
Renita hanya terdiam berusaha untuk mengerti apa yang terjadi. Sementara Zahra masih berusaha untuk menenangkan Sesil yang terus menangis.
__ADS_1
“Kenapa masih disini?? Gak denger pengumuman tahh mbak???” Ucap seorang gadis dengan seragam putih abu-abu yang tengah berdiri tepat di depan Zahra. Zahra pun mendongakkan kepala nya dan menatap pelan gadis itu. “Punya kuping gak sih??? Udah di kasih tau masih aja duduk!”. Bentak gadis itu dengan tatapan yang tajam ke arah Zahra.
__ADS_1
Renita memperhatikan secara detail penampilan gadis itu, hingga tanpa sadar Renita tertawa kecil dengan tatapan fokus ke arah gadis itu. “Apa ketawa-ketawa??! Gila yaa??? Anak baru jangan sok deh!”. Bentak gadis itu kepada Renita. Renita sangat tidak suka dengan kata-kata yang kasar. Itu juga yang membuat Renita senang bergaul dengan Zahra. Mendengar perkataan gadis itu, Renita langsung berdiri dan menghampiri gadis tersebut dengan tatapan tajam. “Tinggi mu tidak seberapa ya???” Hina Renita. Sontak gadis itu tersentak dengan perkataan Renita, mata nya mulai memancarkan kemarahan. “Kenapa mbak??? Gak suka dengan kata-kata saya??? Kalo gak suka, jangan deket-deket sama saya”. Timpal Renita dengan nada sedikit meninggi. Zahra tidak bisa membiarkan Renita terus-terusan berada di taman itu. Karena bisa berdampak buruk untuk gadis itu. “Sudah yuk Ren, kita pergi aja. Sudah mulai pembagian ruangan.” Ajak Zahra seraya bangkit dan meraih tangan Renita. Tapi Renita masih saja menatap tajam gadis itu. Akhirnya Renita pun mengikuti perkataan Zahra, dan mereka pun berjalan menuju lapangan upacara. Sesampainya mereka di lapangan upacara, ternyata anak-anak sudah berbaris rapih dengan kakak-kakak anggota osis di hadapan mereka. “Kita terlambat yaa??” Ucap Sesil lirih. Zahra mengiyakan nya dengan anggukkan pelan dan senyum manis nya. “Itu yang telat! Kenapa masih disitu??? Kesini!”. Panggil salah seorang anggota osis yang bisa di bilang cukup ganteng. Renita, Zahra, dan Sesil pun segera berlari menuju sumber suara. Dengan nafas sedikit terengah-engah, mereka di hadapkan dengan tatapan mata yang tidak asing. “Dari mana??” Suara itu memecahkan keheningan.
__ADS_1
“Ooohh.. Ya sudah kalo begitu. Ayo masuk barisan!” Suara yang begitu lembut namun tegas memecah keheningan. Mereka bertiga pun menurut dan segera berjalan menuju barisan. Zahra terus-terusan menunduk dan tidak sedikitpun mendongakkan kepalanya. Sesil dan Renita paham dengan tingkah Zahra. “Tolong dong! Pandangan mata nya di jaga!!” Teriak Sesil dengan lantang. Seketika pandangan mata pun tertuju ke arah mereka. Sesil dan Renita yang mengetahui bahwa mereka menjadi sorotan lampu hehee.. sorotan mata, bersikap biasa saja seolah-olah hanyaa impian yang berlalu.. dangdutan kali aahh.. -_- seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sementara Zahra masih menundukkan kepala nya dan tidak menghiraukan keadaan sekitar.
__ADS_1
“Iya, maaf kalo ada yang tersinggung!”. Teriak salah satu anggota osis yang berlalu pergi meninggalkan lapangan upacara dan menyerahkan pengeras suara ke salah satu teman yang berada di dekat nya. “Rendi..!!!” Teriak seorang gadis tanpa memakai almamater yang tengah berlari menuju masa depan nya (masa iya :v) menuju lapangan upacara. Rendi, dia adalah ketua osis di MAN Pertiwi 2. Dia adalah salah satu siswa kebanggaan di sekolah tersebut. Selain sebagai ketua osis, dia juga menjabat sebagai ketua rohis. Dia terkenal bukan hanya karena wajah nya yang ganteng dengan hidung nya yang mancung dan face sedikit ke bu’ le bu’ lean (ke bule-bulean maksudnya :D hihii), postur tubuh nya pun atletis bangeeettt!! (ngiler :g). Tidak butuh waktu lama, keadaan pun menjadi gaduh, dan terdengar para siswa/siswi baru saling berbisik-bisik satu sama lain. Yaaa.. mereka tengah membicarakan apa yang barusan saja terjadi. “Rendiii... berhenti doong!! Capek tahu!!”. Teriak gadis itu lagi dengan nafas terengah-engah. “Ciieeee... Ada yang gak tahu malu tuhh..!!” Teriak beberapa anggota osis yang terlihat seperti profokator dan di ikuti tawa yang cukup heboh dari siswa/siswi baru.
__ADS_1