
Namun gadis itu tampak tidak memperdulikan teriakan dan tertawaan yang di tujukan kepadanya, dia hanya fokus mengejar Rendi yang berada cukup jauh darinya. “Akhirnya aku dapat mengejarmu”. Keluh gadis itu. “Cukup! Berhenti mengejar ku, Fan”. Pinta Rendi. Iniii diiiaaaaaaa... Fanny Socia. Dia adalah salah satu fans berat dan fanatik nya Rendi. Sejak SMP, Fanny sudah menyukai Rendi. Namun Rendi tidak pernah merespon perasaan Fanny, entah sudah berapa kali Rendi menghindar dari Fanny dan Fanny tidak pernah menganggap hal itu sebagai bentuk penolakan dari Rendi.
__ADS_1
“Aku cuma mau nemenin kamu nge-MOS anak-anak baru itu. Aku mau mereka tahu, kalo aku sayang banget sama kamu Ren”. Ucap Fanny dengan suara sedikit sombong. Mendengar ucapan Fanny, Rendi langsung pergi begitu saja meninggalkan Fanny tanpa menghiraukan teriakan Fanny yang terus memanggil nya agar berhenti. Sementara itu di lapangan upacara, anggota osis yang lain segera mengambil alih dan membagikan ruangan untuk persiapan MOS. Renita, Sesil, dan Zahra beruntung sekali. Mereka di tempatkan di ruangan yang sama, hanya tempat duduk mereka yang sedikit berjauhan.
__ADS_1
PERHATIAN, UNTUK SELURUH ANGGOTA OSIS ATAU PANITIA MOS. SILAHKAN KELUAR RUANGAN DAN BERKUMPUL DI MULTIMEDIA. SEKIAN, TERIMA KASIH.
__ADS_1
Di Multimediaaaaaa.......
__ADS_1
“Baik, apa semua nya sudah berkumpul disini???”. Tanya Rendi seraya menatap seluruh isi ruangan. “Sudaahhh...”. Jawab mereka (panitia MOS) semua dengan serempak. “Bagus!!”. Respon rendi. “Kita berkumpul disini untuk persiapan MOS yang di mulai pada hari ini. Kita memang sudah mempersiapkan semua nya sejak sebulan lalu, namuuun.. Atas permintaan dari pembina osis, kita di minta untuk mempersiapkan nya lagi agar lebih perfect!”. Jelas Rendi kepada semua anggota nya yang duduk dengan tertib di kursi-kursi di hadapan nya. Rendi adalah sosok ketua osis yang sangat perduli dengan anggota nya, sekolah, dan sangat bertanggung jawab dalam menjalankan tugas nya sebagai ketua osis dan rohis. Tidak heran, banyak guru-guru, bahkan teman-temannya kagum dengan sosok Rendi. “Teman-teman sekalian, apakah ada keluhan dari masing-masing ruangan yang kalian pegang???” Tanya Rendi dengan santai namun serius. Awalnya semua hanya menggeleng pelan, dan akhirnya ada satu orang yang mengangkat tangan nya. “ Saya rasa, kita juga harus memberikan materi agama kepada adik-adik baru kita”. Terlihat Ardi memberikan saran. Rendi sudah mengerti mengapa Ardi mengusulkan hal itu. Namun dia tetap bertanya untuk kepastiannya. “Tujuan nya untuk apa Di???”. Ardi Melihat sekeliling, lebih tepatnya melihat reaksi teman-temannya tentang usulan nya itu. Ardi sudah menangkap banyak kode dari ekspresi teman-temannya, dengan tenang namun pasti Ardi pun menjelaskan maksud dan tujuan dari usulan nya tersebut. “Gini Ren, kita semua pasti sudah pada tahu dong kita sekarang di tingkat apa? Kaya nya kurang realistis aja anak seumuran kita belum paham apa-apa soal agama. Oke, saya juga belum paham. Tapi setidaknya saya tahu, dan saya juga yakin teman-teman disini juga banyak yang ilmu agama nya bagus. Daripada kita simpen sendiri, kan lebih baik lagi kalo kita kasih tahu ke adik-adik dan ke rekan-rekan kita yang lain”.
__ADS_1