
" Saya ada keperluan mendesak. Besok saya akan ke sini lagi." Ucap Ken terburu- buru pada mandor proyek ketika menerima pesan dari Kinan.
Dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ken menembus kemacetan ibu kota dengan waktu yang lumayan singkat. Saat ini, Kinan pasti sangat ketakutan. Sejak kejadian penculikan. Mental Kinan memang mudah Drop. Dia sangat mudah terintimidasi. Bagaimana bisa Caca masuk ke apartemennya. Pikiran itu kembali menggelayuti dalam benak Ken.
Sesampainya di lantai basement. Ken segera berlari menuju lift dan menunggu lift dengan gelisah. Begitu pintu lift terbuka. Ken segera menekan tombol tujuannya. Ken melayangkan senyum pada petugas kebersihan yang kebetulan satu lift dengannya.
Setelah sampai pada lantai yang dia tuju. Ken segera berlari menuju apartemen Kinan.
" Sayang." Panggil Ken karena pintu terkunci dari dalam. Beberapa kali Ken menekan bel. Tapi tak kunjung di buka.
Baru saja Ken ingin mendobrak pintu apartemen itu. Pintu terdengar di buka.
" Hai." Sapa Caca dengan senyum manis namun tetap terlihat licik.
Ken menatap Caca tajam dan matanya mengedar mencari sosok Kinan.
" Mana Kinan?" Tanya Ken menjaga jaraknya dengan Caca.
" Tuh." Caca menunjuk Kinan yang kini sudah terkulai lemas di atas kasurnya.
" Elo apain Kinan?" Bentak Ken kesal dan berhambur menghampiri Kinan.
" Belum di apa- apain udah pingsan. Gak seru, Ah!" Ucap Caca diselingi tawanya.
" Kinan." Panggil Ken sambil menepuk- nepuk pipi Kinan. " Bangun sayang." Panggil Ken semakin panik.
" Kinan yang lemah kaya gitu. Gak pantes buat lo?!" Seloroh Caca.
Ken meninggalkan tubuh Kinan yang masih pingsan dan menghampiri Caca yang duduk dengan santainya. " Apa lo pantas buat gue?!" Tanya Ken menohok. " Gue lebih tau apa yang pantas dan engga buat gue! Bukan Lo!" Bentak Ken.
" Terus aja lo hina gue!" Ucap Caca kesal.
" Pergi lo dari sini!"
" Gue akan pergi. Tapi elo harus rasain sesuatu dulu!" Caca menyeringai dengan senyum licik.
Dengan cepat. Caca menghunuskan benda tajam pada perut Ken. Ken telat menyadari. Caca mencabut dan ketika ingin kembali menghunuskan kembali pada Ken. Dengan cepat Ken menangkap tangan Caca dan memelintir ke belakang hingga Caca melepaskan benda tajam tersebut dari tangannya.
__ADS_1
Ken yang mahir dalam bela diri. Dengan cepat membalikkan Keadaan. Tangan Caca sudah terkunci dan tidak bisa berontak lagi. Ken menarik taplak meja untuk mengikat tangan Caca. Tak dipedulikan barang- barang yang jatuh dan pecah hingga berserakan di lantai. Tak lupa juga Ken mengikat kaki Caca dan membiarkan tubuh Caca menggeliat dan meronta di lantai.
" Kali ini lo gak akan lolos dari hukum, Ca." Ucap Ken dan melihat luka yang di timbulkan. Darah yang keluar lumayan banyak. Dengan sikap tenang. Ken menghubungi polisi.
Ken kembali menghampiri Kinan dan mengoleskan minyak kayu putih dekat hidung Kinan.
" Ken..." Kinan membuka matanya dan langsung memeluk Ken saat dia memastikan bahwa yang dia lihat adalah benar sosok Ken.
" Aku takut Ken...." Ucap Kinan sambil terus menangis.
" Udah gak papa. Jangan takut lagi ya. Caca udah aku iket." Ucap Ken menenangkan Kinan.
" Kamu gak papa kan?" Tanya Kinan karena baju yang dikenakan Ken berwarna hitam. Jadi warna darahnya sedikit tersamarkan.
