Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
62


__ADS_3

Alfi dan Zara datang berkunjung menjenguk Kinan membawa serta baby Arkan. Kinan tampak tersenyum melihat baby Arkan yang seolah sedang menatapnya. Zara sengaja duduk di samping Kinan. Zara juga sudah meminta maaf pada Kinan jika dulu dia sering memancing keributan karena cemburu melihat kedekatannya dengan Ken.


Alfi duduk di sofa panjang sambil menonton film di televisi menunggu Ken yang memang sudah sejak tadi keluar.


" Bayi lo lucu banget." Ujar Kinan seraya mengelus lembut pipi Arkan yang bulat.


" Lahirnya Arkan juga gak lepas dari bantuan Ken. Gue sama Alfi berhutang budi banget sama Ken." Ucap Zara.


Kinan terus menatap bayi Arkan dengan lembut.


" Lo mau gendong?" Zara menawarkan. Kinan menggeleng. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk menggendong Arkan. menopang tubuhnya saja Kinan masih oleng.


" Elo harus cepat sembuh." Ujar Zara.


" Iya." Sahut Kinan.


" Setelah putus dari Agatha. Baru kali ini Ken buka hatinya lagi. Elo harus pertahankan itu. Ken pantas untuk mendapatkan itu." Ujar Zara seraya menatap Kinan lekat.


Kinan hanya menyunggingkan senyumnya. Sebulan lalu saat dia memergoki Caca mencampurkan sesuatu pada makanannya. Kinan hanya bisa pasrah dan berpikir akan melepaskan Ken. Tetapi entah kenapa, beberapa hari yang lalu. Hatinya seakan menolak untuk membiarkan Caca melakukan hal yang tidak baik padanya. Hingga akhirnya Kinan mengambil keputusan meminta Ken untuk memulangkan Caca. Ucapan Zara saat ini seolah menampar dirinya. Apa yang Zara katakan benar. Dia beruntung bisa memiliki Ken. Pria yang penyayang dan penuh tanggung jawab.


" Lama banget lo!" Sergah Alfi ketika melihat Ken muncul dari balik pintu.


" Nii cari mainan buat ponakan gue." Ucap Ken dan memberikan bouncer baby pada Alfi.


Ken mengeluarkan makanan yang dia beli dan menghidangkannya di meja depan televisi.


" Kamu mau gabung sama kita?" Tawar Ken pada Kinan yang duduk di tepi ranjang.


Kinan memgangguk. Ken membantu Kinan dengan lembut. Zara dan Alfi melihat pasangan kekasih ini dengan penuh senyuman. Kinan duduk di sofa panjang.


" Udah periksa ke dokter?" Tanya Alfi.


" Udah. terdeteksi racun di tubuh Kinan. Harusnya dia di rawat, Tapi Kinan nolak. Katanya sepi. Jadi kita rawat jalan." Ken menjelaskan.


" Racun?" Zara terperangah.


" Elo minum racun?" Tanya Alfi terheran- heran.


Kinan menggeleng cepat. Tak mungkin dia melakukan itu. Walaupun dia pernah depresi. Tetapi Kinan masih terlalu waras untuk minum racun.


" Racun darimana?" Zara terlihat bingung.

__ADS_1


" Gue sama Kinan sama- sama tau darimana racun itu berasal. Tapi kita sama- sama gak mau memperpanjang masalah ini."


" Harus di tindak Ken. Itu membahayakan nyawa Kinan." Alfi tampak kesal.


" Awalnya gue mau ngelakuin itu, ambil jalur hukum. Tapi Kinan gak mau gue lakuin itu. Korban aja memaafkan. Gue bisa apa." Ucap Ken pasrah


" Siapa yang lakuin itu?" Zara menyelidik.


" Ada dah." Ucap Ken tetap merahasiakan.


" Caca?" Terka Alfi.


" Pokoknya ada dah." Ken tetap menutupi. Sesuai janjinya pada Kinan. Dia tidak akan memberitahukan pelakunya pada siapa pun.


" Yang paling penting buat gue sekarang. Kesehatan Kinan." Ken menggenggam erat tangan Kinan.


" Kenapa kalian gak nikah aja." Zara mengusulkan.


" Minggu depan bokap Kinan datang. Mungkin langkah itu akan kita ambil. Biar gue bisa jaga dia dua puluh empat jam."


" Itu langkah terbaik." Alfi setuju.


