
Masa orientasi di hari kedua terasa begitu menyenangkan, tidak terkecuali bagi Zahra, Sesil, dan Renita. Mereka sangat bersemangat mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh panitia mos di ruangan mereka. Terutama Renita, ia sangat bersemangat mengerjakan setiap perintah yang di berikan oleh panitia mos, bisa tidak bisa, mengerti ataupun tidak, Renita tetap saja mengerjakan nya. Mengapa begitu? Karena dengan begitu ia bisa terus berdekatan dengan Ardi, sosok kakak osis yang ia kagumi. Renita selalu bertanya tentang tugas yang ia terima, dan Ardi selalu bisa membantu nya dan bahkan sesekali Ardi menjahili Renita dengan memberikan jawaban yang salah, sehingga Renita harus berusaha mencari Ardi yang tidak bisa diam hanya di satu tempat. “Kak Ardi suka reseh iihh...”. Gerutu Renita yang sedikit kesal karena harus beberapa kali mengganti jawaban nya. Sambil terus mencari Ardi yang entah sedang berada dimana, matanya terus mengawasi Rendi yang terlihat mengawasi Zahra dari kejauhan. Renita menyadari bahwa Rendi menaruh perasaan kepada sahabat nya itu, hanya saja ia tidak bisa menunjukkan nya seperti kakak\-kakak osis di ruangan lainnya. “Kakak itu suka sama Zahra tapi Cuma bisa ngeliyat dari jauh. Tapi bagus lah, jadi Zahra gak perlu capek\-capek nundukkin kepalanya karena di perhatiin kaya gitu. Tapi bisa jadi kak Rendi itu berusaha profesional”. Gumam nya dalam hati. “Daaarr..!! hayoo!! Bengong aja, ngeliyatin siapa? Cowok\-cowok ganteng dari ruangan lain yaaa??”. Renita yang merasa kaget spontan memukul Ardi dengan buku yang ada di tangan nya. “Iiisshh.. kakak ini!! Kaget tahu! Bikin jantungan aja..”. Meskipun Renita sudah mengomel dan memukul nya, namun Ardi tidak merasa bersalah sama sekali ia malah tertawa melihat tingkah Renita yang tidak bisa dijelaskan seperti apa. Seperti nya waktu terasa begitu cepat berlalu, tanpa terasa jarum jam menunjukkan tepat pukul sebelas lewat lima belas menit. Para peserta MOS mulai memasuki ruangan untuk membereskan perlengkapan MOS dan bersiap\-siap melaksanakan shalat dzuhur, terkecuali Renita. “Baik semua nya, rapihkan perlengkapan kalian dan bersiap\-siap menuju ke mushola”. Terdengar Ocha memberikan instruksi. Mendengar instruksi dari Ocha, Zahra memalingkan wajahnya ke arah Renita, ia hanya memastikan apakah Renita merasa terasingkan atau tidak. Sewaktu SMP Renita tidak perlu khawatir dan merasa terasingkan saat jam\-jam ibadah bagi umat muslim tiba. Karena di SMP mereka dulu, ada banyak siswa/siswi dengan agama yang berbeda\-beda. Tapi sekarang.. Renita bagaikan setetes air di tengah gurun pasir. Renita tersadar dari lamunan nya ketika Zahra tiba\-tiba berdiri di samping nya. Renita hanya tersenyum pelan ketika menatap wajah Zahra yang datar seakan tengah memikirkan sesuatu. “Ikut aja yuk! Gak apa\-apa kok, nanti aku yang jelasin kalo ada yang nanya kenapa kamu gak shalat”. Pinta Zahra seraya duduk di kursi yang berada tepat di sebelahnya. Renita hanya menundukkan kepalanya, sebelumnya ia belum pernah merasakan situasi yang begitu membuatnya merasa berbeda dengan yang lain. “Enggak deh, Juwi ke mushola aja sama temen\-temen yang lain. Aku gak apa\-apa kok disini sendiri..an”. Ucap Renita dengan lirih dan mata yang mulai berkaca\-kaca. Zahra sangat mengerti bagaimana perasaan Renita saat ini, dengan semampunya ia berusaha membuat Renita semangat kembali. “Ayolah Ren, ikut aja. Kalo kamu mau disini aja, bilang aja kamu sedang tidak shalat. Gimana?”. Zahra mencoba membujuk Renita agar Renita merasa sedikit lebih tenang. “Juwita Maharani.. Kenapa kamu sama teman kamu masih di dalam ruangan? Shalat dzuhur akan segera di mulai”. Rendi berusaha tenang saat bertanya kepada Zahra, meskipun sebenarnya lidah nya sangat kaku dan mulutnya terasa terkunci.
Zahra dan Renita tersentak dengan Rendi yang tiba-tiba saja muncul dan melontarkan pertanyaan. “Iya kak, sebentar lagi saya keluar. Tapi kak, teman saya sedang tidak shalat. Dia harus menunggu dimana? Disini atau dimana kak?”. Rendi berpikir sejenak. “Siapa nama teman kamu Juwita?”. “Renita, kak”. Jawab Zahra dengan gugup. “Mmm... ya udah, kalo gitu Renita nunggu disini aja. Renita gak apa-apa kan nunggu disini sendirian?”. Renita hanya menganggukkan kepalanya.