Antara Cinta Dan Persahabatan

Antara Cinta Dan Persahabatan
77


__ADS_3

" TERIMA... TERIMA.. TERIMA.." Riuh orang- orang yang ada di sana mengucapkan kata itu.


Ken mengedarkan tatapan matanya dengan tajam. Ken menatap tidak suka dengan situasi ini. Ken beralih menatap Desta dan menghampiri sahabatnya.


" Elo sahabat gue kan?!" Ucap Ken tajam. Desta terdiam. " Elo tau kan gue mau nikah?!" Ucap Ken lagi membuat Desta menelan salivanya. Elo kerja sama ama perempuan ini?!" Ken menekankan kalimatnya. " Gue gak nyangka sama lo, Des!" Ucap Ken.


Melihat reaksi Ken yang marah membuat Rumi menciut. Ingin rasanya dia menghilang dari tempat itu. Teman- temannya yang sejak tadi ramai dan mendukung Rumi. Sontak langsung diam dan suasana menjadi hening.


Ken beralih menatap Rumi dengan tajam. Raut wajah Ken sangat tidak bersahabat. " Gue rasa lo udah tau jawabannya." Ucap Ken ketus dan menghampiri motornya. Ken langsung menancap gas meninggalkan lokasi.


Rumi menghentakkan kakinya kesal karena Ken tetap menolaknya walaupun dia membawa banyak orang. Maksud Rumi berbuat demikin agar Ken berpikir seribu kali untuk menolaknya. Ini malah tanpa berpikir. Ken langsung meninggalkannya. Malu rasanya Rumi di hadapan teman- temannya.


" Ken pasti marah banget." Gumam Desta pada Arsyi. Awalnya dia memang tidak setuju dengan rencana Arsyi dan Rumi. Tapi yaa mau dikata apa. Desta selalu menuruti keinginan Arsyi.


" Ken terlalu keras kepala!" Omel Arsyi masih tidak merasa bersalah.


" Kansai Group gue menghilang." Rengek Rumi karena gagal mendapatkan Ken.


" Yaudahlah. Gue nyerah kalo berhadapan sama Ken." Ucap desta mengangkat tangannya.


" Cemen banget sih kamu!" Omel Arsyi kesal.


" Kamu lupa yang nolong aku siapa waktu dikeroyok mantan kamu?!" Desta tidak mau kalah.


" Ihh.." Arsyi hanya bisa manyun. Ken memang menang dalam segala hal. Desta akan kalah telak kalo sampai mereka berduel.


*******


" Nai. Kok elo masih kerja aja. Kan calon suami lo CEO." Sindir Vani teman kerja Naila sesama waiters.


" Belom jadi suami. Jadi harus tetap mengandalkan diri sendiri." Sahut Naila tak kalah jutek.


Vani melirik tajam ke arah Naila. Memperhatikan setiap inci penampilan Naila yang menurutnya sangat sederhana. Naila hanya bermake up tipis. Tinggi badannya juga masih berada di bawah Vani. Untuk bentuk badan. Vani merasa dia adalah wanita yang paling cantik di kalangan waiters yang lain.


" Apa yang dilihat cowok lo. Apa dia sakit mata kali ya.." Ejek Vani masih tidak terima kenapa dia kalah dengan Naila.


" Ihhh.. Sirik yaa.." Sahut Naila dengan wajah menyebalkan. Kalo penasaran. Tanya sendiri sama orangnya." Ujar Naila lagi dan pergi meninggalkan Vani yang terpaku mendengar Naila berani membalikkan kalimatnya.

__ADS_1


" Apa kamu masih lama?" Tanya Ken yang baru datang untuk menemput Naila.


Naila menepuk jidatnya. " Aku lupa ngabarin kamu. Hari ini aku lembur." Ujar Naila dengan senyum penuh rasa bersalah. Dia takut Ken akan marah.


" Ohh. Yaudah. Aku temani." Ucap Ken dan langsung memilih meja yang menurutnya paling nyaman. Ken mengambil tempat di sudut ruangan.


" Oh iya. Bawakan aku es cappuccino dan kentang goreng ya." Ucap Ken pada Naila.


" Siap. Mau pesan makanan berat?"


" Nanti saja kalo kamu udah istrirahat. Kita makan bersama." Ujar Ken.


" Oke."


Ken segera membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya di restoran tempat Naila bekerja. Beberapa pasang mata dari teman- teman Naila memandang kagum dengan sosok Ken yang terlihat sangat berwibawa dengan balutan jas yang masih melekat di tubuhnya.


