
Hampir tiga puluh menit Alfi duduk di kursi samping ranjang Ken, Menunggu Ken segera siuman. Perlahan Ken membuka matanya. Dengan segera Alfi menghampiri Ken dan melayangkan senyum penuh kelegaan menatap sahabatnya membuka matanya. Bola mata Ken terlihat merah. Ken melemparkan senyum tipis pada Alfi.
" Eh jagoan! Mau berantem ngajak; ngajak lah!" Ujar Alfi sedikit bercanda.
" Gue mau olahraga sendiri. Biar sehat." Sahut Ken masih dengan suara yang lemah.
Alfi menarik nafas dalam dan mendekatkan kursi yang tadi dia duduki agar mendekat pada ranjang Ken, Menatap Ken dengan serius.
" Apa yang terjadi Ken?" tanya Alfi. " Gue tanya Kinan. Tapi dia malah nangis terus."
Ken menarik nafasnya. " Kinan pasti masih trauma." Ujar Ken. Air matanya meluncur begitu saja mengingat kondisi Kinan saat Ken menemukan Kinan.
" Emang Kinan kenapa?"
" Riko culik Kinan dan gak tau dia apain Kinan sebelum gue temuin tempat mereka." Ujar Ken.
" Apa?! B*ngsat banget tuh orang! Mau ngapain dia culik Kinan?!" Ucap Alfi dengan mengepalkan tangannya.
" Biasalah. Manusia sakit hati." Ucap Ken.
" Biasanya lo jago berantem. Harusnya lo bisa gampang nolong Kinan, Ken."
" Awalnya iya. Tapi pisau tepat di depan leher Kinan. Bikin gue gak berdaya. Oh iya Apa ada luka di tubuh Kinan?" Tanya Ken dan merubah posisinya jadi duduk.
" Kayanya engga."
__ADS_1
" Hemmm.." Ken ingin turun dari ranjangnya.
" Elo mau kemana?" Alfi dengan sigap menghampiri Ken dan memapahnya.
" Ketemu Kinan." Jawab Ken.
Alfi membantu Ken dengan memapahnya menuju kamar perawatan Kinan. Bagi Ken, lukanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan luka di hati Kinan.
Ken menatap sendu Kinan yang duduk di kursi menghadap jendela. Tatapannya kosong. Air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.
" Kinan." Sapa Ken memecah keheningan.
Perlahan Kinan menoleh dan langsung berhambur memeluk Ken erat. Ken hanya meringis pelan menahan rasa sakit akibat Kinan memeluknya terlalu kencang. Ken menguatkan kakinya agar bisa tetap berdiri dan membiarkan Kinan menangis dalam pelukannya. Ken hanya mengelus lembut punggung Kinan dan sesekali mengucapkan kata maaf.
Alfi berdiri sedikit menjauh dari Ken. Membiarkan pasangan kekasih itu saling menguatkan.
" Elo kenapa gak minta bantuan gue?" Tanya Alfi.
" Zara aja masih di rumah sakit, Al. Gue gak mau melibatkan elo." Ucap Ken.
" Biar gimana pun. Elo sahabat gue. Gue siap bantuin elo walaupun nyawa jadi taruhannya." Ucap Alfi dengan wajah serius.
" Thanks banget." Ucap Ken. " Tapi simpan nyawa lo baik- baik buat melindungi anak dan istri lo." Sambung Ken.
Ken melihat jam yang terpajang di dinding. " Balik sana. Kasian Zara sendirian."
__ADS_1
" Elo harus cepet sembuh."
" Kalo Zara nanya, Jangan cerita semuanya. Gue gak mau dia ikutan khawatir kaya lo gini." Ucap Ken.
" Beres." Ucap Alfi dan berpamitan pada Ken.
******
Ken segera menghubungi pengacaranya dan memintanya agar Riki dapat dihukum sesuai dengan perbuatannya. Ken tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hanya dirinya yang menjadi korban. Tetapi ini menyangkut Kinan. Dia tidak tahu apapun dan harus menjadi korban. Ken sangat tidak terima akan hal itu.
Ken menyambangi polsek dimana Riko di tahan. Dia hanya ingin memastikan jika Riko menyesali perbuatannya. Benar saja. Riko langsung bersujud dan memeluk kaki Ken meminta ampunan dari Ken. Dengan linangan air mata buaya. Riko merangkai kata penuh penyesalan.
" Gue gak akan mencabut laporan gue." Ucap Ken enggan melihat Riko yang masih memeluk kakinya .
" Kita teman Ken. Bahkan sejak sekolah dasar kita sudah berteman." Ujar Riko membujuk Ken kini dia duduk di kursi seberangan dengan Ken.
Ken menyunggingkan senyum tipis. " Teman yang seperti apa?" Ken sedikit mencondongkan tubuhnya. " Gue gak akan memperbesar masalah ini kalo lu gak pernah sentuh tunangan gue! Tapi lo berani sentuh dia. Artinya lo bangunin macan tidur . Gue akan pastikan elo dihukum seberat- beratnya." Ucap Ken menatap Riko tajam.
Riko menahan salivanya kasar. Terbayang dalam benaknya bagaimana dia akan menghabiskan hidupnya dalam jeruji besi selama bertahun- tahun.
" Ken. Aku mohon jangan lakukan itu!" Riko mengatupkan kedua tangannya memohon pada Ken dengan wajah memelas.
" Taubat . Masih ada waktu buat lo berubah jadi lebih baik." Ucap Ken.
" Iya Ken . Aku janji akan berubah. Kasih aku kesempatan." Ucap Riko lagi.
__ADS_1
" Gue cuma mencabut laporan atas penganiayaan gue. Tapi untuk apa yang lo dan komplotan lo lakuin ke Kinan. Kalian harus mempertanggung jawabkan semuanya." Ujar Ken. " Penculikan, penyekapan, pelecehan dan penaniayaan. Semua bukti sudah lengkap. Sampai ketemu di persidangan." Ken menjelaskan pasal yang menjerat Riko dan komplotannya.
Riko mengacak2 rambutnya. Kepalanya pusing tujuh keliling karena orang tuanya sama sekali tidak ingin membantunya.