
Perlahan Desta melerai pelukan Arsyi dan membimbing Arsyi untuk duduk di sofa panjang yang berada di ruang tamu. Desta menatap Arsyi lekat. Arsyi masih tertunduk dan sibuk menyeka air matanya.
Desta berjalan menuju dapur dan menuangkan segelas air putih untuk Arsyi. Desta memberikan pada Arsyi.
" Kamu kenapa?" Tanya Desta lembut setelah Arsyi meneguk sedikit air yang diberikan Desta.
" Aku gak tau lagi harus kemana." Ucap Arsyi di sela isak tangisnya. Arsyi menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. " Aku takut kalo aku cerita ke orang tuaku. Mereka akan marah, Des."
" Emang kamu kenapa? Kenapa mereka harus marah. Apa kamu berbuat salah?" Kening Desta bertaut tak mengerti.
Arsyi menggelengkan kepalanya. Baru saja Arsyi ingin cerita Ken muncul dari area kolam renang yang memang hanya di sekat pintu kaca dari ruang tamu.
" Loh. Ada Arsyi." Ucap Ken sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Ken berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Arsyi hanya tersenyum tipis melihat ke arah Ken dan kembali menatap Desta.
" Cerita ke aku." Pinta Desta.
" Bimo hampir aja perk*s* aku." Ungkap Arsyi kembali air matanya jatuh kala mengingat perlakuan tunangannya. Arsyi sesenggukan.
Desta mengelus lembut punggung Arsyi dengan lembut. Hatinya tiba- tiba terasa panas dan amarah membuncah di dada Desta.
Selama dia dan Arsyi berpacaran. Desta memang tidak menyentuh Arsyi lebih jauh. Dia hanya mencium atau sekadar memeluk Arsyi. Hanya Arsyi satu- satunya wanita yang benar- benar dijaga Desta selama dia mengenal wanita.
" Aku harus kasih dia pelajaran!" Ucap Desta marah. Dan bangkit. Kemudian Desta mengambil kunci mobilnya.
" Jangan, Des. Di sana Bimo gak sendirian." Cegah Arsyi. Tangisnya kembali pecah karena takut jika Desta nekat menyambangi rumah Bimo.
Desta tetap berjalan menuju mobilnya. Matanya memerah. Desta sudah dikuasai amarahnya.
" KEN!" Teriak Arsyi dengan panik.
Ken yang memang sedang di dapur. Langsung berlari menuju teras depan tempat Arsyi berdiri.
" Ada apa?"
" Hentikan Desta, Ken. Dia bisa mati." Ucap Arsyi dengan nada panik.
Ken yang belum tau duduk permasalahannya. Jadi bingung.
" Kita susul Desta, Ken!" Arsyi menarik tangan Ken.
" Bentar. Kunci gue di dalam." Ken segera berlari menuju area kolam renang tempat dia meletakkan kunci motor serta ponselnya.
Ken segera menghubungi Alfi. Dan meminta Alfi untuk mengikuti lokasi Ken.
__ADS_1
" Ayo!" Ken segera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi setelah Arsyi membonceng di belakangnya. Dalam perjalanan. Barulah Arsyi menceritakan kejadian yang membuat Desta marah dan memberikan arahan pada Ken.
Ken dan Arsyi sudah sampai di depan rumah Bimo. Terlihat mobil Desta yang parkir secara sembarangan tepat di depan gerbang rumah Bimo. " Lo tunggu disini!" Perintah Ken. " Sepuluh menit gue gak keluar. Lo minta bantuan!" Ucap Ken lagi dan memberikan ponselnya pada Arsyi. Karena barang- barang Arsyi memang tertinggal di rumah Bimo semua. Ken berlari memasuki rumah Bimo.
Area ruang depan tampak berantakan dan terdengar ada baku hantam di ruangan selanjutnya. Ken langsung menangkis pukulan dari teman Bimo yang melayangkan stik golf pada Desta. Desta sudah dalam keadaan babak belur. Ken yang memang lebih ahli dalam bela diri dari pada Desta. Dapat dengan cepat membalikkan keadaan. Meskipun Bimo bersama dua orang temannya menyerang Ken membabi buta.
Desta tetap membantu Ken dengan sisa tenaganya. Namun, ketika Ken tengah melawan Bimo. Ken tidak mengetahui jika seorang teman Bimo menghunuskan sebuah pisau dapur pada Ken dan dengan cepat Desta mendorong tubuh Ken hingga dialah yang terkena tus*kan pisau tersebut.
" Desta!" Teriak Ken. Melihat hal tersebut. Membuat Ken semakin gelap mata dan bergantian menyerang mereka secara membabi buta.
Ken terus melayangkan tinjunya pada teman Bimo yang menus*k Desta bertubi- tubi. Wajahnya tampak memar dan banyak mengeluarkan dar*h dari mulut serta hidungnya. Bimo dan seorang temannya yang lain sudah terkapar dalam keadaan patah pada tangan serta kaki mereka.
