
" Sayang. Aku mau belanja." Ucap Naila sambil menelepon Ken. Entah kenapa pikirannya terasa sangat suntuk. Sejak perceraian Alfi. Ken selalu menyisihkan waktu liburnya untuk menjenguk Alfi. Waktu untuk Naila berkurang.
" Belanja aja. Aku udah kasih kartu aku kan?" Ujar Ken. Ken memang selalu membebaskan Naila untuk membeli apa saja yang Naila suka. Bahkan terkadang Ken memberikan hadiah- hadiah kecil untuk Naila.
" Aku maunya kamu antar." Naila mulai merajuk.
Ken tersenyum mendengar nada manja istrinya. Ken menutup layar laptopnya dan segera membereskan meja kerjanya. " Kamu mau belanja dimana?"
" Emmm.. Di mall yang waktu itu kita ke sana." Ucap Naila.
" Oke, Aku jemput."
" Gak usah!" Naila langsung menolak. " Akan makan waktu lama. Kita ketemuan di sana aja ya." Naila mengedip- ngedipkan matanya merayu Ken seolah Ken melihat wajahnya. Dia lupa jika mereka hanya melakukan panggilan suara.
" Oke."
" Yesss.. Aku berangkat sekarang." Naila berlonjak girang dan menutup panggilan teleponnya.
Naila langsung mengambil tasnya. Dengan penampilan kasual. Hanya mengenakan kaus dan celana jeans. Rambut tergerai. Naila berangkat menuju sebuah mall mewah yang pernah dia dan Ken datangi. Sebentar lagi Ken ada acara dengan para pemilik saham. Setidaknya Naila harus mengenakan pakaian formal. Sedangkan seingatnya pakaian formal miliknya hanya beberapa saja dan sudah Naila pakai beberapa kali. Ken akan malu jika istrinya hanya memakai pakaian yang itu- itu saja.
Dengan mengendarai taksi online. Naila sampai lebih dahulu di mall tersebut. Naila memutuskan untuk menunggu Ken di dalam saja sambil dia melirik- lirik baju. Siapa tahu saja ada yang dia taksir.
Naila memasuki ke sebuah toko brand ternama. Naila memilah- milah baju. Melihat Naila yang seperti orang yang kebanyakan hanya memilih. Seorang petugas yang berjaga di toko tersebut menghampiri Naila.
" Selamat sore kak. Maaf ada yang bisa saya bantu?"
Naila agak kaget karena tiba- tiba saja ada orang tepat di sebelahnya. " Ini mba. Aku milih gaun untuk acara formal." Ujar Naila.
Petugas itu walaupun melayani dengan senyuman. Tetapi lirikan matanya seolah merendahkan Naila yang berpakaian sederhana.
" Range harga gaun disini yang termurah sekitar sepuluh jutaan kak."
" Boleh saya liat?" Tanya Naila.
Petugas itu kembali memperhatikan Naila dari atas kepalanya hingga kaki. Bukan menjawab Naila dia malah menghampiri Ken yang baru saja masuk ke tokonya dan menyambut Ken dengan senyum lebar dan kehangatan.
Ken tak menghiraukan sapaan petugas wanita itu. Matanya sibuk mencari sosok Naila.
__ADS_1
" Udah ketemu yang kamu suka?" Tanya Ken.
Naila terlonjak kaget karena Ken bicara tepat di telinganya. " Kamu mengagetkan aku!"
Ken tersenyum puas melihat ekspresi lucu istrinya .
Naila menggelengkan kepalanya " Mereka gak mau ambilkan gaun yang ingin aku lihat." Ucap Naila dengan wajah bertekuk.
Ken merangkul istrinya dan bertanya pada petugas itu.
" Istriku ingin gaun untuk acara formal. Bisakah kalian menunjukkan pilihannya?"
Petugas yang awalnya melihat julid pada Naila. Sedikit terbelalak karena gadis muda berpenampilan sederhana ini istri seorang pemuda tampan dan kaya.
" Bisa, Pak." Ujarnya cepat dan segera mengambilkan beberapa gaun terbaik mereka.
Naila memilih dan akhirnya dia menjatuhkan pilihan gaun berwarna denim. Sebuah gaun sederhana namun memberi kesan mewah dan elegan ketika Naila kenakan.
