
" KEN." Zara dan Naila berhambur menghampiri Ken.
" Jangan sentuh suamiku, Mba!" Ucap Naila kesal karena Zara ikut duduk di samping Ken.
" Bawa masuk, Nai." Perintah Zara dengan wajah panik.
" Jangan sentuh suamiku!" Ucap Naila dengan intonasi suara yang lebih tinggi.
Zara menatap nanar pada Naila yang menatapnya tajam. Ken masih tak bergerak.
" Bangun Ken." Tangis Naila pecah. Perasaan marah, benci dan takut bercampur jadi satu dalam hati dan kepala Naila. Kenapa harus sekarang Ken ambruk seperti ini. Kekuatannya dan Zara pun jika di gabungkan tak akan mampu menggotong Ken untuk masuk ke dalam.
Zara masuk ke dalam rumah dan mengambil minyak kayu putih. Zara segera menghampiri Naila yang tampak putus asa. " Oleskan ini Nai." Ucap Zara.
Naila menepis minyak kayu putih yang diberikan Zara. Tak sudi dia menerima bantuan Zara.
Zara melihat Naila marah. Zara mengambil botol minyak kayu putih yang terjatuh dan tetap memaksa membuka alas kaki Ken. Tak diindahkannya teriakan marah Naila dan pukulan dari tangan mungilnya.
" Jangan egois, Nai. Ini untuk Ken juga!" Bentak Zara. Kesal dengan sikap Naila.
Naila mendorong tubuh Zara hingga Zara jatuh hampir telentang. Karena Zara memang berjongkok sambil mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh Ken.
" Jangan pernah menyentuh suamiku lagi, mba!" Omel Naila kesal.
" Kamu gil* ya!" Bentak Zara semakin tersulut emosi.
" Mba yang udah gil*!"
" Emmhh.." Ken perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat sakit. Ken memijit pelipisnya dan matanya melihat bingung dengan dua wanita yang tengah berseteru dengan saling menyerang. Melihat situasi yang tidak kondusif lagi. Ken menguatkan badannya dan menghampiri dua wanita itu.
" Stop!" Ken mendorong pelan tubuh Naila dan Zara agar tidak lagi saling menjambak ataupun mencakar.
" Ken." Naila dan Zara sama- sama terpaku melihat Ken telah sadar. Tapi detik kemudian dua wanita itu mendekatinya.
" Stop!" Ken menghentikan langkah keduanya. Ken sedikit meringis memegang keningnya menahan sakit pada kepalanya.
" Kita duduk dulu, Ken." Ujar Naila merasa cemas dengan keadaan Ken.
Naila membimbing Ken untuk duduk pada pembatas taman. Zara hanya menatap Ken dengan tatapan sedih.
__ADS_1
" Aku ambilkan air." Ucap Zara.
" Gak perlu!" Sahut Naila cepat. Naila langsung membuka mobilnya dan mengambil sebotol air mineral yang memang selalu Naila bawa untuk persiapan dan memberikannya pada Ken.
" Bisakah kalian gak bertengkar?"
" Dia yang mulai!" Sergah Naila keras. " Istri mana yang rela lihat suaminya di rayu wanita lain!" Ucap Naila ketus.
Ken merangkul bahu Naila. " Sabar sayang." Ujar Ken menenangkan Naila yang tersulut emosi.
" Tapi.."
" Posisi mba udah salah masih mau berkilah." Naila menatap Zar dengan tatapan mencemooh. Naila menarik nafasnya. " Jika suatu saat kalian memang bermain di belakangku. Aku tau siapa yang memulai!" Naila menatap Zara semakin tajam. " Mba kesepian karena suami mba masih sakit? Sampai sahabat suaminya pun jadi."
Hati Zara terasa panas mendengar ucapan Naila. Zara mengangkat tangannya dan ingin menampar Naila tetapi tangan Ken dengan cepat menangkap ayunan tangan Zara.
" Tak akan aku biarkan siapa pun menyakiti istriku." Ucap Ken kini menatap Zara tajam.
