Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
78


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang. Naila tampak banyak berdiam diri. Pikirannya tak karuan setelah mengetahui fakta siapa Ken sebenarnya. Naila merasa berada jauh di bawah Ken. Apalah dia yanh harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan sejumlah uang yang mungkin menurut Ken hanya receh.


" Kamu pasti cape." Ken membuka pembicaraannya.


" Dikit." Sahut Naila dengan senyum canggung. Harusnya tadi dia tidak mencari tahu apa- apa tentang Ken. " Ken."


" Ya."


" Apa kamu yakin akan menikah denganku?" Tanya Naila dan menggigit bibir bawahnya. Merasa gugup mendengar jawaban Ken.


" Semua yang diperlukan untuk pernikahan kita sudah siap. Tinggal sebar undangan aja. Kenapa kamu keliatan ragu?"


" Bukan ragu. Tapi aku takut keluargamu gak mau terima aku." Ucap Naila mengungkapkan kegelisahannya. Mengetahui Ken seorang CEO aja udah bikin Naila gak bisa tidur semalaman. Apa lagi ini..


Ken menatap Naila sekilas dan kembali fokus mengendarai mobilnya kembali. " Aku yakin mereka akan menerima kamu." Ucap Ken meyakinkan.


" Tapi sebulan lalu ibu kamu enggan memakaikan cincin di jari manisku." Ujar Naila dengan wajah sendu.


Ken menepikan mobilnya dan menatap Naila lekat. " Kamu adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku. Masih mau menentang Tuhan?" Ujar Ken dengan wajah penuh senyuman. Jika banyak gadis yang ingin mendapatkannya, Gadis di hadapannya seolah merasa tidak nyaman dengan apa yang Ken miliki.


Naila menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ken memang selalu berhasil membujuknya.


" Besok kamu libur?"


" Aku masih kerja. Ada apa?"


" Minta izin dengan manajermu. Aku mau mengajakmu bertemu dengan papaku." Ucap Ken.


" Tapi..."


" Perlu aku yang bicara dengan manajermu?"


" Biar aku sendiri." Jawab Naila cepat dan pasrah.


" Besok aku jemput jam tiga sore." Ujar Ken dan menghentikan mobilnya tepat di depan kost Naila.


" Aku turun dulu. Bye " Ujar Naila dan langsung turun dari mobil Ken.


Ken yang awalnya ingin turun dan membukakan pintu untuk Naila hanya bisa tersenyum melihat gadis itu turun dengan terburu- buru.


******


Berkali- kali Zara memeriksa suhu tubuh Arkan. Panasnya tidak kunjung turun juga. Zara melihat jam mungil yang ada diatas nakas. Sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Alfi juga sedang berada di luar kota. Zara menggigit bibir bawahnya seraya berpikir.


" Sayang. Panas Arkan gak turun juga. Gimana ini?" Tanya Zara dengan nada panik ketika dia akhirnya memutuskan menghubungi Alfi.

__ADS_1


" Kamu bawa ke rumah sakit aja." Ucap Alfi. " Aku akan minta tolong Desta." Ucap Alfi dan segera menutup sambungan teleponnya.


Zara menunggu kabar dari Alfi dengan gelisah. Arkan yang sejak tadi demam. Tak henti menangis. Suara tangisan Arkan menggema hingga ke seluruh ruangan.


" Halo. Desta mau kan?" Tanya Zara cepat.


" Gak di angkat sama Desta." Alfi terdengar kecewa.


" Yasudah.Aku bawa sendiri aja." Ujar Zara cepat.


" Jangan! Ini udah malam sayang. Kamu tunggu Ken aja. Dia ada di dekat sana habis mengantar tunangannya. Mungkin sebentar lagi dia sampai." Ucap Alfi. Walaupun sebenarnya ada rasa gelisah di hatinya membiarkan Zara kembali pergi dengan Ken.


" Apa kamu yakin?" Tanya Zara terdengar sedikit ragu.


" Ya. Untuk keselamatan kalian." Ucap Alfi.


Nuri segera menyiapkan perlengkapan milik Arkan. Zara terus berusaha agar Arkan sedikit tenang. Tapi tidak berhasil. Arkan memang selalu rewel jika badannya sedang tidak sehat.


" Itu pasti Ken." Ucap Zara sedikit lega karena terdengar suara mobil Ken. " Ayo Nuri." Ucap Zara bergegas keluar dari rumah.


Belum juga Ken turun dari mobil. Zara sudah menghampiri mobilnya. " Maaf merepotkanmu lagi, Ken." Ujar Zara dan duduk di kursi penumpang samping Ken.


" Gak masalah." Ucap Ken singkat dan langsung melajukan kembali mobilnya.


" Sejak tadi Arkan demam tinggi. Aku sudah kasih obat. Tapi demamnya gak turun juga." Ujar Zara di tengah riuhnya suara tangisan Arkan.


" Dia tidak mau menyusu." Ucap Zara.


Ken agak sedikit malu mengatakan ini. Tapi mau bagaimana lagi. " Susui langsung." Ucap Ken dan enggan melihat ke arah Zara.


Zara terdiam. Selama ini Zara memang tidak pernah menyusui langsung Arkan dari P*tingnya Zara selalu memompa ASInya dan dimasukkan ke botol.


