Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
84


__ADS_3

Tejo duduk termenung di teras depan. Rumah besar tak membuatnya lebih tenang. Ucapan Laksmi sore tadi ada benarnya. Kenapa Ken seorang pria kaya raya malah mempersunting putrinya yang hanya seorang gadis desa dan dari keluarga petani biasa.


" Bapak mikirin apa?" Tanya Rasmini menghampiri suaminya.


" Apa tidak masalah kita merestui pernikahan Naila, Bu?" Ujar Tejo dengan kegundahan hatinya.


" Naila kelihatan bahagia, Pak." Rasmini duduk di kursi rotan sebelah Tejo.


" Omongan Laksmi ada benarnya, Bu." Tejo menarik nafasnya dalam. " Ken pemuda yang tampan juga kaya raya. Dia bukan dari orang biasa, Bu. Bapak takut kalo Ken hanya memanfaatkan anak kita." Tejo terlihat resah.


" Kayanya ndak mungkin pak. Ken kelihatan pemuda yang baik dan santun." Rasmini meyakinkan Tejo.


" Tapi, Bu..." Tejo tak lagi melanjutkan ucapannya ketika melihat mobil Ken berhenti di depan rumah mereka.


Ken melemparkan senyum pada pasangan paruh baya itu. Ken menghampiri Rasmini dan Tejo dan mencium punggung tangan mereka.


" Baru pulang, Nak?'" Sapa Rasmini.


" Iya, Bu." Jawab Ken. " Tadi aku mampir ke toko roti. Lumayan buat cemilan." Ujar Ken dan memberikan bingkisan pada Rasmini.


" Duduk Ken." Perintah Tejo dan menepuk kursi yang tadi di tempati Rasmini.


Ken duduk mengikuti perintah Tejo.


" Ada apa, Pak?" Tanya Ken menatap Tejo datar.


" Kamu itu ganteng, kaya, pintar lagi. Lahh kok mau sama anak bapak yang biasa aja berasal dari keluarga miskin lagi." Ucap Tejo menatap Ken lekat.


Ken membetulkan posisi duduknya. " Miskin atau kaya gak ada bedanya di mat Tuhan." Ken mengawali jawabannya. " Kenapa saya mau sama Naila. Karena Naila adalah gadis yang tepat untuk saya." Jawab Ken penuh keyakinan.


" Tapi pasti banyak gadis yang ngejar- ngejar cinta kamu, toh!" Sahut Rasmini yang baru saja keluar membawa secangkir teh hangat untuk Ken.


Ken tersenyum menanggapi ucapan Rasmini dan mengucapkan terima kasih atas teh yang dibuatkan Rasmini.


" Kamu gak ada niat buat permainkan anak bapak kan?" Tanya Tejo dengan raut wajah cemas.


" Engga, Pak. Saya sungguh- sungguh akan bertanggung jawab." Ucap Ken meyakinkan.


" Syukurlah." Rasmini tampak lega mendengar jawaban Ken. " Tapi ibu boleh tanya sesuatu?"

__ADS_1


" Silahkan, Bu."


" Kamu sama Naila belum ngapa- ngapain kan?" Tanya Rasmini dengan suara berbisik. Bahaya kalo sampai Ningsih atau Laksmi dengar. Bisa di goreng ucapan Rasmini nanti.


" Engga, Bu." Jawab Ken sambil menahan senyumnya. " Saya emang sering antar jemput Naila. Tapi itu sebatas depan kosan Naila. Gak pernah saya masuk ke sana." Ken menjelaskan di iringi tawa kecilnya. Calon mertuanya menaruh curiga pada Ken.


" Bener ya?"


" Iya ibu." Ken meyakinkan. Ken melirik jam dipergelangan tangannya. " Saya izin pamit, Bu. Udah malam."


" Loh.. Ibu belum panggilkan Naila." Rasmini tampak terkejut.


" Lain kali aja, Bu. Lagi pula saya cuma mau berikan ini aja tadi. Tapi di ajak ngobrol sama bapak dan ibu."


" Oalah. Maaf ya Ken." Ucap Tejo merasa tidak enak . " Kamu ada janji lagi?"


" Engga, Pak. Tapi mau selesaikan beberapa pekerjaan." Jawab Ken dan mencium punggung tangan Rasmini dan Tejo bergantian.


" Hati- hati di jalan." Ujar Tejo mengingatkan Ken.


" Bapak nii. Benerkan. Ken itu anak baik." Ujar Rasmini merasa feelingnya sebagai seorang ibu adalah benar.


" Hallahh. Takut sama ucapan Laksmi bener?!" Sergah Rasmini gemas dengan pikiran suaminya. " Anak baru kemarin sore kok di dengerin." Ujar Rasmini dan meninggalkan Tejo diluar seorang diri.


