
Ken dan Naila saling bercumbu memadu kasih. Tetapi saat tangan Ken mulai membuka kancing baju Naila satu persatu. Naila menyentakkan tangan Ken dengan cepat. Wajahnya tiba- tiba terlihat pucat dan gemetar. Naila meringkuk di sudut kasur dengan air mata mengalir deras.
Ken yang sedang menikmati pergumulan panas mereka hanya mampu terdiam melihat Naila terlihat begitu ketakutan. Ken perlahan mendekati Naila yang masih gemetar.
" Kamu kenapa?" Tanya Ken terlihat bingung dengan keadaan Naila yang berubah.
Naila terisak dengan badan gemetar.
Ken menarik nafasnya dalam berusaha untuk tetap berpikir jernih. Ken menghampiri Naila dan memeluk tubuh mungil istrinya dengan erat.
" Jangan takut. Sekarang udah ada aku." Ucap Ken berusaha menenangkan Naila.
" Maaf, Ken.." Naila tertunduk malu dan kembali terisak.
" Its okay." Ken membelai lembut punggung Naila.
" Maafin aku.."
" Sssttt.." Ken memeluk erat Naila dan tidak melepaskan pelukannya.
Hingga beberapa menit kemudian Naila sudah tenang kembali. Tubuh gemetarnya sudah menghilang. Ken melerai tubuh mereka dan menatap wajah Naila dengan sendu. Ken menatap kedua manik mata Naila yang basah.
" Siapa yang udah menodai kamu?" Tanya Ken lembut.
Naila tertunduk.
Ken mengangkat kembali wajah Naila.
" Maaf aku gak jujur sama kamu sebelumnya." Ujar Naila takut.
" Aku gak marah, Nai. Tak jadi soal jika kamu bukan lagi virgin. Itu masa lalu kamu." Ujar Ken lembut. " Apa aku boleh tau siapa orangnya?" Tanya Ken lagi mengulang pertanyaannya.
Naila menggeleng. " Aku gak tau." Jawab Naila dengan wajah ketakutan. Dia takut Ken akan meninggalkannya.
" Maksud kamu?"
Naila menarik nafasnya dalam. " Saat itu aku terjebak hujan saat pulang dari sekolah. Aku berteduh di sebuah gubuk penyimpanan padi." Naila mengawali ceritanya. " Tiba- tiba aja ada dua orang lelaki datang. Aku pikir mereka juga mau berteduh tapi ternyata mereka....." Naila kembali tenggelam dalam tangisannya.
Ken kembali memeluk Naila. Berusaha menenangkan Naila yang kembali teringat dengan tingkah dua orang tak bertanggung jawab itu.
" Orang tua kamu tau?"
Naila menggeleng. " Aku takut mereka akan menyakiti keluarga aku, Ken. Aku gak bilang sama siapa- siapa." Ujar Naila dan mengakui jika dirinya saat itu sangatlah bodoh. Tunduk akan ancaman dua lelaki itu. Lagi pula. Naila juga belum bisa menahan malu jika warga di sekitarnya tahu jika dia diperk*sa.
" Sekarang kamu jangan takut lagi. Sekarang udah ada aku." Ken mengecup pucuk kepala Naila.
" Maafin aku Ken. Aku gak jujur." Ujar Naila penuh penyesalan. " Kamu akan ninggalin aku?"
Ken mengulas senyumnya dan menyeka air mata Naila yang membasahi pipinya. " Aku gak akan ninggalin kamu. Sekarang kalo ada apa- apa, kamu harus cerita sama aku." Ujar Ken.
" Tapi kita gak jadi lakuin itu."
" Gak papa. Aku masih bisa tahan." Ujar Ken menggoda Naila.
Naila tersipu malu.
******
Seminggu berlalu sudah. Ken dan Desta menjemput Alfi yang sudah diperbolehkan pulang. Kondisi Alfi sudah jauh lebih baik. Desta sudah selesai membereskan barang- barang milik Alfi. Ken juga sudah selesai membayar administrasi Alfi.
