
Perlahan Kinan menguatkan dirinya untuk bangkit. Tak baik juga terus terpuruk di atas kasur. Mata cekung dan tubuh yang terlihat sangat kurus. Membuat Kinan terlihat bagaikan manusia yang hanya terbalut dengan kulit.
" Sayang." Seru Ken yang baru saja muncul di ambang pintu kamar Kinan menatap takjub melihat Kinan berusaha bangun.
Kinan menoleh ke arah Ken dan tersenyum. Ken segera berhambur mendekati Kinan untuk siaga membantu Kinan.
" Kamu mau kemana sayang?" Tanya Ken dengan semangat.
" Aku mau duduk di balkon." Ujar Kinan. Kakinya bergetar. Dengan sigap Ken membantu Kinan dan mengiringinya berjalan menuju balkon kamar. Dari balik pintu yang terbuka sedikit. Ada Caca menatap sinis pada Kinan.
" Kamu mau makan sesuatu?" Tawar Ken.
Kinan menggeleng. " Cukup begini saja udah cukup. Menghabiskan waktu bersama kamu." Ujar Kinan.
" Aku senang. Akhirnya kamu seolah mendapatkan semangatmu kembali." Ken mengecup punggunh tangan Kinan.
" Mulai sekarang, aku akan berjuang." Ujar Kinan.
" Ken."
" Ya."
" Boleh aku minta sesuatu?"
" Tentu."
" Bisakah Caca pergi dari apartemen ini?"
" Kenapa?" Ken merasa aneh.
" Tidak apa- apa. Aku merasa gak nyaman aja." Ucap Kinan masih menutupi perbuatan Caca.
" Gak ada yang jaga kamu, sayang." Ken menatap Kinan iba. Tubuh Kinan masih terlalu lemah jika harus mengerjakan semuanya sendiri.
" Aku mohon Ken."
Ken menarik nafas dan mempertimbangkan semuanya. " Apa aku boleh tau alasan yang sebenarnya?"
" Aku gak nyaman aja." Ucap Kinan mengulang kalimatnya.
" Oke. Kalo gitu nanti sore aku antar dia pulang." Ucap Ken akhirnya.
" Terima kasih." Ucap Kinan.
Ken menyandarkan tubuhnya dengan tangan terlipat di dada. Ken menatap Kinan dalam. Seperti ada yang disembunyikan Kinan.
" Apa kita harus ke dokter untuk mengecek keadaanmu?"
" Enggak perlu. Tapi kalo itu bisa buat kamu lega. Aku gak masalah."
" Besok kita ke rumah sakit. Oke."
"Iya."
__ADS_1
*******
" Apa elo yakin Caca sendirian di apartemen?" Tanya Caca ketika Ken membantunya mengemasi barang- barang miliknya ke dalam koper.
" Iya. Gue udah dapet perawat yang handal. Jadi elo juga bisa fokus sama kesembuhan elo, Ca." Jawab Ken. Padahal dia sama sekali belum mencarikan perawat untuk Kinan.
" Gue gak keberatan ngerawat Kinan." Caca bersikeras.
Ken terpaku ketika mendapati tempat obat yang menurut Ken sangat asing terjatuh begitu saja dari tumpukan baju Caca. Caca buru- buru mengambil obat tersebut dan menyembunyikan dari Ken.
" Obat apaan tuh?" Ken menatap Caca dengan tatapan intimidasi.
" Obat tidur gue." Jawab Caca asal.
" Coba liat." Ken berusaha ingin merebut obat dari tangan Caca.
" Obat tidur doang, Ken." Caca tetap tak memberikan.
" Jangan minum obat sembarangan! Bahaya buat kesehatan!" Ucap Ken dan kembali merapikan barang- barang Caca. Sesekali ekor mata Ken melirik gelagat Caca yang sedikit mencurigakan.
Setelah semua sudah beres. Caca segera berpamitan pada Kinan.
" Sebentar lagi Arsyi dan Desta datang." Ucap Ken dan mencium kening Kinan.
Caca mendapati hal itu hanya melirik dengan wajah sinis.
" AAAWWW" Teriak Caca dari ruang depan.
Ken segera berlari menghampiri Caca dan terlihat Caca tengah tergeletak di lantai sampai meringis.