*******


Zara menyeka air matanya yang turun tiada henti. Kabar tentang Alfi yang kembali drop. Membuatnya menangis tak karuan. Zara hanya mampu melihat kondisi Alfi dari kaca di ruang ICU. Dokter yang menangani kondisi Alfi bisa bernafas lega karena organ vital Alfi kembali stabil.


" Gimana keadaan Alfi?" Tanya Ken yang baru saja datang pada Zara.


Melihat Ken yang datang. Zara langsung memeluk erat tubuh Ken dan menangis di dada Ken. Ken mengelus lembut punggung Zara. Saat Ken baru saja beranjak dari rumah Naila. Zara mengabarkan bahwa Alfi Drop dan kembali dinyatakan kritis. Tanpa membuang waktu. Ken langsung membelokkan mobilnya menuju rumah sakit tempat Alfi dirawat.


" Sabar, Zar." Ujar Ken menenangkan.


" Alfi...." Zara terisak.


" Alfi pasti sembuh, Zar."


Zara hanya mampu terisak dalam pelukan Ken. Ken hanya mampu memberikan sebuah pelukan untuk menguatkan Zara. Tidak lebih. Saat ini, Zara sangat butuh dukungan dari orang- orang yang ada di dekatnya.

__ADS_1


******


Hari yang dinantikan Ken dan Naila tiba. Dengan balutan gaun putih yang tampak sederhana namun Naila terlihat sangat cantik dan elegan. Di iringi langkah kaki kedua orang tuanya, Naila memasuki ruangan tempat Ken telah menunggunya di depan meja akad. Ken terlihat sangat tampan dengan balutan setelan jas berwarna putih senada dengan gaun Naila.


Naila dan Ken duduk bersebelahan di depan Ken telah siap Tejo dengan setelan jas dan ada penghulu. Dengan satu kali nafas. Ken mampu melafalkan ijab qabul dengan tenang dan jelas. Naila menangis haru. Kini lelaki yang ada di sampingnya telah resmi menjadi suaminya.


Suasana pesta pernikahan Ken berlangsung mewah dan meriah di hadiri oleh sanak saudara dan banyak kolega.


" Akhirnya Ken. Melepas masa lajang." Ujar Desta penuh suka cita.


" Ya." Ucap Ken. " Sayang Alfi gak ada di sini." Ken tertunduk lesu.


Setelah acara pernikahan Ken berakhir. Ken dan Naila memutuskan untuk tinggal sementara dengan keluarga Naila. Ken ingin Naila berada ditengah keluarganya sebelum mereka balik ke kampung halaman.


" Aku mau jenguk Alfi. Apa boleh?" Tanya Ken pada Naila yang sibuk menyisir rambutnya.


" Harus sekarang?"


" Harus. Gak lengkap rasanya kebahagiaan ini kalo Alfi gak hadir." Ujar Ken.


Naila melemparkan senyumnya dan mengangguk.


" Terima kasih." Ken mengecup kening istrinya.


Walaupun kecupan Ken hanya sekilas. Tetapi mampu membuat Naila terpaku. Pertama kalinya Ken mengecup keningnya. Ken segera keluar dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampinya di rumah sakit. Tak ada siapapun menunggu Alfi di ruang tunggu. Seharusnya Ken tidak bisa masuk di jam segini. Tapi dengan izin dokter yang menjaga Alfi. Ken diperbolehkan menjenguk Alfi.


Ken menatap nanar pada Alfi yang mulai terlihat kurus. Matanya yang terpejam terlihat cekung.


" Gue dateng ke sini mau bilang. Acara pernikahan gue lancar, Al." Ucap Ken dan menarik kursi ke samping ranjang Alfi. " Kenapa lo gak dateng, Al? Elo gak mau kasih gue selamat?" Ken terus berceloteh seakan Alfi bisa di ajak bicara.


" Bangun lah, Al. Gue kangen sama tingkah konyol lo!" Kini suara Ken mulai parau. Ken tak kuasa menahan tangisnya. Ken menarik nafasnya menxoba mengatur emosinya yang mmbuncah. Sesak di dada sangat dirasakan Ken melihat kondisi Alfi. Tanpa Ken sadari. Setetes air mata Ken jatuh tepat mengenai tangan Alfi.


" Tangannya gerak, Pak." Ujar seorang perawat yang kebetulan melihat tangan Alfi menunjukkan respon.


Ken memperhatikan. Betul saja. Alfi merespon semua ucapannya. Perlahan mata Alfi berkedut seolah berusaha untuk membuka matanya.


" Al.." Panggil Ken. Alfi terus merespon Ken.

__ADS_1


__ADS_2