" Ken. Udah, Ken!" Alfi yang baru saja datang langsung menarik tubuh Ken yang duduk di atas teman Bimo yang menus*k Desta.
Ken seperti baru tersadar akan perbuatannya dan melihat sekitarnya sedikit bingung namun beralih pada Desta yang meringis kesakitan.
Dengan cepat Ken mengambil beberapa lembar tisu untuk menutupi sidik jarinya ikut membekas pada pegangan pisau tersebut. " Kalo udah kecabut. Teken luka lo ya!" Ken memberikan arahan. Desta hanya mengangguk pasrah. Dengan perlahan. Ken mencabut p*sau yang masih menancap di tubuh Desta. Ken dan Alfi memapah Desta menuju mobil Alfi. Arsyi ikut bersama mereka.
" Jangan tidur lo!" ucap Ken mengajak Desta bercanda.
Desta hanya tertawa kecil sambil sesekali meringis kesakitan di pangkuan Ken.
" Lebih cepet lagi, Al!" Perintah Ken yang panik karena melihat Desta kian lemah.
" Gue harap, Desta bisa tertolong." Ucap Ken penuh harap ketika Desta langsung dilarikan ke ruang operasi.
Bimo dan kawan- kawannya biar jadi urusan polisi. Arsyi tampak tertunduk dan menangis tiada henti di bangku ruang tunggu depan kamar operasi.
" Ganti baju lo." Ucap Alfi yang melihat baju Ken bersimbah darah.
" Muka lo juga butuh perawatan, Ken." Alfi menambahkan.
Ken menyeka darah yang mulai mengering di pelipis serta sudut bibirnya.
" Gak seberapa kalo dibandingin Desta." Ucap Ken.
" Lagian tuh anak, kenapa konyol. Ketauan dia cuma jago di ranjang." Cibir Alfi menyesalkan tindakan Desta.
" Desta mana?" Tanya Burhan, Ayah Desta yang baru saja tiba. Di sampingnya berdiri Monik ibu Desta dengan wajah cemas.
" Masih di dalam, Om." Ucap Ken.
" Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Burhan dengan wajah marah.
__ADS_1
" Ini salah aku, Om." Arsyi buka suara.
Burhan dan Monik beralih menatap Arsyi.
" Desta hanya ingin membela aku, Om." Ucap Arsyi lalu tangisnya kembali pecah. " Desta cuma mau bela aku." Arsyi semakin tergugu dalam tangisnya.
Ken yang duduk tak jauh dari Arsyi dapat menangkap Arsyi yang tiba- tiba pingsan dengan cepat. Akhirnya Arsyi di bawa ke ruang perawatan. Begitu juga dengan Ken. Alfi sejak tadi bawel menyuruh Ken untuk mengobati lukanya.
Burhan dan Monik terlihat saling menguatkan karena sudah dua jam. Tindakan operasi Desta belum juga usai. Tampak seorang perawat keluar dengan wajah panik.
" Pasien banyak mengeluarkan darah. Apa ada dari keluarga yang bergolongan darah O?" Tanya perawat itu dengan wajah panik.
" Saya.". Tanpa berpikir panjang. Ken mengajukan diri. Dengan segera perawat membawa Ken untuk di ambil darahnya.
Berkali- kali Alfi menarik nafasnya panjang dan mengusap wajahnya dengan perasaan cemas. Perasaan yang tak nyaman bergelayut di hatinya.
Zara yang baru saja tiba. Langsung duduk di samping Alfi. " Gimana keadaan Desta?"
" Belum tau." Ucap Alfi. Pikirannya kalut.
Tak lama berselang. Muncul Kinan dan Caca menghampiri Alfi juga Zara. Sebelumnya mereka menyalami orang tua Desta dan duduk di samping Alfi.
" Gimana keadaan Desta?" Tanya Kinan.
" Belum tau."
" Ken mana?" Tanya Kinan lagi yang tak melihat sosok Ken.
" Lagi ambil darah." Jawab Alfi singkat.
Perawat yang tadi mengambil darah Ken masuk kembali dengan sekantung darah Ken dan menghilang di balik pintu.
" Itu Ken." Ucap Caca yang melihat Ken berjalan sedikit terhuyung. Karena darah yang diambil cukup banyak hingga membuatnya sedikit lemas.
" Harusnya lo istirahat dulu." Ucap Alfi ketika Ken duduk di sampingnya.
" Gak bisa. Gue belum tenang kalo belum dapat kabar dari Desta." Ujar Ken.
Kinan segera berjalan menuju kantin. Entah apa yang mau dia beli.
Satu jam kemudian. Tim dokter yang menangani Desta akhirnya keluar juga. Lampu operasi telah dipadamkan. Burhan dan Monik langsung menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" Tanya monik dengan wajah cemas.
__ADS_1
" Pasien mengalami koma. Cedera di kepala serta luka tus*kan yang mengenai organ vitalnya memperparah keadaannya." Ucap Dokter tersebut dengan wajah lesunya.