Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
92


__ADS_3

Ken segera melarikan Alfi ke ruang UGD. Luka Alfi hampir mengalami infeksi. Tim dokter segera membersihkan luka Alfi dan mengeluarkan nanah yang ada pada luka Alfi. Ken yang memang phobia darah jika dalam mode normal hanya mampu bergidik menahan ngeri ketika luka Alfi mengeluarkan darah.


Setelah selesai. Alfi diperkenankan untuk pulang.


" Sementara lo tinggal di rumah gue aja gimana?" Ken merasa khawatir tidak akan ada yang merawat Alfi lagi.


" Gak usah Ken. Gue gak mau ngerepotin."


" Gue anter ke rumah orang tua lo ya."


" Engga. Gue gak mau bergantung sama mereka." Ucap Alfi lagi.


" Keadaan lo kaya gini." Ken menatap Alfi gusar.


" Sebentar lagi sembuh."


" Ck!" Ken terlihat sebal dengan sikap Alfi yang keras kepala. " Gue gak mau tau. Pilihannya ke rumah orang tua lo atau ke rumah gue?!" Tanya Ken kesal.


Alfi menarik nafasnya dalam. Keadaannya yang seperti ini memang membuatnya sangat tidak berdaya. Untuk buang air saja Alfi perlu tenaga ekstra.


" Ke rumah orang tua gue aja." Ken mengalah.


" Oke." Ken segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Alfi.


*******


Zara duduk di ruang tamu dengan wajah tertunduk. Zara merasa terasingkan berada di rumah ini. Perbuatannya sangat melukai hati orang tua Alfi. Di saat Alfi tidak berdaya, Zara malah kembali sibuk mengejar lelaki lain.


" Ada perlu apa?" Tanya Alfi dengan nada dingin.


" Bagaimana keadaanmu?" Tanya Zara.


" Jauh lebih baik." Jawab Alfi singkat. " Kamu gak bawa Arkan?"


Zara menatap Alfi dengan tatapan sendu. " Apa hubungan kita gak bisa diperbaiki?" Tanya Zara dengan wajah mengiba.


" Untuk apa?" Alfi tersenyum penuh arti. " Semua yang aku lakukan sekarang. udah benar."


" Setidaknya pikirkan Arkan, Al." Zara mencoba untuk membujuk Alfi.

__ADS_1


Alfi kembali menatap Zara dengan tatapan mencemooh. " Apa kamu pikirkan Arkan saat merayu Ken?" Ucap Alfi dengan penuh kebencian.


" Aku khilaf." Sergah Zara cepat. Kini air matanya berlinang. " Aku juga gak mau lakuin itu semua Al."


" Aku udah gak peduli hal itu lagi, Zara!" Bentak Alfi merasa kesal karena Zara terus membela dirinya.


" Alfi! Pikirkan anak kita! Bagaimana dia tumbuh tanpa seorang ayah nantinya!"


" Arkan tidak akan kehilangan kasih sayang dari ku hanya karena kami tidak tinggal bersama." Ucap Alfi. Sorot matanya tak lagi bersahabat menatap Zara.


" Sebenci itu kamu sama aku, Al?" Zara terisak.


" Aku pernah mencintaimu terlalu dalam." Ucap Alfi menohok tajam dalam relung hati Zara.


" Awalnya aku ke sini berharap kita bisa rujuk. Tetapi rasanya kedatanganku sia- sia." Ucap Zara menghapus air matanya.


" Tak perlu repot.!" Ucap Alfi tegas. " Aku akan pastikan perceraian kita cepat selesai."


Zara menarik nafasnya dalam. Hatinya memang tak lagi mencintai Alfi. Tetapi kehilangan orang yang mencintai dirinya seperti ada perasaan tak rela bersarang di hati Zara. Dengan pikiran yang kacau. Zara keluar dari rumah Alfi. Pernikahannya sudah selesai. Perjuangannya melawan hatinya selalu gagal. Dan ini adalah kegagalan paling besar dalam hidup Zara.