" Naila." Panggil Rudi. Manajer restauran.


" Iya, Pak." Naila menghampiri atasannya.


" Itu benar pacar kamu?" Tanya Rudi menunjuk ke arah Ken.


" Iya, Pak."


" Iya pak. Saya akan beritahu pacar saya." Ujar Naila dan langsung menghampiri Ken.


" Apa kamu udah istirahat?" Tanya Ken ketika Naila menghampirinya.


Naila menggigit bibir bawahnya. Masa iya dia harus mengusir Ken. " Sayang. Aturan di sini. gak boleh duduk terlalu lama. Kamu udah dua jam lebih duduk di sini." Ucap Naila mengawali kalimatnya.


Ken melemparkan senyumnya. " Aku mau bicara sama manajer kamu." Ujar Ken.


Naila melirik manajernya yang mengawasinya di sudut ruangan dengan mata yang tajam dan tangan terlipat di dadanya. Naila menghampiri kembali manajernya dan menyampaikan ucapan Ken.


" Saya mau reservasi restoran ini untuk hari ini. Bisa?" Ucap Ken tanpa berbasa basi ketika Rudi sudah berada di dekatnya.


" Maksud anda?"

__ADS_1


" Saya mau booking seluruh restauran ini untuk hari ini." Ken mengeraskan sedikit volume suaranya.


" Maaf. Untuk booking restauran. Tidak bisa mendadak." Ujar Rudi.


" Booking meja ini untuk hari ini bisa?" Ken kembali bernego.


" Bisa." Ucap Rudi sedikit gelagapan.


" Saya booking. Tuliskan semua biayanya. Dan semua karyawan di sini silahkan makan. Biar saya yang bayar." Ucap Ken tegas membuat Rudi tak berani menatap wajah Ken.


" Emmm.. Maaf pak. Makanan harus di bayar dimuka." Ujar Rudi sedikit ngeri.


Ken hanya menggelengkan kepalanya. Biasanya di restauran ini. Untuk pembayaran dilakukan belakangan. " Anda takut saya tidak mampu bayar?" Tanya Ken menatap Rudi semakin tajam. Ken mengeluarkan black card miliknya yang selama ini hanya jadi penghuni isi dompetnya dan memberikannya pada Rudi.


" Hitung semuanya. Jika gak bisa pake credit card. Saya akan bayar cash." Ucap Ken dan mengeluarkan kartu debitnya.


Rudi hanya mengangguk dengan wajah tertunduk dan mengambil credit card milik Ken.


" Kamu beneran mau bayarin makan temen- temen aku?" Bisik Naila tak percaya dengan apa yang dilakukan Ken.


" Bukan masalah besar."


" Tapi.."


Naila langsung terdiam ketika satu persatu karyawan restauran tersebut menghampiri Ken dan mengucapkan terima kasih.


" Kamu gak perlu lakuin ini, sayang.' Sambung Naila sedikit merengek.


" Gak papa. Kamu lanjut kerja lagi. Aku juga mau lanjutin pekerjaan aku. Sebentar lagi selesai." Ucap Ken dengan santainya.


Dia gak tau apa yang ada di dalam kepala Naila. Mengumpulkan uang itu sangat sulit. Tetapi calon suaminya dengan mudah menghambur- hamburkan uangnya dengan mentraktir semua teman- temannya. Uang yang akan Ken keluarkan malam ini pasti melebihi gaji Naila selama satu bulan.


" Beruntung bangey ya lo, Nai." Ucap seorang teman Naila yang lainnya ketika berpapasan dengan Naila.


" Dia emang CEO perusahaan apa? Kok gue jadi kepo." Sambung teman Naila yang lain.


" Kansai Group kalo gak salah." Jawab Naila sambil mengingat- ingat. Naila memang tidak terlalu mempedulikan apa yang Ken miliki.

__ADS_1


" Pantes aja. Restoran ini juga dia bisa beli, Nai." Sahut teman Naila yang berprofesi sebagai koki.


Naila terdiam dan mulai berpikir. Sebesar apa perusahaan milik Ken sebenarnya. Naila membuka ponselnya dan mengetik nama Kansai Group dalam sistem pencarian. Mata Naila membulat sempurna ketika membaca artikel yang tertulis dalam Kansai Group. Bagaimana mungkin Ken yang menjadi pewaris tunggal perusahaan besar itu akan memperistri seorang gadis kampung sepertinya. Kepala Naila mendadak pusing memikirkan hal itu.


__ADS_2