Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
83


__ADS_3

Ken menghampiri Zara yang duduk di ruang tunggu rumah sakit. Setiap hari selalu berharap dia mendapat kabar baik tentang Alfi. Ken duduk di samping Zara dan memberikan surat undangan pada Zara. Zara terpaku sejenak menatap surat undangan yang diberika Ken dan kemudian Zara menerima surat undangan tersebut.


" Akhirnya kamu menikah, Ken." Ucap Zara dengan suara lirih. Entah kenapa dadanya masih terasa sesak. Padahal saat ini yang memenuhi pikirannya adalah Alfi.


" Ya. Tapi acara itu gak akan lengkap. Karena gak ada Alfi." Ken tertunduk menahan kesedihan. Alfi adalah sosok yang berharga dalam hidup Ken.


" Kamu gak undur aja?"


" Gak bisa, Zar. Pihak keluarga Naila udah mengumumkan tanggal itu pada keluarga besar mereka." Ujar Ken. Ken menarik nafasnya. Sesak rasanya mengingat sahabat yang dia harapkan menjadi saksi dalam pernikahannya tidak dapat hadir.


Zara menyeka air mata yang sudah siap tumpah di ujung matanya.


" Hufffthhh.." Ken membuang nafasnya kasar. Keadaan Alfi yang tak kunjung ada perubahan membuatnya sesak.


" Aku cape.." Ucap Zara dengan suara lirih.


Ken hanya diam dan menatap Zara sekilas.


" Kenapa Alfi nyiksa perasaan aku begini, Ken." Ujar Zara kini tangisnya mulai pecah. " Kenapa dia gak siuman? Apa dia gak kangen sama aku dan Arkan." Ujar Zara lagi.


" Alfi pasti kangen kalian juga, Zar." Ujar Ken.


Zara menjatuhkan kepalanya di pundak Ken. Biar bagaimanapun Zara butuh sandaran yang bisa membantunya untuk tetap kuat. Ken ingin menyingkir tetapi rasa ibanya pada Zara membuat Ken hanya diam tak bergeming.


******


Naila tertegun di depan pintu kosannya ketika melihat seluruh keluarganya yang ada di kampung secara tiba- tiba ada di depan pintu kostnya.


" Kenapa kalian datang sekarang?" Tanya Naila tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Ini bapakmu loh, Nai. Gak sabar pengen lihat calon mantunya yang katanya dari mulut tetangga calon suamimu itu guanteng kaya pangeran." Seloroh Rasmini, ibu Naila.


" Oalah.. Jam segini dia masih kerja." Ucap Naila. " Masuk dulu sini." Naila mengajak keluarganya yang berjumlah delapan orang masuk ke dalam kamar kostnya yang sempit.

__ADS_1


" Ini kita tidur disini, mba?" Bisik Ningsih sambil matanya berkeliling memperhatikan kamar kost Naila.


" Yang penting ada tempat berteduh." Sahut Rasmini asal.


" Gak mungkin kalian tinggal di sini. Masa kita tidurnya begini!" Protes Naila dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Keluarganya ada- ada saja. Acara pernikahannya masih sepuluh hari lagi. Tapi mereka udah dateng.


" Bentar aku telepon Ken dulu." Ujar Naila. Dan mengambil ponselnya lalu keluar dari kamarnya. Menurutnya kamarnya saat ini lebih ramai dari pasar.


Setelah beberapa saat Naila menelepon Ken. Naila kembali ke kamarnya. " Nanti Ken akan cari rumah untuk kalian tinggal sementara waktu." Ujar Naila. Tak enak sebenarnya dia harus merepotkan Ken. Tapi mau bagaimana lagi. Di biarkan mereka tidur di kosannya juga sangat tidak mungkin. Ken memang mengusulkan tidur di apartemennya. Mengingat keluarganya yang dari desa dan mereka hanya petani. Pasti akan sedikit kesulitan memakai fasilitas yang ada di apartemen milik Ken.


Hampir menjelang sore. Ken baru tiba di kostan Naila. Terdengar suara riuhnya sampai luar. Ken yang memang tidak pernah masuk kedalam kamar kost Naila. Menghubungi Naila dan memberi kabar jika dia sudah sampai.


