Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
81


__ADS_3

Zara memandang takjub ketika Arkan memulai langkah pertamanya. Zara begitu gembira melihat perkembangan putranya. Melihat Arkan yang sekarang. Tidak akan pernah menyangka jika saat pertama dia di lahirkan. Arkan harus berjuang antata hidup dan mati. Zara selalu menitikkan air mata bahagia ketika Arkan selalu menunjukkan setiap perkembangannya.


" Anak mama udah bisa jalan, sayang." Ujar Zara dan menciumi pipi anaknya.


" Ada apa sayang?" Tanya Alfi yang baru saja muncul.


Zara menyeka air matanya. " Arkan udah bisa jalan, sayang." Ucap Zara memberi kabar gembira.


Alfi langsung buru- buru menghampiri Arkan dan memeluk anak dan istrinya. Dia sangat bersyukur karena keluarga kecilnya semakin bahagia.


" Tumben banget kamu jam segini udah di rumah." Ucap Zara. Karena biasanya Alfi selalu pulang saat matahati mulai tenggelam.


" Apa kamu lupa? Nanti malam acara syukuran anak Desta." Ucap Alfi.


Zara menepuk jidatnya. " Benar. Aku lupa." Ucap Zara. " Aku siap- siap sekarang." Zara masuk ke kamarnya. Diiringi Alfi.


Zara dan Alfi sudah bersiap menuju rumah Desta. Entah kenapa Zara bertanya- tanya apakah Ken juga akan datang. Zara segera menepis jauh- jauh pikirannya. Dia sudah bahagia fokus dengan keluarga kecilnya.


Jalanan cukup lengang hari ini. Tak sepadat biasanya. Alfi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia memandang wajah Zara yang menurutnya malam ini sangat cantik. Walaupun hanya bermake up sederhana. Tetapi sangat menambah kecantikan Zara.


" Jangan liatin mulu. Fokus sayang." Ucap Zara mengingatkan Alfi.


" Kecantikanmu. Mengalihkan pandanganku, sayang." Ujar Alfi dengan nada merayu.


" ALFI!!!" Teriak Zara panik karena tiba- tiba saja muncul mobil dengan kecepatan tinggi muncul di depan mereka.


Alfi reflek menginjak rem dan membanting setirnya ke arah kiri. Namun sial. Benturan tak dapat di hindari. Mobil Alfi dan sang pengendara ugal- ugalan bertabrakan. Bagian depan mobil rusak parah. Suara benturan yang kencang terdengar menggema. Zara membentur dashboard. Sedangkan Alfi terjepit di kursi pengemudi. Pengendara mobil itu terlempar keluar dan membentur aspal.


Kerumunan segera terjadi di lokasi kejadian. Banyak orang yang menonton tetapi tak ada yang berani lebih dekat dengan lokasi kejadian.


" Al..." Ucap Zara lirih ketika dilihatnya Alfi sudah tidak sadarkan diri. Lalu detik kemudian. Zara pun pingsan.


*******


Ken berdecak kesal karena kemacetan yang terjadi. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Acara di rumah Desta pasti sudah di mulai. Sejak tadi kendaraannya tidak bergerak sama sekali. Ken melihat ada minimarket di sampingnya. Ken berbelok di minimarket tersebut dan memarkirkan mobilnya. Penasaran juga dengan apa yang terjadi di depan sana.


' Nguing nguing nguing.' Terdengar suara sirine ambulan dan polisi saling bersahutan.


Ken yang penasaran. Berlari menghampiri kerumunan yang memang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ken menyibak kerumunan. Entah kenapa rasa penasarannya berubah menjadi rasa cemas. Ken menerobos kerumunan hingga dia dapat melihat dengan jelas kendaraan yang terlibat kecelakaan.


" Alfi!" Ken langsung berlari mendekat menuju mobil Alfi. Terlihat Zara yang pingsan dan Alfi yang tubuhnya terhimpit. Ada seorang pria lagi yang tergeletak bersimbah darah di aspal dan hanya di tutupi koran oleh pengguna jalan.


Ken membuka pintu mobil penumpang dan mengeluarkan Zara dari sana. Lalu Ken beralih berusaha membuka pintu mobil yang ringsek parah untuk menolong Alfi. Namun gagal.

__ADS_1


Tak lama kemudian datang anggota kepolisian dan tim medis.


" Tolong teman saya, Pak." Ucap Ken panik.


Anggota polisi memanggil tim untuk mengevakuasi Alfi yang kritis. Setelah drama penyelamatan Alfi telah berhasil. Alfi langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ken ikut serta di dalam mobil ambulan.


