
Alfi menatap Zara dengan tatapan sendu. Tak tega rasanya dia melihat Zara seperti ini. Walapun kini Zara terlihat sedang tertawa karena sedang bermain dengan Arkan. Alfi tahu jika sebenarnya hati Zara terluka.
" Kamu benar- benar akan menceraikan Zara, Al?" Tanya Siska sedikit mengecilkan volume suaranya.
" Alfi mau Zara bahagia, Ma. Selama ini Zara akan terlihat bahagia kalo dia sama Ken." Jawab Alfi.
" Tapi Ken gak mau membahagiakan Zara." Ucap Siska lirih.
" Ken seperti itu karena dia merasa bersalah sama aku, Ma." Ucap Alfi. " Aku yakin mereka akan bahagia." Ucap Alfi. Ada rasa sakit yang Alfi tahan.
" Rujuklah, Al."
Alfi beralih menatap mertuanya. " Zara akan melakukan hal yang sama lagi."
" Mama akan menjaga dia agar tidak menemui Ken lagi." Ucap Siska.
Alfi menarik nafas dalam. Alfi memang sempat berpikir seperti itu. Tetapi ada rasa takut kembali dikhianati oleh Zara bergelayut dalam benaknya.
" Alfi permisi dulu, Ma."
Alfi keluar dari kamar Zara dan segera menghubungi Ken agar dia kembali ke rumah sakit. Ken yang belum juga sampai di apartemennya. Kembali membelokkan mobilnya menuju rumah sakit. Masalah ini harus segera selesai.
" Ada apa?" Tanya Ken ketika sampai.
" Masuk." Ajak Alfi.
Ken menarik nafasnya dalam dan mencoba mengatur situasinya. Sejak kemarin hingga hari ini. Hidupnya hanya berkutat dengan Zara.
" Ken. Bahagiain Zara." Ucap Alfi ketika semua mata yang tertuju mengarah pada mereka.
Ken menyunggingkan senyumnya tipis. " Harus gue bilang iya masalah ini akan selesai?"
" Zara cintanya sama lo, Ken." Alfi kembali menegaskan.
" Cukup, Al. Gue bosen sama kata- kata itu." Bentak Ken. " Gue minta semua yang ada di sini keluar kecuali gue sama Alfi." Perintah Ken dengan wajah kesal. Tak dipedulikannya jika di sana ada Siska.
Siska dan Nuri keluar dari kamar Zara membiarkan mereka menyelesaikan masalah ini.
" Kenapa lo b*nuh diri?" Tanya Ken pada Zara.
" Aku merasa sendiri."
" Gue harus apa biar lo sadar cinta lo gak akan gue sambut."
" Tapi kenapa kamu...
" Cium lo? Gue bosan denger kata cemburu keluar dari mulut lo. Elo mau gue c*um lagi? Elo mau apa lagi dari gue? Melayani lo di ranjang?" Cecar Ken membabi buta.
" Jaga ucapan lo, Ken!" Alfi melayangkan tinjunya pada wajah Ken.
__ADS_1
" Elo yang minta gue ke sini, bukan?!" Bentak Ken kesal dengan sikap Alfi. "Biarkan gue selesaikan masalah ini." Ucap Ken kesal dan menghampiri Zara.
" Elo mau apa dari gue?" Ken menatap Zara lekat.
Mata Zara sudah berkaca- kaca.
" Menikah? Kalo itu gue gak bisa, Zar." Ucap Ken kembali menegaskan.
" Elo liat lelaki itu baik- baik. Buka mata lo lebar- lebar. Alfi selalu ada buat lo! Dia yang selalu bela elo."
Zara tertunduk dan hatinya memang membenarkan itu.
Ken menarik nafasnya panjang. " Gue cape sama masalah ini. Bertahun- tahun gak selesai." Keluh Ken. " Di hati gue udah ada Kinan. Jadi jangan berharap banyak dari gue." Ucap Ken. " Gue anggap masalah ini selesai. Elo jangan pernah chat gue secara pribadi!" Ken memperingatkan Zara. " Sekarang kalian selesaikan masalah rumah tangga kalian." Ucap Ken dingin dan pergi begitu saja.
Tangis Zara langsung pecah ketika Ken sudah menghilang dibalik pintu. Alfi mengelus lembut punggung Zara. Ucapan Ken memang sangat menohok tapi mungkin itu adalah cara agar Zara bisa lepas dari dia.
******
Seminggu berlalu sudah. Zara sudah dinyatakan sembuh. Alfi yang setia merawat dan menjaga Zara selama ini. Ken tak lagi menampakkan wajahnya. Pesan dari Zara tak ada yang digubris Ken. Mungkin Zara memang harus mengubur cintanya sedalam mungkin.
" Aku udah mengurus administrasi kamu. Aku akan mengantarmu pulang." Ujar Alfi yang baru saja kembali setelah menyelesaikan administrasi Zara.
" Boleh aku pulang ke rumah kita?" Ucap Zara lembut.
