
Rumi masih terlihat kesal karena melihat kemesraan Ken dan Naila. Arsyi hanya melemparkan senyum melihat tingkah Rumi yang uring- uringan.
" Ikhlas aja sih, Rum." Ujar Desta dan memberikan sepotong buah untuk Arsyi.
" Kesel tau gak!' Rutuk Rumi. " Harusnya gue yang di posisi dia. Masa anak kampung begitu!"
" Gue kan udah bilang dari awal. Ken gak suka sama cewek kasar." Desta mengulang ucapannya dulu.
" Kalo lo jadi gue. Pasti juga akan kesel. Ngedate pertama udah dibikin kesel!" Omel Rumi.
" Udah.. Sabar sih.." Ucap Arsyi menanggapi. " Elo ama Ken emang gak jodoh kali, Rum." Ucap Arsyi..
" Dia tuh cowok inceran gue!" Rumi masih melampiaskan kekesalannya. " Ganteng dan yang paling penting dia kaya. Gak kebayang betapa enaknya hidup gue kalo jadi istri Ken." Rumi kembali berandai- andai.
Desta menarik nafasnya dalam dan menggelengkan kepalanya. Pantas saja Ken tidak tertarik dengan Rumi. Pikirannya gak jauh- jauh dari masalah uang.
" Lo harus bantuin gue, Des."
" Kok gue?!"
" Elo kan sahabatnya dia!" Omel Rumi kesal.
" Asal lo tau aja. Ken paling susah di rubah keputusannya dia antara kita."
" Terus?"
" Elo berdoa aja biar Ken tiba- tiba ngebatalin pernikahannya." Ucap Desta kesal.
" Huuu!" Rumi mengambil tasnya. " Gue balik dulu. Sia- sia aja gue dateng kesini!"
*******
Anggi melihat Ken dengan lekat. Hasi pemeriksaan kesehatan Ken sudah keluar. Beberapa kali Anggi terlihat menarik nafas dalam. Sedangkan Ken hanya menatapnya dengan sikap yang tenang.
" Apa ada yang salah?" Tanya Ken karena Anggi masih juga diam.
" Apa di keluargamu ada yang punya riwayat penyakit jantung?" Tanya Anggi membuka pembicaraannya.
" Ya. Kakekku meninggal karena serangan jantung. Apa jantungku bermasalah?" Tanya Ken menerka hasilnya.
Anggi kembali menarik nafas. " Ya." Ucap Anggi. " Ada penyumbatan di bilik kanan jantungmu. Tapi ini masih gejala awal, Ken. Sangat masih bisa kita obati dan masih sangat besar harapan untuk smbuh." Ucap Anggi.
" Lalu?"
" Yang menjadi masalah. Sepertinya ada kerusakan pada sumsum tulang belakangmu. Itu menyebabkan produksi sel darah merah pada tubuhmu tidak stabil." Anggi kembali menjelaskan.
" Apa penyebabnya?" Tanya Ken.
" Bisa di akibatkan karena adanya mutasi genetik. Atau bisa jadi karena kanker."
Ken langsung terdiam. Tetapi masih tetap berusaha untuk tenang.
" Apa perlu dilakukan pemeriksaan lagi?"
" Ya. Untuk memastikan. Aku harap ini cuma mutai genetik yang bersifat sementara, Ken." Ucap Anggi penuh harap. Biar bagaimanapun. Ken adalah teman saat kuliah. Walaupun mereka tidak pernah dekat Tetapi Anggi pernah menjadikan Ken sebuah motivasi agat ia rajin berangkat ke kampus.
Anggi langsung memberikan surat pengantar untuk Ken melakukan sejumlah pemeriksaan lagi. Ken melakukan semuanya dengan sikap tenang. Setelah semua selesai Ken langsung pergi ke restaurant tempat Naila bekerja.
__ADS_1
Ken memang terlihat tenang mendengar penjelasan Anggi. Tetapi sedikit banyak Ken memikirkan ucapan Anggi. Penyumbatan Jantung. Ken tidak menyangkan jika dia akan mengidap penyakit itu.
" Sayang." Ucap Naila ketika menghampiri Ken yang masih diam dibalik kemudinya.
" Masuklah." Ucap Ken.
Naila segera duduk di kursi penumpang samping Ken. " Bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan kamu?" Tanya Naila. Ken memang mengabarkan akan memeriksakan kesehatannya.
" Ada sedikit masalah dengan jantungku." Ujar Ken. " Tapi itu bisa sembuh asal rutin minum obat dan istirahat yang cukup." Ucap Ken agar Naila tidak panik.
" Benarkah?" Naila menatap Ken dalam.
" Iya." Ujar Ken dan mencubit gemas pipi Naila. " Kamu masih mau jadi istriku kan?"
" Iya. Aku akan mendampingi kamu apapun keadaan kamu." Ujar Naila dan memegang tangan Ken yang memang sedang memegang perseneling.
******
Ken menatap layar laptopnya. Inilah kegiatannya sejak kantor ayahnya resmi beroperasi. Tak ada kata istirahat dalam kamus Ken. Di kantor hingga di rumah. Selalu saja dirinya di sibukkan dengan urusan kantor.
