
Kinan dan Caca berjalan terburu- buru menyusuri jalanan pusat ibu kota. Meetingnya kali ini hanya ada di gedung seberang kantor mereka. Caca memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju gedung tersebut. Kinan sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.
" Jangan buru- buru banget, Ca. Masih ada tiga puluh menit." Kinan mengingatkan. Karena Caca tampak jalan sangat tergesa- gesa.
" Lebih cepat lebih baik." Ucap Caca dan menunggu lampu sudah kembali merah untuk menyebrang jalan.
Ketika lampu sudah berubah merah. Caca dan Kinan melangkah. Lagi- lagi Caca berjalan cepat hingga mendahului Kinan. Dan tepat di saat itu...
' BRUK'
Caca Terpelanting cukup jauh karena entah bagaimana sepeda motor itu berjalan dengan kecepatan tinggi di saat lampu menyala merah.
" CACA!!!" Teriak Kinan panik pada Caca yang tertabrak tepat di depan matanya.
Kinan menghampiri Caca yang tergeletak bersimbah darah. Pengendara sepeda motor itupun juga ikut terjatuh dan terluka cukup parah. Dengan cepat banyak orang berkerumun. Dan ada seseorang yang dengan cepat menghubungi ambulan.
Kinan terus menyeka air matanya yang tak berhenti mengiringi langkahnya mengantar Caca ke ruang UGD. Takut dan panik bercampur jadi satu.
" Elo harus sembuh, Ca." Ucap Kinan di sela tangisnya.
******
Ken datang dengan tergesa- gesa setelah mendapatkan kabar dari Kinan. Terlihat Kinan tengah duduk dengan wajah tertunduk. Ken menghampiri Kinan dan duduk di sampingnya.
" Gimana keadaan Caca?" Tanya Ken.
Kinan langsung menoleh dan langsung memeluk Ken. Tangisnya kembali pecah dalam pelukan Ken. Ken hanya diam dan mengelus lembut punggung Kinan.
" Sabar. Kita berdo'a aja biar gak ada luka serius sama Caca." Ucap Ken menghibur Kinan.
" Darahnya banyak Ken." Suara Kinan bergetar.
" Sabar." Ujar Ken lagi dan perlahan melerai pelukannya. Menyeka air mata Kinan dengan ibu jarinya.
" Aku takut Caca kenapa- napa." Ucap Kinan lagi.
" Udah.. Sabar ya. Kita tunggu kabar dari dokter." Ujar Ken.
Tak berselang lama. Dokter keluar dari ruang UGD dan menemui Kinan juga Ken. Memberikan kabar bahwa Caca mengalami patah tulang kaki kanan. Keadaannya cukup stabil. Caca segera di pindahkan ke ruang rawat inap.
Begitupun dengan lelaki yang menabrak Caca. Pengendara motor itu juga mengalami patah pada tulang paha kanannya. Kinan menatap nanar Caca yang terbaring lemah dengan kaki di gips dan wajah serta kepala yang diperban.
" Makan dulu." Ken memberikan sebungkus nasi kotak yang dia beli dari kantin rumah sakit pada Kinan yang masih saja termenung.
" Dokter kan udah bilang. Keadaan Caca stabil. Sekarang Caca cuma dalam pengaruh obat bius." Ujar Ken mengingatkan Kinan dengan ucapan dokter. " Sekarang kamu harus makan. Sebentar lagi aku mau ketemu calon mertuaku dan secepatnya aku akan memperistri kamu." Ken mencolek dengan genit ujung hidung Kinan. Membuat Kinan tersenyum.
__ADS_1
Kinan membuka kotak nasi tersebut dan perlahan melahapnya. Secara perlahan namun pasti. Kinan menghabiskan juga makanan yang diberikan Ken.
" Proyek kita terancam batal. Kalo besok dari PT kita gak ada kepastian." Ujar Kinan dengan wajah lesu.
Ken yang sejak tadi hanya duduk diam sesekali mengecek ponselnya mendengarkan keluhan Kinan.
" Proyek apa?" Ken penasaran.
Kinan memberikan berkas yang tadi dia bawa pada Ken. Ken mempelajari berkas itu. " Aku bisa bantu. Seenggaknya aku bisa mengisi posisi Caca untuk sementara." Ucap Ken. Kinan tersenyum senang. Akhirnya ada juga angin segar yang berhembus di hari ini. Proyek ini harus Kinan dapatkan untuk membayar gaji para karyawan.
