
Zara terduduk lemas di sofa ruang tamu apartemen Ken. Tanpa bicara sepatah katapun. Ken meletakkan sebotol air mineral di hadapan Zara. Ken engga menjadi pendengar cerita sedih yang Zara buat sendiri. Harusnya dia sudah bahagia memiliki suami yang begitu mencintai dia dan juga anak yang lucu. Tetapi hati Zara seolah buta dengan cintanya pada Ken.
" Temani aku, Ken." Pinta Zara mengiba.
Ken menarik nafasnya dan menatap Zara datar. Ken hanya berdiri dekat sofa panjang. " Gue pernah memperingatkan elo. Gue menyetujui untuk mau ketemu sama lo semata agar rumah tangga kalian utuh." Ucap Ken.
" Tapi sekarang Alfi menceraikan aku, Ken." Ujar Zara lirih.
" Itu salah elo, Zar." Ken menambah beban dalam pikiran Zara.
" Aku cuma mau tau kabar kamu, Ken."
" Elo udah bersuami, Zar." Sahut Ken cepat. " Gak sepantasnya elo ke sini di jam segini!" Tambah Ken.
Zara terdiam.
" Kenapa gue ilanh seharian ini? Karena gue mau bebas dari elo! Elo bagaikan benalu dalam hidup gue!" Ucap Ken kesal. " Harusnya elo menjauh dengan sendirinya bukan malah datang ke rumah gue malam- malam!" Ken mengungkapkan kekesalannya.
" Ini udah malem. Kalo lo mau tidur. Tuh. Tidur di kamar itu. Besok Alfi akan jemput lo!" Ucap Ken dan masuk ke dalam kamarnya.
Tinggallah Zara menangis terisak seorang diri. Menyesal pun sekarang sudah tidak akan berguna lagi. Keluarga kecilnya sudah hancur karena cinta butanya.
******
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ken sudah bangun sejak subuh tadi dan sudah berolahraga keliling komplek apartemen. Kegiatan rutin Ken setiap dia ada waktu.
' Tok tok tok'
" Sarapan Zar." Panggil Ken pada Zara.
Ken tidak mendengar suara sahutan apapun. Mungkin Zara masih tertidur setelah semalaman menangis. Ken memakan sarapannya sendirian. Hal yang sudah biasa dia lakukan.
" Zara. Makan." Panggil Ken lagi karena Zara tak kunjung keluar kamar ketika dia sudah selesai sarapan.
Merasa sedikit curiga pada Zara. Perlahan Ken membuka pintu kamar yang Zara tempati semalam. Ken tersentak kaget mendapati Zara tengah pingsan dengan pergelangan tangan tersayat. Darah sudah membanjiri lantai kamar.
" Zar." Wajah Ken berubah panik dan segera menggendong tubuh Zara. Ken masih merasakan denyut nadi Zara walaupun sangat lemah.
Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung hari ini adalah hari libur. Jalanan tidak sepadat di hari biasanya. Ken melajukan mobilnya tak di pedulikan mobil patroli polisi yang mengejarnya. Ken semakin menambah laju kendaraannya dan berbelok ke rumah sakit terdekat dan baru menghentikannya di depan ruang UGD. Ken segera menggendong tubuh Zara dan membawanya masuk ke dalam ruangan UGD agar Zara dapat segera di tangani.
Setelah memastikan Zara sudah dapat penanganan. Barulah Ken keluar dari ruang UGD untuk menemui polisi yang mengejarnya tadi.
__ADS_1
" Selamat pagi, Pak." Ken menyapa lebih dulu anggota kepolisian itu.
" Mohom maaf, Pak kecepatan saya melebihi batas maksimum. Tetapi teman saya berada dalam kondisi kritis." Ken menjelaskan.
" Kenapa teman anda?"
" Sepertinya dia mencoba melakukan bunuh diri dengan menyayat nadinya."
Karena ucapan itu. Jadilah Ken menjadi saksi guna dimintai Keterangan. Acara tilang menilang berubah menjadi acara BAP.
Setelah Ken menjelaskan secara rinci masalah Zara. Barulah kedua anggota polisi itu pamit undur diri. Ken bernafas lega karena dokter yang menangani Zara mengatakan bahwa kondisi Zara sudah mulai stabil. Walaupun Zara masih membutubkan transfusi darah. Untungnya Zara tidak menyayat nadinya sampai putus. Tim dokter mampu menyelamatkan nyawa Zara.
Ken segera menghubungi Alfi dan memberitahu keadaan Zara saat ini.
