Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
64


__ADS_3

Kinan yang sudah terlihat lebih baik. Mengajak bayi Arkan bermain. Bayi mungil dan menggemaskan itu tampak tertawa dan sesekali mengeluarkan celoteh kecil khas bayi keluar dari mulutnya. Kinan semakin bersemangat mengajak Arkan bermain. Sementara Zara sibuk menyiapkan sarapan di dapur.


" Arkan senang ya main sama tante Kinan?" Ucap Zara dari dapur ikut merasa gemas karena sejak tadi Arkan berceloteh dan tertawa.


Kinan kembali melirik jam di dinding. Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tetapi Ken tak kunjung pulang. Alfi pun juga belum memberikan kabar apapun.


" Kenapa lo?" Tanya Zara yang melihat Kinan mendadak terdiam.


Udah jam segini. Tapi kok Ken belum pulang ya.?" Kinan bertanya- tanya.


" Sabar. Mungkin sebentar lagi." Hibur Zara. " Makanan kita sebentar lagi mateng. Nanti lo cobain ya masakan gue," Ucap Zara senang.


" Pasti enak lah. Secara lo kan anak yang punya catering besar." Ucap Kinan dan di susul gelak tawanya.


Zara menyunggingkan senyum lebarnya.


":Gue seneng pada akhirnya Ken bersama perempuan kaya lo." Ucap Zara menatap Kinan teduh. Kinan hanya tersenyum.


" Ken lelaki yang baik. Jangan pernah lepasin dia." Pesan Zara sambil mengelus lembut bahu Kinan dan meletakkan hasil masakannya.


" Mungkin kalo lo bukan jodoh Alfi. Elo sama Ken udah bersama." Ucap Kinan jadi berandai.


Zara menarik nafas panjang dan duduk di samping Kinan. " Gue sama Ken gak pernah jadi masa lalu. Buat gue. Ken hanyalah sebuah klise yang gak akan pernah jadi sebuah foto." Ucap Zara. " Sekarang, hati gue udah kembali pada Alfi. Dia yang paling berhak atas diri gue." Ucap Zara lagi.


" Gue seneng pada akhirnya bisa seakrab ini sama lo." Ucap Kinan penuh haru dan memeluk Zara.


*******


" Nginep semalam lagi sih, Ken." Ucap Alfi kesal karena Ken bersikeras untuk pulang juga. Alfi terpaksa menandatangani surat pernyataan untuk pemulangan Ken.


" Kasian Kinan." Ucap Ken.


" Kinan aja yang ada dikepala lo!" Omel Alfi. " Pikirin diri sendiri!" Sambungnya lagi.


" Mau bantuin gue gak?"


Alfi berdecak kesal karena sikap keras kepala Ken yang gak ada obat. Alfi membantu memapah Ken berjalan perlahan. Jahitan pada lukanya masih basah. Bahaya jika Ken berjalan cepat. Bisa terbuka kembali lukanya.


" Al."


" Hmm.."

__ADS_1


" Thanks ya."


" Iya!" sahut Alfi. " Lain kali kalo ada masalah. Lapor dulu napah! Ini bertindak dulu." protes Alfi.


" Sorry."


" Elo udah gue anggep adek gue sendiri, Ken. Jangan bikin gue cemas lagi. Gak suka gue!"


" Iya."


" Tunggu di sini. Gue ambil mobil dulu." Ucap Alfi dan membanti Ken duduk di kursi yang ada di depan rumah Sakit.


Alfi dan Ken berjalan menuju apartemen Kinan.


Sementara itu...


Kinan menarik nafasnya dalam. Entah kenapa nafasnya tiba- tiba terasa sesak. Dadanya terasa sakit. Sebisa mungkin Kinan menenangkan dirinya agar tidak terlalu nyeri. Zara terlihat sedang merapikan meja makan usai mereka menyantap sarapan mereka. Kinan hanya bisa menatap Zara nanar tanpa mampu memanggilnya.


" Oeee oeee oeee..." Tangis Arkan tiba- tiba pecah membuat Zara melihat ke arah Kinan yang berada tepat di sebelah baby Arkan.


Melihat Kinan tampak kesulitan bernafas. Zara segera berhambur menghampiri Kinan dan menatapnya dengan tatapan bingung. " Elo kenapa, Nan?" Zara terlihat panik.


