah dan sopan. Rendi tertegun dengan ucapan Zahra, seakan dia baru pertama kali mendengar ucapan seramah dan sesopan itu. Tanpa sadar Rendi terus memandang wajah Zahra yang berdiri tidak begitu jauh dari posisi nya. Hingga lamunannya tersadar karena gadis cantik yang berdiri di samping nya mencubit tangan Rendi. Terlihat Zahra masih menunggu jawaban dari Rendi yang berdiri menghalangi pintu. “Maaf kak, boleh gak??”. Tanya Zahra yang menunggu jawaban. “Oh iya, maaf.” Ucap Rendi dengan senyum seraya bergeser ke arah pot bunga berukuran sedang yang berada tidak jauh dari pintu. Teman-teman nya hanya tertawa kecil melihat tingkah Rendi yang seakan menjadi kikuk dan aneh saat berhadapan dengan Zahra. Namun Rendi tidak menyadari bahwa teman-teman nya tengah menertawai sikap anehnya itu, Rendi malah melamun mengingat Zahra yang begitu lugu dan muslimah itu.