Naila mengajak rombongan keluarganya ke halaman kamar kostannya untuk bertemu dengan Ken. Ken sedikit terpaku melihat betapa banyaknya barang yang mereka bawa.


" Aduuhh calon mantuku." Rasmini langsung menghampiri Ken dan mengelus- elus lengan Ken yang terbalut jasnya.


Ken mencium punggung tangan Rasmini.


" Ini bapaknya Naila." Ucap Rasmini mengenalkan Tejo pada Ken. Saat lamaran dulu. Tejo sedang berada diluar desa untuk mengobati perutnya yang sudah sering turun.


" Beneran kaya pangeran ya, Bu." Ujar Tejo memandang Ken dengan takjub. Tangan Ken terasa sangat halus berbeda dengan tangannya yang kasar karena hampir setiap hari berteman dengan cangkul.


" Pangeran kodok, Pak." Gurau Ken.


" Naila beruntung banget dapet laki ganteng dan Kaya. Lahh kamu di kampung cuma di taksir anak pak Lurah!" Bisik Ningsih pada putrinya Laksmi.


" Saya antar kalian ke rumah yang udah saya sewa." Ujar Ken dan membantu mereka menaikkan barang2 ke dalam mobil yang dia sewa juga untuk mengantar keluarga Naila.


" Kamu sewa juga mobilnya?" Bisik Naila. Karena dia tahu jika Ken hanya memiliki satu mobil model SUV seperti itu.


" Iya. Mau bawa mobil kantor. Tapi operasional kantor lagi padat." Ucap Ken saat mereka dalam perjalanan menuju rumah yang sudah Ken sewa.


" Maaf keluarga aku ngerepotin kamu." Ucap Naila sedikit malu pada Ken.

__ADS_1


" Aku gak merasa di repotkan." Ujar Ken dan mengelus lembut kepala Naila.


Ken membelokkan pada sebuah rumah yang cukup besar berlantai dua. Ken menghentikan mobilnya di halaman rumah tersebut dan kemudian turun.


" Ini rumah kalian selama disini. Silahkan pilih kamar kalian. Maaf jika kurang nyaman." Ujar Ken.


Keluarga Naila memandang takjub bangunan besar di depannya yang menurut mereka sudah cukup mewah. " Ini akan sangat nyaman." Seloroh Ningsih.


" Syukurlah." Ujar Ken. " Saya harus balik ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Ucap Ken pamit.


" Kamu hati- hati." Ujar Naila.


Ken memberikan sejumlah uang pada Naila secara diam- diam.


" Apa ini?"


" Ajaklah keluargamu makan. Kalo kurang. Hubungi aku." Ujar Ken dan kemudian melajukan mobilnya kembali menuju kantornya.


Naila langsung memasukkan tumpukkan uang yang banyak itu ke dalam baju. Gak enak kalo sampai dilihat keluarganya terutama Bude Ningsih. Budenya itu terkenal mata duitan.


Naila menghampiri kedua orang tuanya dan kedua adiknya yang sejak tadi hanya diam karena budenya yang sangat mendominasi pembicaraan diantara mereka.


" Ken pernah nginap di kosan kamu, Nduk?" Tanya Tejo sedikit prihatin mengingat bagaimana pergaulan anak kota zaman sekarang.


" Boro- boro nginap, Pak. Masuk ke kamar kost Naila juga gak pernah." Jawab Naila.


" Ternyata udah ganteng dia juga punya adab, Pak. Gak salah Naila pilih dia." Sahut Rasmini bangga karena putrinya belum tersentuh tangan jahil lelaki.


" Palingan karena dia cuma mau jadiin kamu simpanan! Jangan bangga dulu toh..." Seloroh Laksmi asal.


" Husss.." Rasmini menyuruh Laksmi diam. " Kamu iri toh Naila dapet lelaki kaya." Ujar Rasmini.


" Gak iri Bu'le.. Aku cuma mengingatkan! Ken itu kaya dan ganteng. Yang mau sama dia banyak. Masa iya dia lebih milih sama Naila. Anak desa dan yang gak ada apa- apanya sama dia." Sambung Laksmi lagi.

__ADS_1


" Kamu udah janji gak ngomong yang macem- macem loh!" Bentak Tejo.


" Di kasih tahu kok marah!" Ujar Laksmi dan membawa tasnya menuju kamar yang berada di lantai dua.


__ADS_2