" Kenapa ini bisa terjadi, Ken?" Ujar Alfi dengan nada penuh penyesalan.
" Bukan salah lo. Jadi gak usah merasa bersalah, Al." Ucap Ken.
" Zara pasti sedih banget karena gue akan bawa Arkan." Alfi mengusap wajahnya yang kalut.
" Berdoa aja biar Zara cepat sembuh." Ucap Ken.
" Gue akan mengikuti kemauannya apapun yang dia minta setelah dia sadar, Ken." Ucap Alfi.
Lima jam berlalu sudah. Perlahan Zara membuka matanya. Zara memandang ke sekelilingnya. Zara akan mengira ketika dia membuka matanya dia akan berada di alam lain. Tetapi Ternyata dia masih di dunia yang sama.
" Kamu sadar, Zar." Ujar Siska senang melihat putri satu- satunya siuman.
" Mama." Ujar Zara dengan suara lemah.
" Kenapa kamu lakuin ini sayang. Kamu gak sendiri." Siska memeluk Zara sambil menangis tersedu- sedu. Tangis Zara pun ikut pecah. Merasa terharu. Peristiwa semalam membuat Zara lupa jika dia masih punya orang tua yang siap menerimanya dalam keadaan apapun,
" Alfi menceraikan Zara, Ma." Tangis Zara kembali pecah.
" Iya. Alfi sudah cerita semuanya sayang." Siska mengelus lembut punggung Zara seraya memeluknya.
" Mama marah?"
" Engga. Tapi mama minta jangan lagi mengejar Ken. Ken juga udah bicara sama mama." Nasihat Siska.
Zara tertunduk.
__ADS_1
" Mama sudah curiga saat kamu sering jalan berdua dengan Ken. Benih cinta diantara kalian akan tumbuh." Ucap Siska. "Tapi harusnya kamu bisa membedakan situasinya, Zara. Ada Alfi yang harus kamu jaga hatinya. Dia suami kamu." Ucap Siska lagi.
" Zara gak bahagia, Ma."
" Apa kamu pikir kamu akan bahagia setelah lepas dari Alfi? Ken tidak mau menikahi kamu. Jangan b*doh Zara." Ucap Siska merasa geram atas tindakan konyol putrinya.
Zara tertunduk lemas penuh penyesalan. Apa yang di katakan ibunya benar Ken tidak akan menikahinya. Berkali- kali Ken menegaskan dia tidak akan menikah dengannya sekalipun dia dan Alfi sudah berpisah.
" Kamu pikirkan baik- baik, Zara. Arkan membutuhkan kedua orang tuanya. Lupakan cinta butamu itu." Bentak Siska agar Zara menyadari bahwa tindakannya itu salah.
" Aku pinjam ponsel mama boleh?"
" Mau menghubungi siapa? Ken?"
Zara mengangguk. Tidak perlu.
" Zara ingin bahagia, Ma."
" Ken tidak mencintaimu, Zara!" Bentak Siska semakin kesal. " Lupakan Ken!"
Tangis Zara kembali pecah tertampar oleh ucapan ibunya.
' Cklek'
" Syukurlah lo udah sadar." Ujar Ken yang baru masuk ke dalam kamar Zara dan memberikan makanan pada ibu Zara.
" Karena Zara udah sadar. Saya permisi pulang, Tante." Ucap Ken ingin segera pergi dari sana.
" Duduk, Ken. Tante mau bicara sebentar." Perintah Siska,
Ken duduk di sofa yang ada di kamar Zara.
" Apa kamu mau menikah dengan Zara?" Tanya Siska menatap Ken lekat.
" Apa?!" Ken sedikkt terkejut tiba- tiba ditanya seperti itu. " Maaf sebelumnya. Saya tidak mungkin menikah dengan Zara."
" Tapi Ken. Bukannya kita saling mencintai?" Sahut Zara.
" Dulu iya. Tapi sekarang engga, Zar. Gue memilih membasmi benih yang pernah tumbuh. Dan harusnya elo lakuin hal yang sama. Ini terakhir gue bilang. Elo beruntung punya suami seperti Alfi yang tetap mencintai lo dengan tulus." Ken menegaskan kata- katanya.
" Tapi..."
__ADS_1
" Sadar, Zar. Yang selalu membuat lo bahagia itu Alfi. Bukan gue!" Ken menghampiri Zara.
" Pikirkan semua ini dengan baik. Masih ada kesempatan buat lo dan Alfi rujuk kembali." Ucap Ken dan langsung pergi meninggalkan kamar Zara.