" Kamu yakin?" Tanya Zara terlihat ragu.


" Itu yang gue tau dari kakak gue." Ucap Ken.


Zara terlihat ragu dan sedikit malu untuk mengeluarkan p*yudar*nya. Di sampingnya ada Ken. Walaupun Zara tahu jika Ken tidak akan melihatnya. Tetap saja Zara merasa ragu.


Ken mengambil jas yang tadi dia kenakan dan memang dia letakkan di sandaran kursinya.


" Tutupi dengan ini. Maaf kalo sedikit bau." Ujar Ken dan memberikan jasnya pada Zara.


Zara menerima jas pemberian Ken. Dadanya kembali berdebar kala mencium aroma tubuh Ken yang melekat pada jas itu. Arkan yang sejak tadi rewel. Sedikit lebih tenang menyusu secara langsung dari p*ting Zara.


Ken membelokkan mobilnya di rumah sakit dan menepikan mobilnya dekat ruang UGD. Ken segera turun dan membukakan pintu mobiknya untuk Zara. Zara terlihat sedikit kerepotan karena sedang menggendong Arkan sambil menyusu padanya. Dengan sigap. Ken membantu membawakan tas milik Zara dan mengantar Zara masuk ke dalam.

__ADS_1


Ken sengaja berjalan lebih dahulu. Zara dan Nuri mengekor Ken yang berjalan cepat. Dengan ceoat. Arkan di tangani oleh dokter walaupun tangisnya kembali menggema memenuhi seluruh ruangan UGD.


" Tidak ada yang serius pada putra bapak dan ibu." Ucap Dokter tersebut pada Ken dan Zara.


" Dia bukan istri saya." Ucap Ken cepat meralat ucapan dokter tersebut.


" Ohh maaf. Saya pikir dia istri bapak." Dokter tersebut tersenyum canggung.


" Lalu kenapa panasnya gak turun- turun, Dok." Tanya Zara dengan wajah cemas.


" Sekarang pasti sudah berangsur turun." Ucap Dokter tersebut.


Zara sontak saja memegang kening Arkan mengecek suhu tubuhnya. Ken ikut memperhatikan. Zara mengangguk pada Ken membenarkan ucapan dokter.


" Itu hanya demam biasa. Mungkin dia mau tumbuh gigi. Saya berikan resepnya. Berikan ASI sesering mungkin agar panasnya tidak naik lagi." Saran dari dokter itu.


" Biar gue yang ambil. Lo sama Nuri tunggu aja." Ujar Ken mengambil resep yang diberikan dokter. Ken langsung bergegas menuju apotek yang juga tersedia di rumah sakit itu. Tak ada antrian. Karena sekarang jam sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam. Berkali- kali Ken menguap menunggu obatnya disiapkan apoteker. Tubuh yang lelah membuatnya terserang rasa kantuk. Tak butuh waktu terlalu lama. Obat Arkan sudah didapatkan Ken. Ken segera menghampiri Zara dan mengantarkan mereka pulang.


" Mau mampir dulu Ken?" Tawar Zara.


" Lain kali. Ini sudah terlalu malam." Tolak Ken sambil menguap.


" Minum kopi dulu, Ken. Bahaya menyetir saat ngantuk." Ucap Zara.


Ken membenarkan ucapan Zara. Dia mengambil tawaran itu. Ken memilih duduk di sofa ruang tamu. Ken memejamkan matanya untuk sebentar saja. Menghilngkan rasa kantuknya. Dalam sekejap, Ken terlelap dalam peraduan mimpi.


Zara datang membawakan secangkir kopi untuk Ken hanya bisa tersenyum melihat Ken sudah sangat lelap tertidur. Dia pasti sangat lelah sampai secepat itu dia nyenyak dalam tidurnya.


Zara meletakkan cangkir kopu di meja hadapan Ken dan segera meninggalkan Ken tertidut di sofa ruang tamu. Zara menghubungi Alfi.


" Bagaimana keadaan Arkan? Apa dia dirawat?" Tanya Alfi dengan cemas.


" Sekarang sudah turun panasnya. Tapi..." Zara terlihat menimbang- nimbang untuk memberitahu Alfi jika Ken tertidur di rumahnya.


" Tapi apa sayang?" Tanya Alfi membuyarkan lamunan Zara.


" Ken ketiduran di sofa ruang tamu." Ucap zara. " Aku hanya tinggal sebentar membuatkan kopi. Tapi dengan cepat dia lelap." Ujar Zara menjelaskan.


Alfi segera mengalihkan panggilannya menjadi video call.


" Aku mau lihat Arkan dan Ken." Ucap Alfi.


Zara segera mengubah kameranya dan menyorot Arkan yang sudah terlelap. Lalu Zara keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Terlihat Ken masih dengan posisi yang sama.


" Suruh Nuri menyelimuti tubub Ken. Kasihan dia pasti lelah, sayang." Perintah Alfi. Zara mengikuti perintah Alfi.

__ADS_1


Terlihat Nuri membeikan selimut pada Ken. Zara hanya terdiam menahan sesuatu yang bergejolak dalam dadanya.


__ADS_2