" Ken. Harganya mahal banget." Bisik Naila ketika melihat label harga yang tertera mencapai puluhan juta. " Kita beli di tempat biasa aja ya." Bisik Naila lagi. Rasanya sayang sekali dia harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah gaun yang menurutnya sangat sederhana.
Ken tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dan menatap istrinya. " Kamu suka?"
Ken mengeluarkan sebuah kartu debitnya dan memberikannya pada kasir.
" Mahal." Bisik Naila lagi seakan tidak rela suaminya mengeluarkan uang sebanyak itu.
Ken hanya tersenyum. " Kamu mau yang mana lagi? Bagaimana dengan heels itu?" Ken menunjuk sebuah sepatu heels yang tidak terlalu tinggi haknya berwarna senada.
" Jangan sayang." Naila langsung menolak. Dia sudah melihat harga sepatu itu. Harganya bikin sakit kepala.
Ken kembali tersenyum melihat tingkah polos Naila. " Mba sekalian heels itu ya. Nomor 37." Ucap Ken pada petugas kasir.
Naila hanya bisa pasrah sambil memijat keningnya. Membayangkan uang puluhan juta melayang begitu saja. Naila tidak tahu saja jam yang dia kenakan saat itu berada di harga berapa. Ken memesannya khusus pada perusahaan arloji ternama. jam tangan yang di desain khusus hanya untuk Naila. Kalau Naila tahu. Bisa pingsan lagi anak itu mendengar harganya.
Setelah berbelanja membeli baju untuk Naila. Ken mengajaknya ke sebuah restoran tetapi kali ini Naila yang pilih. Naila takut jika Ken akan mengajaknya ke restoran yang buatnya terlalu formal. Sudahlah makanan yang disajikan sedikit. Harganya pun sangat mencekik kantong.
" Ken." Sapa seseorang ketika mereka sedang sibuk memilih meja.
__ADS_1
Ken menoleh. Tatapan Ken berubah dingin ketika melihat sosok wanita itu. " Ayo sayang." Ujar Ken dan menarik tangan Naila dengan lembut meninggalkan wanita itu begitu saja.
Caca. Ya wanita yang berpapasan dengan Ken adalah Caca. Niat hati Caca ingin menyambung pertemanan kembali dengan Ken. Tetapi mustahil melihat sikap Ken yang seolah tidak menganggapnya ada. Caca hanya diam menatap Ken yang menjauh.
" Yang tadi itu siapa?" Tanya Naila merasa penasaran. Tak biasanya Ken mengacuhkan orang yang memanggilnya sangat dekat seperti itu.
" Gak usah dibahas." Ujar Ken sambil memilih menu.
" Aku penasaran." Ujar Naila.
" Aku gak mau bahas!" Ken menatap Naila tajam. Ken tidak akan pernah melupakan perbuatan Caca terhadap Kinan. Wanita yang dulu pernah Ken cintai.
Naila langsung diam seribu bahasa mendapat tatapan tajam dari Ken. Naila langsung menyibukkan dirinya dengan memilih beberapa menu makanan.
" Aku boleh tanya sesuatu?" Naila memecahkan keheningan di antara mereka.
" Apapun. Kecuali tentang wanita tadi." Ujar Ken.
Naila menarik nafasnya dalam. " Aku wanita keberapa yang hinggap di hati kamu?"
" Empat." Jawab Ken sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Banyak banget!" Naila terbelalak.
" Semua wanita itu udah gak ada di sini. Cuma ada kamu sekarang." Ujar Ken.
" Benarkah?" Naila menyipitkan matanya.
" Iya." Ken mengelus lembut pipi Naila.
" Kamu orang pertama dan akan yang terakhir yang ada di sini." Ucap Naila.
Ken mengelus lembut pucuk kepala Naila. Ingin rasanya Ken memeluknya saat ini. Memang semenggemaskan itu Naila di mata Ken.
" Aku boleh minta sesuatu?" Ucap Naial dan menatap Ken dengan manik mata Naila yang bersih.
" Apa?"
__ADS_1
" Lain kali jangan menghamburkan uang buat beli baju beginian doang ya.."