
Sejak pagi- pagi sekali. Keluarga Naila sudah bersiap- siap. Bis yang akan mereka tumpangi berangkat jam delapan pagi. Ken sengaja mengosongkan jadwalnya sampai siang nanti agar bisa mengantar keluarga Naila menuju terminal. Ken sudah menawarkan untuk mengantar mereka sampai kampung halaman. Tetapi orang tua Naia menolaknya.
" Nduk. Ingat pesan bapak ya." Ucap Tejo memegang tangan Naila. " Jangan sampai kemewahan yang suamimu berikan membuatmu lupa diri." Tejo memberikan petuah.
" Iya, Pak."
Tejo beralih pada Ken yang memang berada di samping Naila. " Bapak titip anak Bapak." Ujar Tejo menepuk lengan Ken. " Jangan kamu sakiti Naila. Jika Naila sudah tidak berkenan di hatimu. Kembalikan Naila pada kami, Ken."
" Saya akan bahagiakan Naila, Pak." Ucap Ken meyakinkan Tejo.
" Bude nitip Laksmi juga yoo Ken. Tolong bahagiakan dia juga." Sahut Ningsih dan ucapannya membuat siapapun yang mendengar terperangah. Masa iya Ken harus membahagiakan Laksmi. Emang siapa dia.
******
" Kamu jadi lihat keadaan Alfi?" Tanya Naila saat mereka dalam perjalanan pulang setelah melepas keberangkatan orang tuanya.
" Jadi. Kamu mau ikut?"
" Kalo kamu gak keberatan." Ujar Naila. Dia masih tidak bisa membiarkan Ken sendirian ke rumah Alfi. Di sana ada Zara yang beberapa kali tertangkap Naila mencuri pandang pada Ken.
" Engga dong." Ken membelokkan mobilnya menuju rumah Alfi.
" Hai Ken." Sapa Zara dengan wajah riang. Tampaknya keadaannya sudah baik- baik saja ketika melihat Ken masuk ke dalam rumahnya.
" Gue mau lihat keadaan Alfi." Ujar Ken.
" Dia lagi tidur. Tadi abis minum obat." Ujar Zara mendekat pada Ken. Tetapi langkahnya terhenti saat Naila muncul di balik pintu.
" Hai, Mba." Sapa Naila riang.
Zara tersenyum canggung melihat Naila dan beralih menghampiri Naila. " Hai." Ujar Zara. Zara mengajak Naila untuk duduk di sofa ruang tamu.
" Gue mau lihat Alfi, Zar." Ujar Ken. Kedatangannya kesini memang ingin melihat keadaan Alfi.
__ADS_1
" Silahkan." Zara terlihat serba salah. Zara mengantar Ken menuju kamarnya.
Ken duduk di tepi kasur Alfi dan menatap nanar sahabatnya yang tertidur. " Gue harap lo bisa cepat sembuh, Al." Ujar Ken.Tak tega rasanya melihat Alfi dalam keadaan tidak berdaya.
Zara menyuguhkan jus jeruk pada Naila. Dan duduk menemani Naila. " Kamu gak ngabarin mai datang, Nai."
" Ken ngajaknya dadakan, mba." Naila menyeruput minuman yang disuguhkan Zara.
" Oh Ken yang ngajak." Zara agak terkejut mendengarnya.
" Kok mba kaget. Ada apa ya?" Kecurigaan Naila semakin bertambah melihat gelagat Zara yang aneh.
" Gak ada." Ujar Zara. " Boleh aku bicara berdua dengan suami kamu? Ada hal penting yang harus dibicarakan tentang perusahaan Alfi." Ujar Zara.
" Bicara di sini aja, mba." Naila tampak keberatan.
" Oke."
Zara menghampiri Ken yang masih berada di kamarnya. Zara masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamarnya.
" Ada beberapa email masuk di laptop Alfi. Aku gak ngerti. Bisa kamu bantu aku?" Tanya Zara.