" Gak sia- sia punya calon suami pinter." Puji kinan dan memeluk lengan Ken.
" Emmhhh.." Terdengar Caca melenguh. Pengaruh obat biusnya sepertinya sudah habis. Ken dan Kinan segera menghampiri Caca dan berdiri di samping ranjang Caca.
Perlahan Caca membuka matanya. " Kinan.." Panggil Caca lemah.
" Gue disini, Ca." Kinan memegang tangan Caca.
" Gue dimana? Kok badan gue sakit semua." Caca mengeluh.
Kinan menyeka cepat air matanya yang jatuh begitu saja. " Elo abis kecelakaan, Ca. Sekarang lo di rumah sakit." Kinan menjelaskan dengan suara bergetar.
Caca meneteskan air matanya. " Meeting kita batal, Nan?"
" Kaki gue kenapa? Kok di gips?"
" Kaki lo patah, Ca. Kata dokter dalam beberapa bulan lagi. Elo bisa jalan lagi."
" Kalo gue sakit. Meeting kita gimana? Siapa yang akan nemenin lo. Gimana nasib perusahaan kita?" Caca mengkhawatirkan kondisi usahanya yang memang sedang kesulitan keuangan.
" Gue akan coba bantu, Kinan." Ken menyahut.
Caca melirik Ke arah Ken dan tersenyum getir. " Maaf jadi ngerepotin lo, Ken."
" Gak masalah. Yang terpenting lo fokus sama kesembuhan lo." Ujar Ken menguatkan Caca.
Caca tersenyum.
******
Seminggu berlalu sudah. Keadaan Caca mulai membaik. Kinan membawakan Caca makanan kesukaannya. Dia bilang bosan dengan makanan rumah sakit yang terasa hambar. Caca segera mengambil burger dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.
" Gue kapan boleh pulang sih? Bete banget disini." Keluh Caca.
" Sabar sayang. Dua hari lagi." Ujar Kinan dengan nada bercanda.
__ADS_1
" Ken gak kesini?"
" Kenapa lo tanya- tanya calon suami gue?!" Sergah Kinan.
" Nanya doang." Ucap Caca dengan wajah cemberut.
" Masih suka kan lo sama Ken. Ngaku!" Desak Kinan masih dengan gaya bercanda.
" Enggak lah.."
" Gak percaya gue." Sanggah Kinan.
" Emang engga." Caca tetap kekeh pada pendiriannya.
' Cklek'
Kinan dan Caca sontak terdiam karena orang yang mereka ributkan muncul. Ken menatap Kinan dan Caca dengan bingung. Kenapa jadi hening ketika dia masuk. Sebelum dia masuk di dalam sini terdengar heboh banget. Padahal cuma ada dua orang.
" Kenapa?" Tanya Ken dengan wajah bingung.
Kinan dan Caca beradu pandang dan tertawa.
" Aneh." Ucap Ken dan memberikan Caca hasil dari pemeriksaan keuangan perusahaannya.
" Apaan nih?" Caca tampak tak mengerti.
" Buka aja." Perintah Kem..Caca segera membuka berkas yang diberikan Ken. Kedua netra Caca membelalak tak percaya jika ada transfer uang yang cukup besar pada sebuah rekening atas nama salah seorang mantan karyawannya.
" Kenapa sih, ca?' Kinan penasaran. Caca menunjukkan pada Kinan.
" Ini Rizal yang kacamata itukan?" tanya Kinan. Caca mengangguk. " Pantes aja keuangan kita kacau pas dia udah resign."
" Kita harus minta balik uang perusahaan." Ucap Caca tegas pada Kinan.
" Oke. Gue bantu." Ucap Ken. Dia harus membantu Caca. Biar bagaimanapun. Perusahaan Caca itu adalah usahanya bersama Kinan.
" Thanks Ken." Ucap Caca dan memeluk Ken yang memang berdiri di samping ranjang.
"He' em..." Kinan berdehem cukup keras melihat Caca memeluk Ken.
" Dikit, Nan." Ujar Cac menggoda Kinan.
" Gak ada. Gak ada. Calon suami gue ni." Kinan menggeser tubuh Ken.
Ken masih diam tak mengerti dengan tingkah mereka. Berasa berada di tengah anak kecil lagi rebutan mainan.
__ADS_1