Ken meregangkan tubuhnya. Pegal sekali rasanya. Sejak pulang dari kantor. Dirinya sudah kembali berkutat dengan pekerjaan kembali. Ken melihat ponselnya ada beberapa pesan dari Anggi.
Ken segera menghubungi Anggi.
" Ada apa?"
" Aku jelaskan. Sekarang kamu buka pintu apartemen kamu." Ucap Anggi.
Ken membuka pintu apartemennya. Terlihat Anggi sudah berdiri di depan pintu dengan sebuah map coklat di tangannya.
" Boleh aku masuk?" Tanya Anggi.
" Kamu mau minum apa?" Tanya Ken menawarkan.
" Aku tidak lama."
" Oke." Ken kembali duduk.
" Hasil pemeriksaan kesehatan kamu sudah keluar. Sebelumnya aku bertanya. Apa kamu pernah cedera pada punggung kamu?".
Ken berpikir sejenak. " Dulu aku sering berantem. Kamu pasti tau hal itu kan." Ucap Ken dengan taw kecil.
" Iya." Sahut Anggi. " Pernah mencederai punggungmu?"
" Emmm.. Sepertinya iya." Ucap Ken . " Gimana kalo bahasa kita jangan terlalu formal. Ini bukan di rumah sakit." Ujar Ken merasa aneh bicara terlalu formal dengan Anggi.
" Sorry. Kebiasaan soalnya." Ucap Anggi.
" Terus ada apa?"
" Begini Ken. Cedera itu mengakibatkan sedikit kerusakan pada sumsum tulang punggung kamu jadi itu mengakibatkan proses produksi sel darah dalam tubuh terganggu." Anggi menjelaskan.
" Apa bisa sembuh?"
" Bisa. Dengan terapi."
" Oke."
__ADS_1
Anggi melirik pada layar laptop Ken yang masih menyala lalu Anggi melirik jam pada dinding apartemen Ken yang sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam.
" Untuk kesehatan kamu. Jangan terlalu cape, Ken." Ucap Anggi.
Ken menoleh ke arah laptopnya. " Cuma ngetik doang."
" Tetap cape. Sayangi jantung kamu, Ken." Ucap Anggi menatap Ken dalam.
Ken sejenak terpaku. Dan kemudian Ken membuang pandangannya. " Iya.sebentar lagi selesai." Ucap Ken.
" Sudah malam. Aku pamit, Ken." Ucap Anggi.
" Oke."
" Selesaikan pekerjaanmu. Dan istirahat." Ujar Anggi kembali mengingatkan Ken.
" Siap bu dokter." Gurau Ken.
Anggi menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
" Hati- hati di jalan." Ujar Ken pada Anggi.
Ken kembali menatap layar laptopnya. Tangannya memegang dada kirinya sejenak. Dirasakannya debaran jantungnya yang teratur. Apakah benar yang dikatakan Anggi. Selama ini Ken tidak pernah merasakan nyeri pada dadanya. Ken hanya sering merasakan pusing. Dan bahkan penglihatannya terkadang langsung gelap.
" Baik- baik kau jantung." Ucap Ken sambil mengelus dada kirinya seolah memberikan petuah pada jantungnya sendiri.
' Drrrttt'
Ponsel Ken berdering. Ken melirik ke ponselnya yang memang tergeletak di meja. Terlihat nama Arsyi di layar ponselnya.
" Ada apa?" Tanya Ken datar.
" Bisa bantu gue sekarang?" Tanya Arsyi.
" Ada masalah apa?" Tanya Ken sigap.
" Desta kecelakaan. Tolong jemput dia Ken." Ucap Arsyi.
" Apa?!" Ken tersentak. " Kirimin alamatnya." Ken segera menutup layar laptopnya dan bergegas mengamb jaket serta kunci motornya. Ken harus bergegas.
Ken langsung meluncur menuju alamat yang di berikan Arsyi. Bagi Ken. Desta dan Alfi adalah keluarganya. Tak ada alasan untuk menolak ketika mereka butuh bantuannya.
Tak butuh waktu lama. Ken sampai di alamat yang dituju. Suasana jalan itu terlihat sepi. Ken memarkirkan kendaraannya pada bahu jalan. Jalanan yang cukup gelap. Lampu jalan hanya bersinar temaram. Ken menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok Desta.
Ken segera menghubungi Arsyi.
" Surprise....!!!!" Tiba- tiba muncul banyak orang dari balik kegelapan. Terlihat ada Desta dan Arsyi juga Rumi. Dan beberapa teman- teman Arsyi yang Ken sendiri tidak mengenal mereka.
" Ada apaan ini?!" Tanya Ken tidak suka.
" Rumi mau ngomong Ken." Ujar Desta.
" Gak lucu cara lo!" Omel Ken kesal. Dia sudah terburu- buru untuk sampai di lokasi. Ternyata ini yang dia dapatkan.
" Maaf Ken. Ini ide gue." Bela Arsyi.
Ken bergantian menatap Desta dan Arsyi tajam. Kemudian dia beralih menatap Rumi.
__ADS_1
" Mau ngomong apa?"
" Ken. Gue suka sama elo. Mau gak elo jadi pacar gue?" Ungkap Rumi tanpa malu- malu.