Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
45


__ADS_3

Zara meletakkan buah- buahan yang dibelinya d atas nakas samping ranjang Desta. Desta hanya menyunggingkan senyum dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan. Desta masih belum mampu untuk bicara banyak atau bicara lebih keras. Lukanya masih terasa perih.


" Makanlah sayang." Zara menyiapkan makanan yang dia bawa pada Alfi.


Alfi tersenyum bahagia karena lambat laun Zara seperti menerimanya kembali di hatinya. Alfi menyuapkan makanan itu dengan lahap. Tak terbayangkan rasa bahagianya saat ini. Tanpa diminta. Zara membuatkan makanan untuknya.


" Terima kasih sayang. Makanannya enak sekali." Ucap Alfi penuh ketulusan dan rasa bahagia.


" Syukurlah kalo kamu suka."


" Elo mau buah?" Tanya Alfi beralih pada Desta.


" Boleh."


" Alpukat ya. Jangan yang keras- keras. Nanti susah di cerna." Ucap Alfi dan di jawab dengan anggukan oleh Desta.


Dengan telaten dan sabar. Alfi menyuapi Desta buah alpukat. Sementara Zara hanya menyibukkan dirinya dengan menscroll sosial medianya di ponsel.


" Apa kamu masih lama?" Tanya Zara mulai merasa bosan. Bagaimana Alfi dan Ken betah berjaga lama- lama di sini bahkan sampai berhari- hari.


Alfi melihat jam di pergelangan tangannya. " Sebentar lagi Ken datang." Ucap Alfi.


" Panjang umur." Ujar Desta dengan senyum lemahnya dan bersamaan dengan Alfi menatap ke arah Ken yang baru saja masuk.


" Kenapa? Ngomongin gue ya.." Gurau Ken di tanggapi tawa kecil Alfi dan Desta.


Ken melangkah dan terhenti ketika melihat ada Zara sedang duduk di sofa menatap lekat ke arahnya. Tiba- tiba saja kejadian pagi tadi terlintas dalam benak Ken dimana dia mencium Zara dengan kasar. Buru- buru Ken memalingkan wajahnya dan kembali menghampiri Desta.


" Gue ke toilet dulu." Bisik Alfi pada Ken dan langsung berjalan keluar kamar Desta.


" Alfi mau kemana?" Tanya Zara yang bingung melihat Alfi keluar begitu saja.


" Toilet." Jawab Ken singkat tanpa melihat ke arah Zara.


" Gimana keadaan lo?" Tanya Ken pada Desta.


" Jauh lebih baik."


" Udah makan?" Tanya Ken lagi. Desta menjawab dengan anggukan. " Minum obat?"


" Sebentar lagi." Jawab Desta lemah. Ken yang sebenarnya tahu jadwal minum obat Desta hanya tersenyum. Itu hanya sekadar pertanyaan basa basi.


" Ken." Panggil Zara merasa di acuhkan.


" Ya."


" Aku mau bicara."


" Alfi sebentar lagi kembali. Silahkan bicara kalo ada Alfi aja."


" Tapi Ken.."


Ken beralih menatap tajam ke arah Zara. " Boleh gue tanya sesuatu?"


" Silahkan."

__ADS_1


" Sebenarnya apa alasan lo melanjutkan pernikahan sama Alfi?" Tanya Ken dengan mata menatap tajam Zara.


Zara terdiam. Tak menyangka jika Ken akan bertanya di saat ada Desta di antara mereka.


" Desta tau semuanya. Jadi jawab aja." Desak Ken.


Zara menarik nafasnya dalam. " Kamu." Ucap Zara membuat kening Ken bertaut. " Kamu yang jadi alasanku, Ken."


Ken melemparkan senyum penuh arti dan memalingkan kembali wajahnya tak ingin mendengar lebih lanjut alasan Zara.


" Kenapa kamu menghindar?" Gantian Zara mendesak agar Ken kembali menatapnya.


" Anggap kita gak pernah bahas ini." Ucap Ken tegas. Desta hanya menarik nafas dalam. Ingin rasanya dia mencecar Zara dengan berbagai pertanyaan dan menceramahi Zara. Tapi keadaannya tidak memungkinkan.


" Tumben banget toilet penuh." Keluh Alfi yang baru saja muncul. " Ayo kita pulang, Sayang." ucap Alfi mengajak Zara keluar.


" Gue cabut dulu." ucap Alfi menyalami Ken dan Desta dengan gaya salam persahabatan mereka.


" Hati- hati lo." Ucap Ken.


" Ya."


*******


Seminggu berlalu sudah. Desta sudah diperbolehkan pulang. Yaa walaupun masih harus kontrol lagi. Tapi itu sudah membuat Desta bahagia. Apalagi kali ini Arsyi ikut mengantarnya pulang. Hubungan yang dulu pernah kandas. Kini terjalin lagi. Ken membantu membawakan barang- barang Desta dalam tas besar. Arsyi mendorong kursi roda yang ditumpangi Desta.


" Sayang banget Alfi gak bisa anterin gue pulang."