Kinan hanya mampu menggelengkan kepalanya.


" Ada apa sayang?" Sapa Alfi mesra saat menjawab panggilan telepon dari Zara.


" Kamu dimana? Gak tau kenapa. Kinan kelihatan sulit bernafas." Ucap Zara panik.


" Apa?!" Teriak Alfi tak kalah terkejut. " Segera telepon ambulan. Cepat!" Perintah Alfi.


Ken yang sejak tadi hanya diam sambil menatap jalanan. Menoleh ke arah Alfi yang terlihat menjadi panik.


" Ada apa?" Tanya Ken heran karena Alfi menambah kecepatannya.


" Kinan sesak nafas." Ucap Alfi.


" Apa?!" Kini gantian Ken yang terkejut.


" Lo tunggu disini." Ucap Alfi memerintah Ken sesampainya mereka di parkiran basement apartemen dan Alfi langsung lari menuju lift.


Ken hanya diam dan tetap berusaha untuk berjalan menuju lift.

__ADS_1


Tak lama setelah Alfi menghilang di lift. Terdengar suara sirine ambulan bergaung memasuki parkiran basement. Ken yang memang berjalan sangat perlahan menatap sebentar mobil tersebut dan petugas medis terlihat membawa perlengkapan mereka dan berlarian menuju lift.


Entah kenapa perasaan Ken tidak enak. Ken sedikit mempercepat langkahnya walaupun harus menahan perih pada perutnya.


Sesampainya di apartemen Kinan. Ken dapat mendengar dengan jelas suara tangis Zara. Ken berjalan menuju apartemen dan melihat petugas medis tengah memberikan pertolongan untuk Kinan yang terkulai di lantai depan televisi.


" Kinan kenapa?" Tanya Ken dengan wajah panik. Entah pada siapa dia bertanya. Ken berhambur mendekati tubuh Kinan dan duduk di samping kepala Kinan.


" Yang sabar Ken." Ucap Desta sambil memegang bahu Ken. Desta datang sesaat sebelum dia dan Alfi sampai.


Setelah di lakukan percobaan pertolongan pertama. Petuga medis tak menemukan organ vital Kinan kembali berfungsi. Petugas medis segera melihat jam.


" Ada apa? Kenapa kalian berhenti?" Tanya Ken.


" Kami sudah berusaha sebisa kami." Ucap petugas itu.


Ken segera menggeser tubuh petugas itu dan menggantikannya melakukan CPR pada Kinan.


" Bangun Kinan!" Ucap Ken sambil terus berusaha.


Ken pantang menyerah. Tak dipedulikannya darah yang kembali merembas dari perutnya. Alfi, Zara, Desta dan Arsyi hanya mampu menatap Ken dengan sedih.


" Bangun Kinan. Ayolah!" Ucap Ken penuh harap. Matanya telah basah oleh airmata. Setelah sepuluh menit Ken berusaha sendiri menyelamatkan Kinan. Ken terkulai dan duduk bersimpuh meratapi Kinan yang sudah tidak bernyawa.


Ken menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan tangisnya. Hati Ken terasa terkoyak melihat wanita yang dia sayangi kini telah pergi.


" Sabar, Ken." Ucap Alfi dan merangkul Ken. Desta membantu memapah Ken agar duduk di sofa. Darah yang keluar semakin banyak.


" Bangun Kinan!" Teriak Ken lagi namun sesaat kemudian. Ken jatuh pingsan.


*******


" Bagaimana keadaan Ken?" Tanya Zara ketika Alfi keluar dari kamar yang pernah di tempati Kinan.


" Dia masih tidur. Efek obat bius yang di kasih. Lukanya juga udah di jahit ulang." Ucap Alfi dan mengusap wajahnya.


" Kita harus hubungi keluarga Kinan." Ucap Desta.


" Iya. Udah gue hubungi tadi dari hp Ken." Ucap Alfi.


" Sekarang gimana?" Tanya Desta tampak gusar. Karena Ken pasti akan sangat terpukul.

__ADS_1


" Kita tunggu Ken sampai bangun. Cuma dia yang bisa kasih keputusan." Ucap Alfi.


__ADS_2