
Alfi masih melihat mobil Ken terparkir di depan gerbang rumahnya. Apakah Ken masih di rumahnya. Semalam Alfi sengaja langsung memesan tiket pesawat tanpa sepengetahuan Zara. Alfi menghela nafasnya panjang. Mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan hal terburuk.
Dengan perasaan yang sedikit cemas. Alfi membuka pintu rumahnya. Terlihat Ken masih sangat terlelap di atas sofanya. Kopi yang disuguhkan Zara juga tampak masih utuh tak disentuh sama sekali. Alfi langsung menuju kamarnya.
Zara sedikit terlonjak karena Alfi tiba- tiba saja muncul di balik pintu.
" Kamu mengagetkan aku." Ujar Zara sambil memgelus dadanya.
" Maaf." Ucap Alfi dan mengecup kening Zara. Alfi memegang kening Arkan. " Syukurlah anak papa udah sembuh." Ujar Alfi.
" Kamu berangkat jam berapa?" Tanya Zara penasaran.
" Setelah menelepon kamu. Aku langsung berangkat menuju bandara." Jawab Alfi dan duduk di tepi kasurnya melepaskan sepatu yang dipakainya.
" Ken semalaman tidur di sofa?" Tanya Alfi.
" Ya. Waktu dia datang menjemput kami. Wajahnya emang keliatan cape."
" Dia pasti sangat sibuk. Perusahaannya meroket. Banyak investor berdatangan. Ken pasti sedikit kewalahan. Apalagi dia belum punya sekretaris yang handal." Ujar Alfi menjelaskan. " Oh iya. Sepatu Ken siapa yang melepaskan?" Alfi teringat posisi Ken meringkuk di atas sofa dan sepatunya tergeletak begitu saja di lantai.
Zara sedikit tersentak dengan pertanyaan Alfi dan menyunggingkan senyum di wajahnya. " Nuri." Ucap Zara.
" Benarkah?" Alfi menatap Zara menyelidik. Mendeteksi adakah kebohongan di mata Zara.
" Iya."
Baiklah. Aku akan membangunkan Ken. Ini udah siang." Ucap Alfi dan keluar dari kamarnya.
Zara menghembuskan nafas lega. Karena Alfi tidak curiga padanya. Semalam Zara yang melepaskan sepatu Ken. Akan tidak nyaman tidur dengan sepatu masih melekat di kakinya.
" Ken." Alfi menggoyang- goyangkan tubuh Ken.
Ken hanya menggeliat.
" Ken."
Ken tidak bergeming.
" Mode pangeran tidur nii bocah." Keluh Alfi.
Alfi mendekatkan mulutnya di telinga Ken. " KEEEEENNNNN BAAAANGGUUUUUNNN!!!!" Teriak Alfi sekencang- kencangnya tepat di telinga Ken.
__ADS_1
Ken langsung tersentak kaget. " AAAHHHH! Ganggu aja lo!" Omel Ken dengan mata menyipit.
" Wooyy.. Ini rumah gue!" Ucap Alfi yang melihat Ken dengan wajah bantalnya.
" Ha?!" Ken membuka matanya lebar- lebar. Barulah dia ingat jika semalam niatnya hany ingin tidur lima menit di sini. Ken langsung melihat jam dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.
" Kenapa gak bangunin gue?!" Omel Ken dan segera bangkit.
" Cuci muka dulu. Biar sadar." Ujar Alfi dan menggiring Ken menuju wastafel yang ada di dapur.
Ken berjalan terburu- buru dan .. ' BRUK'
Ken tak sengaja menabrak Zara yang tiba- tiba saja muncul. " Sorry.. Sorry, Zar." Ucap Ken dan melanjutkan langkahnya. Tak dihiraukannya Zara yang jatuh karena bertabrakan dengannya.
" Mau kemana sih dia?" Omel Zara melihat Ken dengan aneh.
Alfi membantu Zara berdiri. " Gak tau." Alfi mengedikkan bahunya.
" Tisu mana?" Tanya Ken dengan wajah masih basah.
" Tuhh." Alfi menunjukkan kotak tisu yang bertengger manis di atas meja makan.
Ken langsung mengambil beberapa lembar tisu dan mengeringkan wajahnya.
Ken yang sadar kakinya sudah tidak memakai alas langsung duduk di sofa dan memakai kembali sepatunya dengan secepat kilat.
" Mau kemana sih lo? Buru- buru banget."
" Ada janji sama Naila." Ucap Ken dan langsung keluar dari rumah Alfi.
Baru saja Ken menghilang di balik pintu. Kepalanya kembali menyembul di balik pintu. " Oh iya. Gimana keadaan Arkan?" Ken baru teringat dengan Arkan.
" Demamnya udah turun. Makasi udah anterin ke rumah sakit." Jawab Zara.