Alfi menatap Zara tak percaya. " Kamu..." Alfi tak mampu melanjutkan kata- katanya karena hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Zara.
" Aku gak mau cerai dari kamu, Al." Sambung Zara kembali membuat Alfi berbunga- bunga. " Maafkan aku yang terlalu lama berpaling. Aku mau merajut kembali kebahagiaan keluarga kita."
" Aku akan menguburnya dalam- dalam." Ucap Zara.
Alfi langsung memeluk Zara dengan erat. Semoga ini semua menjadi awal kebahagiaan keluarga mereka. Biarlah dia dan Ken saling menjaga jarak. Semua demi keutuhan rumah tangganya dengan Zara.
*******
Tiga bulan berlalu sudah. Alfi dan Zara kembali melanjutkan kehidupan mereka dengan bahagia. Zara juga terlihat menikmati kebersamaannya bersama Alfi dan Arkan. Nama Ken tak pernah lagi terucap dalam rumah ini. Alfi hanya menghubungi Ken saat di kantor dan itupun hanya sebatas masalah pekerjaan. Biar bagaimanapun. Bekerja sama dengan perusahaan Ken akan menguntungkan perusahaan Alfi. Mendapatkan tender dengan mudah lewat jalur orang dalam. Kansai group terkenal sangat selektif untuk memilih partner bisnis.
Perusahaan Alfi berkembang sangat pesat semenjak dikenal juga berhasil mendapatkan tender dari Kansai Group. Alfi semakin sibuk dan menjadi sering keluar kota untuk mengurus bisnisnya.
Jika dulu Zara selalu menghubungi Ken untuk menemaninya. Kini Zara lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Arkan. Seperti hari ini. Zara mengajak Arkan dan Nuri ke pusat perbelanjaan. Sedikit memanjakan dirinya dengan berbelanja takkan menjadi soal.
Zara asik memilih baju untuk Arkan. Berkeliling mencari yang lucu dan cocok untuk putranya.
" Kalo ada yang kamu taksir. Ambil aja ya, Nur. Biar saya yang bayar." Ujar Zara pada Nuri.
" Iya, Bu."
Zara mengambil beberapa pasang baju untuk Arkan. Dan
' Buk.'
__ADS_1
" Sorry. Sorry." Ucap seorang wanita muda dan cantik yang bertabrakan dengan Zara. Segera membantu Zara memunguti baju yang berserakan.
" Gak papa."
" Maaf banget ya, mba." Ucap wanita itu dengan wajah menyesal.
" Gak papa. Saya juga minta maaf . Gak liat jalan." Ucap Zara
" Itu anak mba?" Tanyanya sambil melihat Arkan.
" Iya."
" Ihh lucu banget." Ucap Wanita itu dengan gemas.
" Ohh iya. Nama aku Naila." Wanita itu menjulurkan tangannya.
" Zara." Ucap Zara menyambut tangan Naila.
" Izinkan aku beliin baju untuk dia ya, Mba?!" Tanya Naila dan belum di jawab Zara Naila langsung memilihkan baju untuk Arkan.
" Ini kayanya cocok." Ucap Naila yang mengambil setelan kemeja berwarna biru untuk Arkan.
" Ohh iya nama kamu siapa?"
" Namanya Arkan." Ucap Zara.
Zara dan Naila dengan cepat bisa menjadi akrab. Mereka memutuskan untuk berbelanja bersama. Sikap Naila yang supel membuatnya mudah akrab dengan siapa saja.
Tak terasa sudah dua jam mereka berkeliling bersama. Naila mengajak Zara untuk makan bersama. Naila mengajaknya masuk ke sebuah restoran cepat saji.
" Kamu udah nikah?" Tanya Zara di sela mereka menyantap makanannya.
" Dua bulan lagi, Mba. Mba datang ya. Oh iya. Aku minta nomor mba ya." Naila memberikan ponselnya.
Zara mengetikkan nomor ponselnya.
" Pasti bahagia banget ya yang jadi suami kamu. Kamu lucu." Ucap Zara.
" Bisa aja, Mba. Nanti dia jemput aku. Nanti aku kenalin." Ucap Naila. " Nah kan dia nelepon. Pasti udah sampe."
" Iya sayang. Aku di restoran yang ada di lantai tiga." Ucap Naila singkat dan kembali menutup sambungan teleponnya.
Zara dan Naila menghabiskan makanan mereka. " Aku senang bisa kenal sama kamu, Nai." Ungkap Zara.
" Aku juga. Jadi berasa punya kakak." Ucap Naila. Senyum dibibirnya tidak pernah pudar.
Naila mengangkat tangannya memanggil calon suami yang sudah terlihat di pintu masuk. Zara yang memang membelakangi. Menoleh ke arah pintu masuk. Penasaran dengan calon suami Naila.
" Ken.." Zara terpaku begitu melihat Ken yang datang menghampirinya.
__ADS_1
Ken juga tak kalah kaget dengan Zara. Bagaimana bisa dia bersama dengan Naila.