Ken tersenyum tipis. " Kamu tenang ya. Sebentar lagi, polisi datang." Ucap Ken dan berjalan menuju ruang depan. Ken menyandarkan tubuhnya pada sofa kecil di ruang tamu. Nyeri pada perutnya mulai terasa. Ken tidak ingin Kinan melihat lukanya.
" Al. Bisa kesini? Tolong jaga Kinan." Ucap Ken saat menelepon Alfi.
" Bisa. Tapi gue izin ama Zara dulu ya."
" Iya. Secepatnya ya." Ucap Ken sambil meringis.
" Kena piso." Ucap Ken enteng.
" Gimana ceritanya?"
" Yaudah kesini aja dulu. Nanya mulu kaya perempuan!" Sahut Ken kesal. Sudah merasakan perih. Di tanya- tanya juga. Hemmm...
Tak sampai setengah jam. Pihak kepolisian dan ambulan telah datang. Caca digelandang menuju mobil polisi. Kinan yang masih lemas. Hanya bisa terbaring di atas kasurnya. Ken menguatkan dirinya untuk menghampiri Kinan. Ken melayangkan Senyumnya pada Kinan.
" Aku ke kantor polisi dulu ya buat kasih keterangan." Ucap Ken lembut.
Kinan mengangguk dan hanya melayangkan senyumnya.
Setelah Kinan tidak dapar melihat dirinya lagi, Ken langsung menjatuhkan dirinya di atas kursi roda yang disediakan petugas medis. Darah yang keluar sudah terlalu banyak. Beruntung hari ini dia memakai setelan hitam- hitam. Jadi Kinan tidak menyadari jika Ken terluka.
" Ken. " Panggil Alfi ketika berpapasan dengan Ken di depan lift.
__ADS_1
" Tolong jaga Kinan, Al. Dan tolong bersihin darah yang tercecer. Kinan jangan sampe tau." Ucap Ken pada Alfi.
" Ok."
Ken langsung di bawa masuk ke dalam lift.
Alfi membuka apartemen Kinan dan sedikit terperangah oleh kekacauan yang terlihat. Pecahan Kaca dimana- mana. Darah Ken yang menetes. Baru kali ini seorang CEO dari perusahaan besar melakukan pekerjaan rumah. Tapi demi peesahabatan. Alfi rela membereskan semua kekacauan ini. Apa yang terjadi. Kenapa bisa sekacau ini.
" Al?" Kinan melihat Alfi sedikit heran karena Alfi membawa kain pel ke kamarnya.
" Kotor banget. Jadi gue rapihin. Sorry banget nii masuk kamar." Ucap Alfi sedikit sungkan.
" Maaf ya, Al. Jadi ngerepotin."
" Santai." Sahut Alfi. " Keadaan lo gimana?" Tanya Alfi berbasa basi sambil mengepel lantai. Sengaja Alfi memperbanyak pembersih lantai. Agar bau anyir dari darah sedikit menghilang.
" Masih lemes. Gue belom bisa bangun." Ucap Kinan dengan senyum lemahnya.
" Yaudah. Elo istirahat aja. Nanti Zara sama Arkan ke sini."
" Ini udah mau malam."
" Iya. Mereka nginep. Buat nemenin lo. Ken pasti lama di kantor polisi." Ucap Alfi asal. Hanya mengikuti perintah dari Ken.
*******
Alfi melihat Ken yang masih bisa bersikap santai padahal perutnya baru dapat beberapa jahitan dari dokter.
" Ceritanya gimana?" Alfi semakin penasaran.
" Zara beneran udah sampe?" Tanya Ken kembali memastikan,
" Udah. Gue juga bilangin. Jangan bukain pintu buat siapa pun." Jawab alfi.
" Gue takut Kinan kenapa; napa."
" Iyaa... Sekarang Kinan udah gak papa. Tapi peryanyaan gue. Sakit apa engga?" Alfi menunjuk luka pada perut Ken.
__ADS_1
" Dikit." Ujar Ken dengan nada canda.