" Biar aku lihat."
Zara mengajak Ken masuk ke dalam ruang kerja Alfi yang memang masih berada dalam kawasan kamarnya hanya tersekat lemari besar milik Zara dan Alfi. Ken membuka laptop Alfi dan membaca email yang masuk. Ada beberap laporan yang masuk dan ada juga email dari beberapa klien. Ken memeriksa laporan yang dikirimkan satu persatu dengan sangat teliti, Hingga Ken tidak menyadari jika wajahnya dan Zara sangat berdekatan.
" Ken."
" Emm.." Ken tak mengindahkan panggilan Zara.
Naila tampak gusar karena Zara dan Ken tak kunjung keluar dari kamar. Naila tahu ini tidak sopan masuk ke kamar orang begitu saja. Tetapi rasa penasaran dan cemas menjadi satu membuat Naila harus mengikuti nalurinya. Dengan tangan yang sedikit gemetar dan dada yang berdebar. Naila membuka pintu kamar Zara. Naila sedikit terkejut karena hanya terlihat Alfi sedang tertidur.
" Zar.." Terdengar suara Ken dari ruangan sebelah tetapi kenapa suara Ken terhenti.
__ADS_1
Kepala Naila dipenuhi tanda tanya besar. Dengan tubuh yang gemetar. Naila memberanikan diri untuk melihat keadaan yang terjadi di ruangan sebelah.
" Astagfirullah..." Naila menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika mendapati Ken dan Zara tengah berci*man dengan posisi Zara menghimpit tubuh Ken yang duduk di kursi kerja.
Zara sontak melepaskan ci*mannya. Ken sontak saja mendorong tubuh Zara dan langsung mengejar Naila yang langsung keluar dari kamar Alfi.
" Naila." Ken menangkap tangan Naila dan menariknya ke dalam pelukannya.
" Lepas Ken..." Tangis Naila pecah.
" Dengarkan aku." Ken Mengeratkan dekapannya.
" Hikzzz....."
" Aku mohon dengarkan penjelasan aku." Ujar Ken mengiba. Berharap Naila bisa tenang.
" Baru seminggu kita nikah, Ken." Ujar Naila di sela isak tangisnya. Hatinya terlalu sakit melihat Ken bercumbu dengan wanita lain. Walaupun Naila tahu jika Ken pasti di goda wanita itu. Tetap saja hatinya merasa sakit.
" Maaf.." Ucap Ken.
Naila melerai tubuh Ken ketika melihat Zara berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat. Naila menatap Zara tajam. Wanita yang awalnya Naila kagumi bahkan Naila anggap sebagai seorang kakak mampu menusuknya seperti ini.
" Tega kamu, Mba!" Ujar Naila.
" Aku cuma bicara sama suami kamu."
" Apanya yang bicara. Dari awal aku udah tau niat kamu, mba." Naila mengeluarkan apa yang ada dikepalanya. " Ingat mba. Kamu juga punya suami. Gimana kalo suami kamu begitu juga sama orang. Gimana perasaan kamu?!" Naila tampak murka.
" Mulai detik ini. Kamu jangan pernah menginjakkan kaki kamu di sini lagi!" Ujar Naila pada Ken dan menarik tangan Ken untuk pergi meninggalkan rumah Alfi.
" Aku yang lebih dulu mencintai Ken." Ujar Zara menanggapi kemarahan Naila.
" Harusnya mba sadar diri!" Sahut Naila.
__ADS_1
Di tengah pertengkaran dua wanita itu. Tanpa mereka sadari Ken memgang dadanya. Entah kenapa tiba- tiba saja terasa sakit dan sesak. Perlahan Ken menahan dirinya agar tidak ambruk begitu saja. Kekuatan dalam tubuhnya seolah perlahan sirna. Untuk bicara pun tidak bisa Ken lakukan. Perlahan penglihatan Ken mulai gelap dan....