" Kan masih ada gue ama Arsyi." Sahut Ken dengan riang. Ken memasukkan barang- barang Desta dalam bagasi mobil Arsyi. Dan Ken sendiri mengendarai motornya menuju rumah Desta.


Ken menunggu Desta di teras rumahnya. Tampak dari luar rumah tersebut sepi bagaikan tak berpenghuni. Yaa kan memang Desta tinggal sendiri.


" Selamat datang, Desta!" Ucap orang- orang yang ada di dalam rumahnya serempak.


Ada Alfi, Zara, Kinan, Caca, Keluarga Desta serta orang tua Arsyi ikut bergabung dalam pesta penyambutan Desta. Desta tersenyum lebar dan hampir saja menitikkan air mata karena terharu. Selama ini mereka begitu peduli.


" Selamat datang, Sayang. Selamat kembali ke rumah." Ucap Monik dan mencium pipi Desta. Begitupun dengan Burhan.


" Jangan berulah lagi. Inget lo gak sejago Ken." Gurau Derin kakak Desta.


Desta hanya tertawa kecil menanggapi.


" Om dan Tante gak tau harus ngomong apa lagi sama kamu. Tapi om dan tante sangat berterima kasih karena kamu membela Arsyi." Ucap Papa Arsyi penuh haru.


Mama Arsyi memberikan kotak perhiasan pada Desta. Dengan perasaan sungkan Desta menerima kotak perhiasan kecil itu dan membukanya.


" Cincin?" Tanya Desta tak mengerti.


" Sematkan cincin itu pada jari Arsyi." Ucap Mama Arsyi dengan senyum bahagia.


Arsyi mendekat dan berdiri di hadapan Desta. Perlahan. Desta menyematkan cincin itu pada jari manis Arsyi. Dan di sambut riuh tepuk tangan.


" Tunangan dadakan." Bisik Ken meledek Desta yang terus saja tersenyum lebar.


" Sirik aja lo!"

__ADS_1


" Gue juga bakalan nyusul." Ucap Ken lagi.


" Sono. Duluan juga gak papa." Ucap Desta kesal karena Ken tak berhenti meledeknya.


Ken tertawa melihat wajah kesal Desta.


Kinan berjalan mendekati Ken dan menggandeng tangan Ken ketika dia tak sengaja melihat Zara mencuri pandang pada Ken yang asik bercanda dengan Desta.


" Gandeng aja terus." Sindir Desta.


" Biar gak diambil pelakor!" Ucap Kinan dengan ekor mata melirik tajam pada Zara.


" Udah." Ken menengahi. Tak ingin merusak acara bahagia Desta.


" Kesel. Udah punya suami masih aja lirik pacar orang!" Omel Kinan berbisik pada Ken.


Ken tersenyum melihat wajah kesal Kinan yang lucu. " Kamu cemburu?" Tanya Ken namun dengan nada meledek.


" Engga!"


" Kamu cemburu." Ken mengulang ucapannya.


" ihh kamu nyebelin." Omel Kinan dan mencubit gemas pinggang Ken.


Ken tertawa dan ekor matanya menangkap jika Zara mengamati tingkahnya bersama Kinan. Ken sengaja melihat ke arah Zara dan menyunggingkan senyum penuh kesopanan pada Zara. Biar bagaimanapun dia adalah istri dari sahabatnya. Karena sosok Alfi saja Ken masih mau berteman dengan Zara.


" Aku ke toilet sebentar." Ucap Zara pada Alfi.


" Perlu aku antar?"


" Aku sendiri aja." Ucap Zara cepat dan segera berlalu dari hadapan Alfi.


Zara berjalan mencari sosok Ken. Entah kenapa Zara selalu tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menemui Ken. Hingga akhirnya Zara melihat Ken membawa Desta masuk ke kamar. Dengan cepat Zara menyusul ke kamar Desta.


" Mau ngapain lo?" Tanya Desta merasa aneh karena Zara masuk tiba- tiba.


Ken hanya melihatnya sekilas dan kembali membantu Desta untuk berbaring di kasur. Desta memang harus banyak beristirahat untuk mempercepat proses pemulihannya.


Dengan cuek. Ken berjalan menuju pintu dimana Zara masih berdiri di dekatnya.


" Ken."


" Gak ada yang perlu dibicarakan, Zar." Ucap Ken dingin dan menarik handel pintu.


" Sebentar aja Ken." Zara memeluk Ken dengan erat membuat Ken menghentikan langkahnya.


" Lepas, Zar."


" Sebentar aja Ken."


Ken menarik nafasnya dan melerai tubuh Zara darinya. " Kalo bukan karena Alfi. Gue gak akan pernah mau kenal sama lo lagi!" ucap Ken.


" Kalo bukan karena Alfi. Mungkin kita udah bersama, Ken." Ucap Zara lirih.


Ken hanya mendengus sebal mendengar ucapan Zara dan segera keluar dari kamar Desta.

__ADS_1


" Sepenasaran itu lo sama Ken?" ucap desta namun terdengar seakan menghina Zara.


" Kamu gak akan ngerti gimana perasaan aku!" ucap Zara kesal dan segera keluar dari kamar Desta.


__ADS_2