Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
82


__ADS_3

" Kamu mau pulang, sayang?" Tanya Ken pada Naila yg mulai menguap.


" Kamu gimana?


" Aku masih tunggu kabar perkembangan Alfi." Ujar Ken. Dia tidak akan merasa tenang jika belum mendapat kabar baik tentang Alfi.


" Aku mau menginap. Tapi besok aku harus kerja." Ujar Naila merasa ragu untuk pulang. Ada perasaan tidak rela ketika melihat Zara menyentuh Ken. Seperti ada sesuatu yang tersimpan di antara mereka.


" Biar aku antar." Ujar Ken.


" Gak usah. Aku minta tolong ama Desta aja." Tolak Naila.


Ken mengernyitkan keningnya menatap Naila dan Desta bergantian dengan bingung. Desta juga merasa aneh karena tidak biasanya Naila tidak mau diantar Ken.


" Ama Ken aja." Sergah Desta.


" Yaudah lo mau sekalian pulang kan?" Ken menengahi. " Titip Naila ya." Ujar Ken yang seakan mengerti jika ada yang mau Naila bicarakan dengan Desta.


" Ayolah." Desta mengalah.


Ken mengantar Naila sampai depan lobby rumah sakit. Setelah Naila masuk ke dalam mobil Desta. Barulah Ken kembali masuk ke dalam menuju ruang perawatan Alfi. Ken hanya bisa melihat keadaan Alfi dari kaca. Tak bisa sembarangan orang bisa masuk ke dalam jika bukan waktu jam besuk pasien.


Cukup lama Ken berdiri hanya memandangi Alfi yang terbaring. Ken memutuskan untuk kembali ke kamar inap Zara.


" Apa udah ada perkembangan dari Alfi?" Tanya Zara dengan suara parau.


Ken menarik nafasnya dalam dan menggeleng.


Zara kembali menitikkan air matanya. " Aku takut kehilangan Alfi, Ken." Zara menangis dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


" Gue yakin Alfi pasti bisa melewati ini semua." Ujar Ken menenangkan.


Zara semakin tertunduk sedih.


Ken duduk di kursi di samping ranjang Zara dan menatap Zara iba. " Elo harus kuat. Buat Arkan dan Alfi." Ucap Ken.


" Hikzzz..."


" Udah malem. Sebaiknya lo istirahat, Zar. Kesehatan lo juga harus cepat pulih." Ken menghapus air mata Zara dan membantu Zara berbaring kembali.


*******


Tiga hari sudah Alfi terbaring di ruang ICU. Belum ada perkembangan yang berarti yang Alfi tunjukkan. Ken mengurus administrasi kepulangan Zara. Setelah selesai mengurus semuanya. Ken masuk ke kamar rawat inap Zara. Zara tersentak kaget ketika pintu tiba- tiba terbuka.

__ADS_1


" Aku pikir siapa." Ujar Zara bernafas lega ketika dilihatnya Ken yang masuk.


" Apa sudah beres semua?" Tanya Ken datar.


" Ya."


" Aku antar pulang." Ucap Ken dan mengambil alih tas yang dibawa Zara.


Ken berjalan di depan Zara.


" Maaf selalu merepotkanmu." Ucap Zara dengan suara lirih.


" Gak masalah." Ucap Ken dan berhenti di bangku yang ada di teras rumah sakit.


" Tunggu di sini. Gue ambil mobil." Ucap Ken dan segera menuju mobilnya terparkir.


Zara hanya diam sepanjang perjalanan pulang. Ken pun melakukan hal yang sama.


" Apa Alfi akan sembuh?" Tanya Zara kini air mata kembali membendung.


" Pasti." Ujar Ken singkat tetap menatap jalan.


" Gimana kalo Alfi gak sadar- sadar?" Tangis Zara kembali pecah.


" Gak usah mikir yang engga- engga." Sergah Ken cepat. " Saat ini. Fokus urus Arkan." Ucap Ken tegas.


Ken menepikan mobilnya di depan rumah Zara dan Alfi. Ken membantu Zara membawakan tas yang berisi perlengkapannya.


Dengan langkah gontai. Zara memasuki rumahnya Ken senantiasa berjalan di samping Zara hanya sambil memperhatikan Zara.