Zara mengikuti langkah kakinya kemana dia mengarah. Pikirannya kacau dan hati hancur. Kenangan indahnya dengan Alfi seolah terus berputar dalam ingatannya. Kebodohannya menghancurkan semua yang suda dia miliki. Suami yang begitu mencintainya. Anak yang lucu. Semua hilang dalam genggaman Zara.


' TTIIIINNN!'


Sang pengemudi dan istrinya yang tak lain adalah Ken dan Naila keluar dari mobil melihat orang yang tadi berdiri di depannya.


" Zara." Ken tak percaya jika wanita yang berjalan dengan tatapan kosong itu adalah Zara.


" Bawa ke klinik aja, sayang." Ucap Naila merasa iba. Karena penampilan Zara saat ini terlihat sangat kacau.


Ken dan Naila menunggu Zara siuman di kamar periksa sebuah klinik kecil yang berada di dekat kejadian.


" Aku ambil minum dulu di mobil." Ujar Naila.


" Aku saja."


" Gak papa." Naila segera keluar dari klinik.


Zara perlahan membuka matanya dan melihat Ken tengah duduk di samping ranjang dengan mata sibuk menatap ponselnya. Zara segera berhambur memeluk Ken dengan erat dan tangisnya langsung pecah.

__ADS_1


" Jangan tinggalin aku, Ken." Ucap Zara Lirih.


" Zar." Ken mencoba melerai tubuh Zara.


Naila yang baru saja muncul terpaku sejenak tetapi kemudian dia mengatur emosinya dan berjalan mndekati mereka.


" Maaf, Mba. Ken sama aku!" Naila melepaskan tangan Zara yang melingkar di leher Ken.


" Naila."


" Iya. Istri Ken." Ucap Naila.


" Baguslah lo udah sadar." Ucap Ken datar dan berdiri bersejajar dengan Naila.


" Sudah sadar?!" Tanya dokter yang baru masuk kembali ke ruang periksanya.


" Udah, Dok. Periksa aja dulu. Nanti kami yang bayar." Ucap Naila dan menarik tangan Ken untuk keluar dari ruangan itu.


" Abis pingsan. Masih aja sempet peluk suami orang!" Omel Naila terlihat sebal.


" Istriku cemburu." Goda Ken dan menyenggol tubuh Naila dengan genit.


" Ganteng. Tapi sekarang genit." Naila kembali menggerutu.


" Genit sama istri sendiri. Gak papa kan?" Ken kembali menggoda Naila.


" Iihh.. Nyebelin!" Naila memukul manja lengan Ken membuat Ken tertawa melihat tingkah manja istrinya.


*******


Sepanjang perjalanan ke rumah Zara. Ken, Naila dan Zara hanya saling diam. Ken pun enggan bertanya kenapa Zara bisa pingsan atau Zara darimana atau hal apapun itu. Menurutnya sangat tidak penting. Sedangkan Zara hanya diam sibuk dengan pikirannya sendiri.


Naila terlihat bertekuk muka sambil matanya sesekali melirik gerak gerik Naila. Apakah dia mencuri pandang pada suaminya. Tetapi sepertinya Zara sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Ken menepikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Zara. Tanpa diperintah. Zara turun dari mobil Ken.


" Aku sebenarnya kasihan lihat mba Zara. Tapi kalo ingat dia selalu cari- cari kesempatan biar dekat sama kamu. Aku sebal." Ujar Naila ketika Ken melajukan kembali mobilnya.


" Aku juga begitu. Harusnya keluarga mereka sudah bahagia." Ucap Ken penuh rasa sesal.

__ADS_1


Naila menatap suaminya yang fokus menyetir dengan lekat. " Kamu selalu memberikan rasa nyaman. Mungkin itu yang mba Zara rasakan sampai dia gak bisa menahan dirinya." Ucap Naila.


" Udahlah. Jangan bahas masalah itu. Biar bagaimanapun. Aku merasa bersalah." Ucap Ken.


__ADS_2