" Zara sakit. Jadi ngerepotin kalian." Ucap Alfi merasa tidak enak.
" Kaya ama siapa aja." Sergah Desta dan membantu Alfi untuk duduk di kursi rodanya.
__ADS_1
" Pengantin baru banyak diem sekarang, Al." Ledek Desta sambil melirik pada Ken.
" Apaan dah!" Ujar Ken. Sejak kejadian itu. Sedikit banyak Ken memang penasaran pada lelaki yang sudah menodai Naila dulu. Tak bisa dipungkiri. Ken memendam kemarahan pada sosok lelaki misterius yang sudah melukai istrinya.
" Lagi ngerasain nikmatnya jadi pengantin baru." Sahut Alfi ikut meledek Ken."
" Banyak omong. Gue lepas nih!" Ancam Ken saat itu memang sedang mendorong kursi roda yang diduduki Alfi.
" Udah bisa ngancem, Des."
" Kenryu Akihiro gitu lohh." Sambung Desta.
" Berisik dah lo pada!" Omel Ken mulai merajuk. Ken memang paling sebal jika dua orang ini sudah berkoalisi meledeknya. Takkan ada habisnya.
Alfi dan Desta puas menertawakan Ken yang merajuk.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Alfi. Ken habis jadi bahan ledekan dua sahabatnya itu. Kalo gak lagi nyetir. Udah habis mereka ken berikan hadiah cubitan di pinggan. Hadiah terindah yang paling mereka takutkan.
Ken kembali mendorong kursi roda Alfi memasuki rumah Alfi. Terlihat Zara sedang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah lemas.
" Maaf aku gak bisa jemput kamu." Ujar Zara dengan wajah pucat dan mencium punggung tangan Alfi. Alfi mengecup kening Zara.
" Kamu demam, sayang." Alfi terlihat cemas melihat keadaan Zara.
" Pusing sedikit." Ujar Zara.
" Gue balik duluan ya." Ujar Desta menyela percakapan Alfi dan Zara.
" Mau kemana?" Tanya Alfi teralihkan.
" Arsyi minta di antar ke rumah orang tuanya. Mau ada acara besok." Ujar Desta beralasan.
" Naik apa?" Ken bingung Karena tadi dia yang menjemput Desta.
" Hati- hati lo." Ujar Ken pada Desta.
" yo." Ujar Desta sambil berjalan keluar dari rumah Alfi.
" Elo mau tiduran dimana?" Tanya Ken pada Alfi.
" Kamar aja Ken." Jawab Alfi.
Ken mendorong kursi roda Alfi menuju kamarnya. Zara mengikutinya di belakang Ken. Sesampainya di kamar. Ken membantu Alfi untuk tidur di kasurnya.
" Gue balik ya." Ucap Ken. Tak enak dia jika harus meninggalkan Naila terlalu lama.
Baru saja Ken berbalik badan. Zara tampak oleng dan ambruk begitu saja. Beruntung Ken cepat menangkapnya dan segera menggendongnya merebahkan di kasur bersebelahan dengan Alfi. Alfi menatap Zara dengan wajah cemas.
" Badan Zara panas banget." Ujar Ken memeriksa kening Zara.
" Tolong bantu Zara dulu Ken." Pinta Alfi. Mengingat saat ini Alfi tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Zara.
Ken menyiapkan kompres untuk Zara. Dengan telaten. Ken mengompres kening Zara. Alfi memegangi tangan Zara yang lemah.
" Perlu gue panggil dokter?" Tawar Ken.
" Iya. Gue takut dia kenapa- napa." Ujar Alfi.
Ken segera menghubungi Anggi. Ken juga tidak lupa menghubungi Naila bahwa dia akan pulang terlambat. Ken mengambil minyak kayu putih dan mengolekan pada beberapa bagian tubuh Zara. Ada perasaan cemburu menghinggapi hati Alfi ketika Ken menyentuh tangan Zara. Tetapi mau dikata apa. Keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuk bergerak banyak.