Kinan menyunggingkan senyum manisnya pada Ken.


Kinan duduk termenung menatap jendela kamar yang menghadirkan pemandangan kota. Hari ini Ken datang telat. Dia harus mengecek lokasi pembangunan gedung milik ayahnya. Bosan juga menghabiskan waktu seorang diri di apartemen ini.


' Ting Tong'


Kinan jalan perlahan untuk membukakan pintunya.


" Ca." Kinan tampak sedikit heran karena sudah hampir satu bulan Caca dan Kinan tak saling bertukar informasi.


Caca tersenyum tipis. " Apa kabar?" Tanya Caca berbasa basi dan menerobos masuk begitu saja.


" Jauh lebih baik." Ucap Kinan agak sedikit takut mengingat perbuatan Caca.


" Syukurlah." Ujar Caca dan menyuguhkan makanan yang dia bawa.


" Gak perlu repot." Ucap Kinan, takut jika makanan yang dibawa Caca di kasih racun.


" Gue dengar, Papa lo kecelakaan?" Tanya Caca dan duduk sambil mengambil sepotong kue yang dia bawa. " Bagaimana keadaannya sekarang?"

__ADS_1


" Untungnya tidak parah." Jawab Kinan dengan senyum yang dipaksakan.


" Duduklah. Takut banget kaya liat hantu!" Seloroh Caca menepuk- nepuk kursi di sampingnya.


Kinan lebih memilih duduk di hadapan Caca bersebrangan meja.


" Ken gak kesini?"


" Sebentar lagi datang." Jawab Kinan dan secara diam- diam mengirim pesan pada Ken. Entah kenapa perasaannya tidak enak.


Caca yang sudah mulai lancar berjalan menghampiri Kinan dan duduk di sampingnya.


Kinan menelan kasar salivanya. " M-Mau apa?" Tanya Kinan sedikit gugup. Kinan tak mampu lagi menyembunyikan rasa takutnya.


Jika Caca berbuat sesuatu. Kinan akan kalah secara tenaga. Keadaan Kinan memang belum pulih sepenuhnya.


Caca menyunggingkan senyum piciknya dan menatap Kinan yang tertunduk dengan tajam. " Elo takut sama gue?" Sergah Caca sedikit membisik pada Kinan. Kinan hanya diam tak berani menatap Caca.


" Ohh elo udah tau maksud gue." Caca menegaskan kalimatnya. " Tapi sayangnya, Ken gak akan mau sama gue. Dia terlanjur cinta sama lo!" Bisik Caca tajam.


" Terus lo mau apa?" Tanya Kinan takut.


" Gue gak dapetin Ken. Gue pastiin lo juga gak bisa dapetin dia." Caca menyeringai tajam.


Kalimat Caca membuat Kinan mengangkat wajahnya dan menatap Caca tak percaya. Apa maksudnya? Apa dia akan mencelakai Ken? Kedua netra mereka beradu. Caca dengan mata tajamnya sedangkan Kinan dengan mata yang berkaca- kaca. Dia takut terjadi sesuatu pada Ken.


" Elo udah kirim pesan kan buat Ken. Thanks banget. Tugas gue ilang satu." Ucap Caca sambil menepuk tangannya.


" Jangan berbuat b*doh, Ca!" Kinan mengingatkan.


Caca kembali menyeringai. " Salah siapa terlalu jual mahal ke gue. Nolak gue bahkan gue merasa terhina!" Caca sedikit menggebrak meja dan membentak Kinan hingga Kinan memejamkan matanya.


" Bukannya kita udah janji kalo persaingan kita sehat?" Kinan kembali mengingatkan ucapan mereka kala di kamar saat itu.


" Tapi nyatanya hati gue tetap sakit lihat lo bersama dia."


" Gue janji akan putusin Ken. Tapi jangan sakitin dia, Ca. Gue mohon." Kinan mengiba.


" Lo dulu emang lawan yang sebanding . Tapi lo sekarang perempuan lemah. Elo gak bisa lindungin dia." Caca semakin mengintimidasi Kinan.


Air mata Kinan jatuh tak tertahankan. Tak pernah dia sangka jika sepupu yang dia sayangi dan dia lindungi ingin menghancurkan kebahagiaannya.

__ADS_1


" Ken.. Jangan kesini. Aku mohon..." Gumam Kinan dalam hati. Tangannya bergetar hebat. Tak mampu untuk mengirim pesan pada Ken.


__ADS_2