
Ken meletakkan buah- buahan serta cemilan kesukaan Kinan di atas nakas. Kinan hanya menyunggingkan senyum tipis. Semenjak kejadian penculikan itu, Kinan masih takut untuk keluar rumah. Bahkan dirinya tidak lagi ceria seperti dulu.
Ken dudul di tepi kasur menghadap Kinan yang hanya duduk termenung sejak tadi.
" Apa kamu mau sesuatu?" Tanya Ken lembut. Kinan menggeleng.
" Elo mau minum apa, Ken. Biar gue buatin." Tawar Caca yang memang sengaja menginap di apartemen Kinan untuk menemani Kinan.
" Gak usah repot- repot, Ca." Tolak Ken halus.
Caca mengambil bingkisan yang di bawa Ken dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Beberapa cemilan yang memang harus segera disediakan. Caca langsung sediakan. Martabak telur, bakso dan cupcake. Semua kesukaan Kinan. Caca segera menyuguhkan dan membawanya ke dalam kamar.
Ken segera mengambil alih ketika melihat Caca hendak membawa nampan berisi berbagai makanan.
" Biar gue aja." Ucap Ken cepat. Caca hanya tersenyum. Ken memang orang yang sigap.
Ken menarik nafasnya dalam ketika Kinan menolak semua pemberian darinya. Ken mengelus lembut pipi Kinan dan menatapnya lekat.
" Aku kangen kamu yang dulu." Ujar Ken dengan hati tersayat. Sakit sekali rasanya hati Ken melihat Kinan begiti terluka karenanya. " Maafkan aku yang gak bisa lindungin kamu." Ucap Ken kini dia menundukkan wajahnya menyembunyikan air mata yang meluncur di sudut matanya.
Kinan tak menjawab. Dia hanya memeluk Ken dengan erat dan kembali menangis dalam. Hanya pelukan Ken yang mampu menenangkan hatinya. Ken menciumi pucuk kepala Kinan. Tak rela rasanya gadis yang dia cintai begitu terluka.
" Kamu harus makan. Kita akan segera menikah." Bujuk Ken lagi seraya menyodorkan sepotong martabak telur di depan mulut Kinan. Berharap Kinan mau makan.
" Apa aku masih pantas jadi istri kamu?" Ucap Kinan dengan suara bergetar. Kinan merasa dirinya sudah kotor karena tubuhnya telah terjamah oleh lelaki lain selain Ken. Kinan tidak ingin Ken kecewa.
Ken menurunkan tangannya yang masih memegangi martabak dan tersenyum melihat Kinan dengan penuh ketulusan dan kelembutan. " Kamu selalu pantas, Sayang." Ucap Ken. " Hati ini akan selalu untuk Kinanku tersayang." Ucap Ken.
Kinan sedikit mengulas senyum dan kembali memeluk Ken dengan erat. Di balik pintu sana. Ada Caca menahan keperihan melihat serta mendengar segala kemesraan antara Kinan dan Ken. Entah kenapa sulit bagi Caca untuk menghapus Ken dari hatinya.
__ADS_1
******
" Besok Arkan udah boleh pulang kan sayang?" Tanya Zara penuh semangat. Tak sabar rasanya dia ingin segera menimang putra kecilnya setelah dua bulan lamanya di rawat secara intensif.
" Iya. Kamar Arkan dan semua perlengkapan Arkan juga udah siap." Ucap Alfi tak kalah semangat dengan Zara.
" Ken dan Desta ikut jemput Arkan?"
" Desta sepertinya engga. Arsyi lagi hamil muda. Ken, aku belum tau sayang." Jawab Alfi dan menjawil pipi istrinya dengan gemas.
" Apa masalah Ken sudah selesai?"
" Minggu depan sidang pertama kasus mereka akan digelar. Kamu mau datang?" Tanya Alfi.
" Arkan sudah di rumah. Aku gak mungkin ninggalin dia."
Zara menatap Alfi lekat. " Ada apa?"
" Apa kamu masih mencintai Ken? Emm. Maaf bukan maksud aku mengungkit masalah itu. Tetapi aku..."
" Perlahan posisi Ken sudah berganti denganmu." Ucap Zara menyela kalimat Alfi dan mencium pipi Alfi. " Maafkan aku karena pernah menduakan kamu. Dan terima kasih karena kamu udah sabar menunggu proses yang teramat sangat lama." Ucap Zara.
Alfi menatap istrinya lekat. Sinar mata Alfi menyiratkan kebahagiaan begitu mendengar ucapan istrinya. Alfi sangat bersyukur. Karena usahanya selama ini tidak sia- sia.
*******
Caca duduk di ruang televisi. Dibiarkannya televisi menyala sedangkan dia sendiri hanya duduk termenung memikirkan nasibnya. Caca hanya menarik nafas dalam untuk memberikan sedikit kelegaan dalam rongga dadanya.
" Nonton apaan ,Ca?" Tanya Ken yang baru saja keluar dari kamar Kinan.
__ADS_1
Caca sedikit gelagapan. Karena sejak tadi dia tidak menyimak acara yang dia tonton. " Gak tau apaan."
Ken duduk di samping Caca sedikit menjaga jarak. Karena memang hanya ada satu sofa panjang di depan televisi.
" Kinan udah tidur?" Tanya Caca.
" Udah. Keadaannya udah lebih baik dari kemarin."
" Syukurlah."
" Kaki lo gimana?"
" Sebentar lagi juga bisa jalan. Besok gue ke rumah sakit ya. Buat kontrol sekalian terapi." Ucap Caca.
" Mau gue anter?" Ken menawarkan.
" Engga usah. Elo jagain Kinan aja."
" Elo mau makan? Biar gue pesenin."
" Boleh. Tau aja kalo gue laper." Sahut Caca. " Elo nginep lagi?"
" Kayanya. Gue masih gak aman kalo kalian cuma berdua." Ken merasa khawatir. Mengingat keadaan Caca dan Kinan yang sama- sama sangat butuh perlindungan.
" Udah tiga hari loh Ken. Elo tidur di sini. Emang gak pegel?"
" Udah biasa." Sahut Ken. Selama dia menginap di apartemen Kinan. Ken memang tidur di sofa panjang yang sedang mereka duduki. Kamar tamu di tempati Caca. Kinan menempati kamar utama.
Caca masih takut jika tidur harus seranjang dengan Kinan. Bahaya jika tubuh Kinan tiba- tiba menindih kakinya yang patah.
__ADS_1