
" Udah Pah. Gak usah di proses. Kasian. Toh dia juga terluka. " Pinta Caca pada Papa yang ingin melaporkan pengendara motor yang menabrak Caca.
" Dia harus dikasih pelajaran." Yoga tetap pada pendiriannya.
" Patah tulang paha juga bukan hal yang baik, Pa." Caca tetap membela sang pengendara motor. Lagi pula keluarganya juga sudah datang menemui Caca dan meminta maaf. Sebisa mungkin mereka akan mengganti biaya pengobatan Caca walaupun ekonomi mereka jauh dibawah Caca.
" Terus bagaimana dengan usaha kamu? Masa iya Kinan menjalankan sendirian?"
Caca menarik nafasnya. Sifat keras kepalanya memang sangat menurun dari ayahnya. " Ada Ken yang membantu." Jawab Caca sedikit melunak.
" Ken? " Yoga mengernyitkan keningnya. " Siapa Ken? Pacar kamu? " Tanya Yoga dengan mata berbinar. Baru kali ini putrinya menyebur nama lelaki. Entah kenapa hatinya sangat senang.
" Itu calon suami Kinan, Pa. " Kolah Caca cepat. Tak ingin memberi harapan palsu pada ayahnya.
" Oh! " Yoga tak lagi banyak bicara.
' Cklek'
Kinan melongokkan kepalanya mengintip ke dalam kamar Caca di rawat. Kinan melemparkan senyum canggung ke arah Yoga yang mendapatinya mengintip.
" Siang, Om. " Sapa Kinan akhirnya memasuki kamar rawat inap Caca.
" Ada apa, Nan? " Tanya Caca dengan menyunggingkan senyumnya.
" Ada berkas yang harus lo tanda tangani. " Ucap Kinan dan memberikan berkas yang dibawanya.
" Kenapa gak Ken aja yang tanda tangan? "
" Kata Ken harus elo. sebelum lo tanda tangan harap dibaca dulu. Itu perintah dari dia." Kinan mengingatkan.
Caca tersenyum. Karena kesalahan yang dia lakukan itu memang sangat fatal. Menandatangani surat tanpa membacanya lagi.
Caca membaca berkas yang diberikan Kinan dan membubuhkan tanda tangan di atasnya.
" Thanks, Ca. Gue balik kantor lagi. " Ujar Kinan. Ingin segera pamit. Secanggung itu memang Kinan pada Yoga. Karena biarpun dia lama tinggal bersama Caca. Tetapi sangat jarang bertemu dengan Yoga yang selalu wara wiri antar kota antar negara mengurus bisnisnya.
" Kinan. " Panggil Yoga menghentikan langkah Kinan.
" Iya, Om." Kinan berbalik badan menghadap Yoga.
" Kalo kamu udah sampai kantor. Suruh Ken datang kesini. Om mau bertemu. " Ucap Yoga dengan raut wajah serius.
__ADS_1
Kinan menelan salivanya kasar dan mengiyakan perintah Yoga. Sampai dia lupa menanyakan maksud dan tujuannya untuk bertemu dengan Ken.
" Papa mau apa ketemu Ken? " Tanya Caca tak mengerti.
" Papa ingin lihat. Seperti apa lelaki yang bernama Ken itu. Sampai kamu mempercayakan semua urusan kantor pada dia." Yoga melipat tangannya di depan dada.
Caca hanya menarik nafasnya. Pasrah sama apa yang akan dilakukan ayahnya. Setiap kata yang keluar dari mulut Yoga. Adalah perintah bagi siapa saja yang mendengarkan.
Berkali- kali Yoga melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Wajahnya tampak suntuk menunggu Ken terlalu lama.
Ken masuk dan melempar senyum ke arah Yoga. Menjabat tangan Yoga layaknya rekan kerja.
" Apa saya terlihat sebagai partner? " Tanya Yoga pada Ken yang tidak mencium punggung tangannya .
" Ya." Jawab Ken datar. Bukan Ken tidak mau menghormati Yoga. Hanya saja Ken merasa jika itu yang harus dia lakukan.
Yoga menatap Ken penuh menyelidik. Diperhatikan penampilan Ken dari kepala hingga kaki. Ken tetap bersikap santai. Sudah hal biasa dia diperhatikan seperti itu karena memang penampilannya yang sedikit berbeda.