" Syukurlah kamu sudah pulang." Ucap Siska ketika melihat Zara datang dan langsung memeluknya erat.


Tangis Zara kembali pecah dalam pelukan Siska. Roy yang belum mengetahui kepulangan Zara. Menghampiri suara riuh tangisan di ruang tamu.


" Zara.." Ucap Roy senang dan langsung menghampiri Zara lalu memeluk anak dan istrinya. Ken hanya berdiri diam memperhatikan keluarga itu saling menguatkan.


" Alfi, Ma.." Ujar Zara disela tangisnya.


" Sabar, sayang." Ucap Siska dan menyeka air mata Zara.


Siska dan Roy membimbing Zara duduk di sofa. Zara masih menangis tersedu- sedu.


" Maaf, Om. Tante. Saya permisi ke rumah sakit lagi." Ucap Ken mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


" Maaf Ken. Kami tidak meghiraukan keberadaanmu." Ucap Roy.


" Gak papa. Zara harus banyak istirahat." Ujar Ken.


" Ken." Panggil Siska pada Ken yang baru saja akan berbalik badan.


" Ya Tante."


" Bisakah kamu menjaga Zara. Setidaknya sampai Alfi sadar." Pinta Siska dengan wajah memelas.


Ken melemparkan senyum tipisnya. " Zara dan Alfi bukanlah orang lain untuk saya. Zara tak perlu sungkan meminta bantuan saya." Ujar Ken. " Selagi saya bisa. Saya akan bantu." Ucap Ken lagi.


" Saya permisi." Ujar Ken dan berbalik badan keluar dari rumah Alfi.


******


Sejak bangun tidur. Naila merasakan badannya kurang vit. Serasa di pukulin orang sekampung. Dari ujung kepala sampai ujung kaki Naila merasakan badannya sakit semua. Ingin rasanya dia izin. Tetapi Naila merasa sungkan. Karena sebentar lagi dia juga akan mengambil cuti untuk menikah.


" Elo sakit, Nai?" Tanya Miya yang sejak tadi memperhatikan Naila sangat lesu.


" Engga."


" Muka lo pucat begitu. Istirahat aja sana." Ucap Miya dan mengambil alih pekerjaan Naila yang sedang mengelap meja.


" Jangan di paksain!" Sergah Miya dan tetap menyuruh Naila untuk istirahat.


" Yaudah gue istirahat dulu ya." Ujar Naila sebenarnya merasa sungkan.


Naila berjalan menuju dapur tempat para karyawan menghabiskan waktu untuk istirahat sambil memijat kepalanya yang serasa ingin pecah.


" Loh.. Kamu kenapa Naila?" Tanya Rudi yang baru keluar dari ruangannya.


" Kepala saya sakit banget, Pak." Jawab Naila sambil sedikit meringis.


" Yasudah kamu istirahat. Perlu saya hubungi pacar kamu?" Tanya Rudi.


" Gak usah pak. Biar saya aja."


Vani memandang tak suka pada Naila yang menurutnya sekarang sangat dimanjakan teman- temannya yang lain terutama oleh Pak Rudi. Beruntung sekali gadis desa ini punya calon suami super kaya raya. Dia gak ngapa- ngapain pun. Saldo di tabungannya akan bertambah terus.


" Manja banget!" Omel Vani.


" Makanya kalo punya pacar kaya. Dimanfaatin!" Ucap Vani. " Pacarnya pemilik perusahaan besar. Calon istrinya cuma waiters. Kebanting banget!" Vani meledek. " Suatu saat kalo dia bosan. Dia akan gampang banget gantiin elo!" Tambah Vani membuat Naila semakin pusing.

__ADS_1


" Bisa diem gak?!" Omel Naila kesal dan mendorong tubuh Vani agar menjauh dari tempatnya istirahat. " Kalo iri, bilang boss!" Ledek Naila lagi sambil berkacak pinggang. " Pengen ya punya pacar ganteng, keren dan tajir kaya gue?!" Ucap Naila kesal dengan wajah julidnya.


Vani hanya melirik tajam dan meninggalkan Naila sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Vani kalah telak karena sebenarnya dia sudah mencoba dengan sengaja menggoda Ken agar berpaling dari Naila. Tapi entah kenapa selalu gagal tanpa adanya proses.


__ADS_2