" Ken.." Zara tampak pucat ketika melihat sorot tajam dari mata Ken.
" Gue ke sini sekadar untuk menemui Alfi. Bukan buat ketemu elo, Zar." Ken mempertegas kalimatnya. " Untuk sesaat gue akuin. Gue sempat tergoda. Tapi gue sadar. Gue udah punya Naila. Elo juga punya Alfi. Lupakan apa yang udah bersemi di hati lo." Ucap Ken kemudian melepaskan tangan Zara.
" Ambilkan obatku." Ujar Ken terbata- bata pada Naila. Naila langsung berlari menuju mobilnya dan membuka laci dashboard. Mengambil obat yang memang selalu Ken bawa di mobilnya.
Dengan cepat Naila memberikan obat pada Ken. Ken kembali duduk dan mengatur nafasnya.
" Kamu sakit apa?" Tanya Zara.
" Kamu pikir suamiku ini sehat? Engga, mba. Ken sakit. Lebih baik kita urus suami kita masing- masing tanpa ada yang saling menggoda." Ucap Naila singkat dan membimbing Ken untuk masuk ke dalam mobilnya.
" Ken sakit apa, Nai?" Mata Zara mulai berkaca- kaca.
" Ken suamiku, mba. Biar aku yang mengurusnya." Ujar Naila dan masuk ke dalam mobil.
Naila mengelus lembut punggung Ken sambil menatapnya iba. Ken terlihat sangat kesakitan.
" Kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Naila.
" Sebentar lagi hilang." Ken memaksakan menyunggingkan senyumnya walaupun sulit.
__ADS_1
Ingin rasanya Naila menggantikan Ken menyetir. Tapi dia tidak bisa mengendarai mobil. Jadilah Naila dengan setia menunggu Ken sampai kondisi Ken benar- benar pulih kembali.
Zara masih berdiri menatap Ken dengan nanar. Melihat Ken tertelungkup di atas setir mobilnya. Ingin rasanya Zara berada di sampingnya. Sebuah pertanyaan besar muncul dalam benak Zara. Penyakit apa yang di derita Ken saat ini. Selama ini Ken terlihat sangat sehat.
******
Laksmi memperhatikan Naia dan Ken yang baru memasuki rumahnya. Mata Laksmi tak luput dari wajah Ken.
" Kalian dari mana saja?" Tanya Laksmi menegur Naila dan Ken yang tampak cuek seolah dirinya tidak ada.
" Kami mampir sebentar ke rumah teman Ken." Jawab Naila menghentikan langkahnya sebentar.
" Suamimu kenapa?"
" Gak papa." jawab Naila cuek dan berjalan kembali menyusul Ken memasuki kamar mereka.
Laksmi mendengkus sebal karena Naila dan Ken sama- sama bersikap acuh padanya.
" Harusnya kita ke rumah sakit, Ken." Ucap Naila menatap Ken sendu.
" Udah gak papa, sayang."
" Tapi Ken..."
' Cup'
Ken mampu membungkam ocehan Naila yang sejak tadi dia lontarkan dengan kecupan singkatnya.
" Kamu nihh.." Protes Naila dengan wajah merona merah tersipu malu.
" Udah suami istri aja masih malu- malu." Ken menarik gemas hidung Naila. Ken membuka bajunya.
Mendengar kalimar Ken yang seperti menantang dirinya. Tanpa ragu- ragu Naila memeluk Ken yang kini bertelanj*ng dada.
" Mau apa anak kecil ini?" Ledek Ken dan melingkarkan tangannya di pinggang Naila.
Naila hanya tersenyum nakal sambil menatap Ken dalam. Sesekali Naila mencium dada Ken.
" Jangan mancing sayang."
__ADS_1
" Aku gak mancing. Aku lagi merayu suami aku." Ujar Naila manja dan mengalungkan tangannya pada leher Ken agar Ken sedikit membungkukkan badannya. Naila sedikit berjinjit agar bibir mereka bisa saling bertemu.