" Ada perlu apa anda meminta saya ke sini? " Tanya Ken.
Yoga menyunggingkan senyumnya. " Apa kamu tidak tau siapa saya?" Tanya Yoga dengan nada bicara yang angkuh. Begitulah Yoga. Dia memang terkenal dengan sikap angkuh dan tegas.
Yoga berkacak pinggang dan mulai tersulut emosi karena Ken terlihat bersikap sangat tenang seolah tak gentar menghadapi sikapnya yang tegas.
" Jika tidak ada hal yang penting. Saya permisi."
" Berhenti di sana." Perinta Yoga tegas. Suaranya menggelegar karena geram melihat sikap Ken yang tak gentar. Yoga menghampiri Ken dan merangkul bahunya. Ken menatap Yoga bingung.
" Papa mau dia menjadi menantu di keluarga kita." Ucap Yoga penuh rasa bangga.
" Maaf Om. Saya sudah punya Kinan." Sanggah Ken cepat. Caca menepuk jidatnya merasa malu dengan sikap ayahnya.
" Saya tidak peduli. Kamu menantu saya." Ucap Yoga mempertegas ucapannya.
Ken dan Caca saling beradu pandang.
*******
Alfi membuatkan segelas susu hangat khusus untuk Zara. Salah satu minuman wajib untuk Zara sebelum dia tidur. Dengan perasaan berbunga- bunga. Alfi memberikan susu yanh sudah dia buat.
" Segelas susu penuh cinta untuk istri tercinta." Ujar Alfi mesra. Zara menerimanya dengan senyum bahagia plus lucu juga melihat sikap Alfi.
__ADS_1
Zara meneguk habis susu yang dibuat Alfi.
" Enak?" Tanya Alfi dengan mata berbinar memandang wajah cantik istrinya.
Zara mengangguk. " Enak kok."
" Syukurlah kalo kamu suka." Selalu perkataan itu yang terlontar dari Alfi setelah memberikan susu untuk Zara.
" Apa kamu bahagia?"
" Iya. Suami aku baik dan tampan." Zara menarik gemas hidung Alfi.
Alfi membalasnya dengan kecupan lembut pada pipi Zara dan bergegas menuju dapur untuk meletakkan kembali gelas susu tadi.
Zara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alfi yang jenaka.
' Dddrrtttt'
Ponsel Alfi bergetar. Zara melirik ke arah ponsel Alfi yang tergeletak di atas nakas Tertera nama Ken di sana. Zara terdiam. Hanya nama saja yang di baca Zara. Mampu mengusik relung jiwanya. Zara terpekur sejenak. Bayangan Ken kembali mengusiknya.
Alfi buru- buru menghampiri ponselnya dan menggeser tombol hijau.
" Yaa. Ada apa Ken?" Tanya Alfi dan langsung keluar dari kamarnya. Sengaja menjauh dari Zara karena dia berbicara dengan Ken.
Lima menit Alfi mengobrol dengan Ken dan kembali menemani Zara yang sudah berbaring. Alfi merebahkan tubuhnya di samping Zara.
" Ada apa Ken nelpon kamu?" Tanya Zara tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
" Ada perubahan kontrak. Perusahaan Caca dan Kinan. Untuk sementara di pegang oleh Ken. Jadi dia mau bertemu denganku." Jawab Alfi. Alfi menghadap Zara dan menatapnya lekat. " Apa kamu mau ikut ke kantor?" Tanya Alfi.
Zara menggeleng.
" Aku mengerti perasaanmu, Zar. Aku gak mau kamu memendam semuanya dan menderita. Kalo kamu mau bertemu dengan Ken. Aku izinkan." Ucap Alfi tak ingin membuat Zara stres. Jika Zara terlalu banyak pikiran, akan sangat berpengaruh dengan kehamilannya.
Zara membelai lembut pipi Alfi. " Sebisa mungkin aku tahan semua ini, Al." Ujar Zara.
Alfi tersenyum mendengar ucapan Zara yang lembut dan menenangkan. Anak yang ada di kandungannya saat ini. Banyak membawa perubahan dalam diri Zara.
Alfi mengecup lembut kening Zara. " Terima kasih kamu mau berjuang lagi untuk rumah tangga kita."
Zara tersenyum. Itu memang sudaj seharusnya dia lakukan.
__ADS_1