" Syukurlah. Gue cabut ya. Bye." Ujar Ken dan langsung menghilang di balik pintu. Zara dan Alfi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ken.
*******
Sepulang dari rumah Alfi, Ken langsung bergegas membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Beruntung Alfi membangunkannya tepat pada waktunya Ken ada janji untuk bertemu dengan klien baru setelah jam makan siang. Walaupun hari ini hari libur. Ken tetap memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Jadwalnya telalu padat jika hanya mengandalkan hari dan jam kerja. Jadilah Ken memutuskan untuk bertemu dengan klien di hari liburnya.
" Setelah ini lo mau kemana?" Tanya Cinta pad Ken. Cinta memang sengaja di angkat Ken sebagai sekretarisnya. Walaupun cuma tamatan SMA. Cinta terlihat sudah mulai cukup cekatan dalam memgatur jadwal Ken.
__ADS_1
" Mau jemput Naila." Jawab Ken dan melihat jam dipergelangan tangannya. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat.
" Yaudah kalo gitu gue balik duluan ya." Ujar Cinta dan segera keluar dari restoran tempat mereka meeting tadi.
Ken merasa masih punya waktu untuk mampir di toko kue untuk membelikan kue sebagai buah tangan.
Ken memilih lemon cake kesukaan mamanya. Kemudian Ken melajukan kembali mobilnya menuju kosan Naila.
Naila menatap dirinya berkali- kali di cermin. Memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya saat ini. Walaupun dia tidak cantik, pendidikannya hanya sampai SMA. Setidaknya dia mempunyai penampilan yang menarik agar bisa terlihat pantas bersanding dengan Ken.
Hati Naila berdebar tak karuan ketika jam mulai mendekati pukul tiga. Dia takut jika pertemuannya kali ini tidak membuat orang tua Ken suka padanya. Walaupun berkali- kali Ken mengatakan jangan pedulikan pendapat orang lain. Tetap saja Naila merasa cemas.
' Drrrttt'
Naila sedikit tersentak mendengar nada dering ponselnya. Naila melihat nama Ken tertera. Tanpa menjawab panggilan telepon itu. Naila langsung keluar untuk menghampiri Ken. Benar saja. Ken sudah berdiri sambil tersenyum manis di samping mobil mewahnya.
" Kamu ganti mobil lagi?" Tanya Naila memperhatikan setiap inchi mobil Ken yang baru dilihatnya.
" Mobil lama, sayang. Tapi jarang aku pakai." Jawab Ken dan membukakan pintu mobilnya untuk Naila.
Naila memandang takjub. Selama ini dia hanya melihat di televisi atau di ponselnya pintu mobil yang bukanya ke atas. Kini mobil seperti itu tampak di depan matanya. Naila masuk ke dalam mobil itu dan kembali memandang takjub dengan interior mobil tersebut.
" Kamu suka?" Tanya Ken memperhatikan Naila yang memandang kagum.
" Suka. Tapi bukankah lebih baik kalo uangnya ditabung?"
" Aku tidak beli sayang. Ini hadiah dari papa." Jawab Ken.
Tanpa banyak bicara lagi. Ken segera melajukan mobilnya menuju rumah mamanya. Gerbang rumah Ken sudah terlihat. Naila menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Rasa gelisahnya kembali menyerang.
Ken turun dari mobilnya di ikuti Naila. Ken memggandeng tangan Naila erat ketika memasuki rumahnya. Ketika Ken masuk. Sudah berkumpul anggota keluarganya termasuk dua kakak tiri Ken yang tak pernah mau menunjukkan batang hidungnya di hadapan Ken. Kini muncul dengan formasi lengkap.
Sebagai anak bungsu dikeluarga ini. Ken mencium punggung tangan mereka satu persatu. Ken terpaku sebentar ketika dilihatnya Akihiro dan istrinya juga hadir di sana.
" Ini calon istrimu?" Tanya Akihiro dengan senyum di wajahnya menatap Naila.
" Iya." Jawab Ken. Naila mencium punggung tangan Akihiro dan ikut duduk di samping Ken. Tangan Ken tidak pernah lepas dari tangan Naila.
Suasana hening sejenak. Hampir seluruh anggota keluarga menatap ke arah Ken dengan tajam.
" Sebenarnya ada maksud apa aku dan Naila di minta ke sini?" Ken membuka suaranya.
__ADS_1
" Langsung ke intinya saja sayang." Sandra menanggapi dan menatap Ken tajam. " Mama tidak setuju dengan rencana pernikahan kamu."
" Kenapa?" Ken mencoba bersikap tenang. Naila menunduk sedih. Ketakutannya terjadi. Pernikahan yang tinggal sebulan lagi masih terjegal restu dari keluarga Ken.