" Tongkat gue kepeleset. Aduh.. Kaki gue sakit banget." Ringis Caca sambil memegang kakinya yang sakit.
Ken menggendong Caca dan merebahkan Caca pada sofa di depan televisi.
" Sakit banget." Caca masih meringis kesakitan.
" Obat lo masih ada?"
" Di tas."
Ken segera mengambil obat dari tas Caca dan memberikannya pada Caca.
" Istirahat dulu aja. Kalo udah gak nyeri lagi. baru gue anter balik." Ucap Ken dan ingin meninggalkan Caca namun Caca memegang tangan Ken.
" Temenin gue, Ken." Pinta Caca.
" Gue mau ambil buah buat Kinan. Elo mau?"
" Gue mau elo nemenin gue. Sebentar aja."
" Hemmm.." Ken duduk di lantai dan sedikit menjauh dari Caca. Risih rasanya Caca terus memgang tangan ataupun mengelus bahunya.
" Gue sayang sama lo, Ken." Ucap Caca lembut.
__ADS_1
Ken langsung menoleh dan kedua alisnya saling bertaut. Apa dia salah dengar?
" Maksud lo?"
" Gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo." Caca mengungkapkan perasaannya.
Ken menatap Caca tajam. " Gue tunangan sepupu lo."
" Iya gue tau. Tapi perasaan ini tumbuh sebelum kalian punya hubungan, Ken." Caca berkilah.
" Kinan lagi sakit, Ca. Kenapa lo bilang hal ini?!"
" Karena Kinan sakit. Apa pantas Kinan buat lo?"
Ken membuang nafasnya kasar. " Udah ilang kan sakit lo?! Gue anter balik sekarang. Biar bagaimana pun gue bertanggung jawab karena bawa lo kesini." Ucap Ken tajam dan menohok.
" Ken."
Ken tak lagi mempedulikan Caca. Dengan sigap Ken membawa koper yang berisi barang- barang Caca. Mau tidak mau. Caca mengikuti langkah Ken.
Ken tetap diam sepanjang perjalanan menuju rumah Caca. Caca pun hanya memandang ngeri pada Ken yang tiba- tiba bersikap dingin.
" Maafin gue, Ken. Gak seharusnya gue bilang kaya gitu."
" Sebenarnya yang minta lo buat balik. Kinan. Awalnya gue bingung kenapa dia gak nyaman ada lo. Dan sekarang gue ngerti."
" Tapi selama ini gue gak ngelakuin apapun yang bikin dia gak nyaman."
" Udah, Ca, Gue gak mau debat. Satu hal yang harus lo inget. Gue tunangan Kinan." Ucap Ken.
Caca kembali dia ketika Ken kembali menegaskan ucapannya. Tak berani Caca memandang Ken lagi.
Ken membantu Caca memasuki kopernya ke dalam kamar Caca. Ken segera keluar dari kamar Caca dan mendapati Caca tengah berdiri di depan kamarnya tanpa tongkatnya.
" Elo udah sembuh?" Ken merasa aneh.
" Sedikit. Ini kemajuan dari terapi gue."
" Baguslah." Tanggap Ken dan berlalu dari hadapan Caca.
Caca segera menyambar tongkatnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan mengejar Ken dengan kepayahan.
" Sebentar Ken." Teriak Caca menghentikan Ken yang sudah membuka pintu mobilnya.
Ken diam dan melihat ke arah Caca yang dengan tergopoh- gopoh menghampirinya.
' Cup'
Ken segera mendorong pelan tubuh Caca ketika Caca mendaratkan kecupannya pada bibir Ken.
" Ngaco lo!" Omel Ken dan berkali- kali melap bibirnya dengan tangan.
" Sekali aja Ken." Pinta Caca. " Dua kali gue lihat lo ngelakuin itu ke Kinan. Izinkan gue sekali aja, Ken."
__ADS_1
" Gil* lo!" Umpat Ken dan segera masuk ke dalam mobilnya. Amarah sudah memenuhi dada Ken. Ternyata selama ini Caca pernah mengintip Ken dan Kinan saat di kamar. Yaa Ken memang sering mencium serta memeluk Kinan tapi tidak lebih dari itu.