Ken menunggu Alfi dan Zara yang masih dalam tindakan dokter di ruang tunggu. Pengemudi yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Tewas seketika karena kepalanya membentur aspal.


' Ddrrrtt.'


Ken menggeser tombol hijau begitu nama Desta tertera.


" Elo dimana? Kok belom sampe. Mana Alfi juga gak ada kabar." Omel Desta yang kesal karena sahabatnya tak kunjung datang.


" Rumah sakit." Jawab Ken dengan nada lesu. Penglihatannya tentang Alfi yang terluka parah masih terngiang- ngiang.


" Elo sakit?"


" Alfi kecelakaan." Jawab Ken.


" Apa?!" Desta tersentak kaget dan mengusap wajahnya.


" Sebentar. Dokter udah keluar." Ujar Ken dan menutup panggilan teleponnya.


" Syukurlah istrinya tidak ada luka yang serius. Tetapi suaminya masih dalam tindakan dokter. dia mengalami patah tulang di beberapa bagian. Dan benturan yang keras. Menyebabkan pendarahan dalam pada otaknya."


Ken langsung terdiam mendengar ucapan dokter tersebut.


Setelah beberapa jam Alfi dalam di operasi. Tim dokter menyatakan bahwa kondisi Alfi dalam keadaan kritis. Ken menatap nanar tubuh Alfi yang tertempel berbagai macam kedokteran untuk menopang hidupnya. Ken memutuskan menunggu di kamar Zara. Menunggu wanita itu siuman. Zara pasti akan syok ketika mendengar kabar Alfi.


" Naila." Saoa Ken dengan suara lesu. " Bisa kamu ke sini? Aku akan share lokasinya." Ucap Ken.


" Oke." Tanpa banyak bertanya Naila mengiyakan permintaan Ken.


*******


" Emmhh.." Zara perlahan membuka matanya dan memegang keningnya karena kepalanya masih terasa sangat sakit. Zara menyipitkan matanya dan memperhatikan sosok yang tengah duduk di ujung sana.


" Mba Zara." Seru Naila yang baru saja keluar dari toilet dengan senang melihat Zara siuman.


Zara beralih pada Naila yang berjalan mendekatinya.


" Ken. Mba Zara sadar." Ucap Naila senang setengah berteriak.

__ADS_1


Ken yang baru saja terlelap. Langsung membuka matanya dan menghampiri Zara.


Naila duduk di kursi samping ranjang Zara.


" Alfi mana?" Tanya Zara. Air matanya membendung begitu saja.


Ken tertunduk dan menarik nafasnya dalam.


" Alfi mana, Ken?!" Teriak Zara tak sabar.


" Tenang dulu, Zar." Ucap Ken dan mau tak mau. Dia menghampiri Zara lebih dekat lagi.


" Alfi mana?" Tangis Zara pecah.


" Alfi kritis." Ucap Ken pelan.


Zara menangis tersedu- sedu meratapi nasib Alfi. Baru saja mereka keluar rumah dengan perasaan bahagia. Tetapi kenapa harus dihadapkan dengan kenyataan ini.


" Sabar, Mba." Naila mengelus pundak Zara seraya memberikan dukungan.


" Kita harus banyak berdoa, Zar." Ucap Ken tenang.


Zara menggenggam erat tangan Ken. Ken yang melihat Zara sangat terpukul hanya bisa membiarkan Zara menggenggam tangannya. Ken hanya menepuk- nepuk pelan bahu Zara yang berguncang.


" Ken.." Desta langsung diam dan tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat Zara tertunduk menangis tersedu- sedu.


" Aku mau lihat Alfi, Ken." Ucap Zara dan segera turun dari tempat tidurnya.


Namun belum juga Zara berhasil melangkah. Tubuhnya sudah oleng. Beruntung Ken masih berdiri di sampingnya. Ken dapat menangkap Zara dengan cepat. Melihat Zara yang terus menggenggam tangan Ken. Hanya mampu diam dan segera mengusir pikiran jeleknya tentang hubungan Zara dan Ken.


" Istirahat dulu. Besok baru liat Alfi." Ucap Ken dan membantu Zara kembali berbaring.


" Alfi..." Ratap Zara.


" Sabar, Mba." Hibur Naila.


" Sabar, Zar. Semoga secepatnya Alfi bisa sadar dan sehat kembali." sahut Desta.


Zara masih terisak.


" Istirahat. di rumah lo udah ada orang tua lo yang akan urus Arkan." Ujar Ken.


Zara menarik nafasnya dalam dan perlahan memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2