" emmhh.." Perlahan Zara membuka matanya saat Ken mengoleskan minyak kayu putih dekat area hidungnya.
" Syukurlah sayang." Ucap Alfi sedikit lega.
__ADS_1
" Apa yang lo rasain?" Tanya Ken.
" Kepala aku pusing." Ucap Zara parau.
" Arkan dan Nuri kemana?" Tanya Ken lagi.
" Tadi pagi mereka dijemput papa."
Ken menarik nafasnya dalam. Tak mungkin dia meninggalkan mereka berdua saja di rumah. Anggi datang satu jam kemudian setelah Ken menghubunginya.
" Sorry Ken. Tadi masih ada beberapa pasien." Ucap Anggi.
" Gak masalah." Ken membimbing Anggi masuk ke kamar Alfi. Terlihat Zara masih berbaring lemah di kasur.
Anggi masuk ke kamar Alfi sementara Ken menunggu diluar kamar Alfi. Setelah beberapa menit kemudian. Anggi keluar dari kamar Alfi dan berbicara pada Ken. Setelah Anggi memberikan resepnya. Ken segera menuju apotek terdekat untuk mendapatkan obat Zara.
" Sayang." Ken menelepon Naila.
" Ya."
" Zara dan Alfi sakit. Sementara gak ada orang lagi di rumahnya. Menurut kamu aku harus bagaimana?" Tanya Ken. Dia ingin menginap. Tetapi Ken sudah beristri.
" Rawat mereka aja dulu. Kamu perlu bantuan?" Tanya Naila.
" Kalo gak merepotkan." Jawab Ken.
" Aku kesana. Kamu kirim alamatnya ya." Ucap Naila.
" Oke."
Zara berjalan perlahan sambil merambat memegang dinding agar tubuhnya tidak oleng. Ken yang tadi sedang duduk di depan ruang televisi segera menghampiri Zara.
" Lo mau kemana, Zar?" Tanya Ken dan langsung membantu Zara.
" Mau ambil air."
" Biar gue ambilin." Ucap Ken.
" Aku gak enak terlalu merepotkan." Ujar Zara kekeh pada pendiriannya.
Ken hanya bisa membantu Zara sampai menuju dapur. Zara kembali oleng. Kepalanya masih terasa sangat sakit. Ken dengan sigap memegangi tubuh Zara.
Kedua manik mata mereka beradu. Entah kenapa. Jantung Ken berdetak cepat. Ken langsung membuang pandangannya. Tak ingin dia terbawa suasana.
" Elo duduk di sini." Ken membantu Zara untuk duduk di kursi yang ada di dekat meja makan. Ken segera mengambilkan air untuk Zara.
" Alfi tidur?" Tanya Ken.
" Iya. Kasihan dia. Baru aja pulih." Ucap Zara.
" Elo juga harus istirahat." Ujar Ken.
Zara berusaha untuk bangkit. Ken berusaha tidak membantu Zara kali ini. Entah kenapa perasaannya jadi tak karuan.
" Bisa bantu aku, Ken?" Zara memegang lengan Ken.
" Zar." Ken mengatur perasaan yang tiba- tiba muncul. " Elo jalan sendiri aja." Ucap Ken dan melepaskan tangan Zara.
" Maaf Ken." Ucap Zara dan berusaha berjalan sendiri ke kamarnya walaupun jalannya sedikit terhuyung- huyung.
Ken mengatur nafasnya. Kenapa dengan hatinya saat ini. Kenapa sangat ingin mencumbu Zara saat mereka berdekatan. Ken langsung mengusir pikirannya yang sangat ngaco ini.
" Ken." Naila baru datang dan langsung menghampiri Ken yang masih berdiri di dekat meja makan.
__ADS_1
Ketika Naila sudah dekat. Ken langsung saja menarik Naila dan menciumnya dengan mesra. Tanpa di sadari Ken. Ada sepasang mata memperhatikan apa yang dia lakukan pada Naila dengan tatapan nanar.