
" Makan dulu, sayang." Bujuk Kinan pada Ken yang sejak tadi tidak mau makan.
Ken tetap menggelengkan kepalanya. Rasanya nafsu makannya hilang melihat Desta masih terbaring lemah di ruang ICU. Ken selalu merasa bersalah. Seharusnya dia yang terbaring di sana. Bukan Desta. Rasa penyesalan dan rasa bersalah semakin menggelayuti hati Ken.
" Lo harus makan, Ken. Tadi darah lo juga di ambil kan. Tambah lagi lo juga lagi luka." Bujuk Alfi menepuk- nepuk bahu Ken.
" Harusnya gue yang di sana, Al." Ujar Ken lemah.
" Udahlah. Desta pengen lo selamat dan gak terluka. Jadi jangan bikin pengorbanan dia sia- sia dengan lo nyiksa diri begini." Bujuk Alfi lagi kini menyodorkan sepotong roti.
" Makan Ken." Caca ikut membujuk.
" Arsyi... Kamu gak apa- apa kan, Sayang?" Tanya kedua orang tua Arsyi yang baru saja tiba di rumah sakit.
Arsyi menggeleng dan tangisnya kembali pecah. " Bimo bukan cowok yang baik, Ma " Ucap Arsyi di sela tangisnya dan memeluk ibunya erat.
" Papa sudah menghubungi keluarga Bimo dan membatalkan pertunangan kalian." Papa Arsyi menjelaskan seraya mengelus lembut punggung Arsyi.
Tatapan keduanya beralih pada kedua orang tua Desta yang sejak tadi hanya duduk bersandar dengan penuh harap. Orang tua Arsyi menghampiri orang tua Desta dan duduk bersimpuh di hadapan mereka. Mengucapkan terima kasih serta meminta maaf pada orang tua Arsyi.
" Ini sudah takdir.". Sahut Burhan dengan suara beratnya.
******
Tiga hari berlalu sudah. Desta masih terbaring lemah dan belum membuka matanya. Kondisinya sudah dinyatakan stabil sejak pagi tadi. Dan sore ini sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Ken dan Alfi bergantian menjaga Desta di rumah sakit. Sesekali orang tua Desta serta orang tua Arsyi datang berkunjung untuk memantau perkembangan Desta.
" Gimana luka lo?" Tanya Arsyi pada Ken yang duduk di sofa.
" sebentar lagi juga sembuh." Ucap Ken singkat.
Arsyi menarik nafas dalam dan memandang desta dengan penuh harap. " Harusnya gue gak pernah setuju sama perjodohan itu." Arsyi membuka suaranya memecahkan keheningan.
" Maksud lo?"
Arsyi duduk di sofa yang sama dengan Ken duduk. Ken sedikit menggeser tubuhnya agar ada jarak di antara mereka.
" Papa gue tau kalo dulu Ken sering main cewek. Dia takut kalo Desta juga mainin gue." Arsyi memulai ceritanya.
Ken meletakkan ponselnya dan mendengarkan cerita Arsyi dengan saksama.
" Awalnya gue emang gak mau. Tapi pas Papa kasih foto ke gue. Desta lagi rangkulan ama cewek di club. Akhirnya gue setuju buat di jodohin sama Bimo." Lanjut Arsyi.
" Terus?!"
" Kemarin. Papa sama Mama berangkat keluar kota. Dia nitipin gue ke Bimo. Tapi bukannya gue di jaga. Malah gue mau di..." Arsyi tak sanggup melanjutkan kata- katanya. Wajahnya tertunduk dengan telapak tangannya menutupi wajahnya.
__ADS_1
" Udah lupain. Sekarang lo udah gak papa." Ujar Ken.
" Sebenernya gue masih sayang banget sama Desta." Ucap Arsyi lagi.
" Desta juga begitu. Mudah-mudahan di balik kejadian ini. Kalian bisa bersatu." Ucap Ken dan langsung di amin kan Arsyi.
" Udah malem. Gue balik dulu, Ken." Ucap Arsyi ingin pamit.
Ken terdiam. Memperhatikan dengan saksama pergerakan jari Desta. Arsyi yang penasaran ikut memperhatikan apa yang dilihat oleh Ken. Kedua netranya membesar. Desta mulai memberikan respon.
" Desta." Panggil Arsyi dengan riangnya. Dia bahkan hampir terlonjak senang.
Perlahan. Desta mencoba membuka matanya. Ken langsung menekan tombol untuk memanggil perawat.
" Emmhhh.." Desta melenguh matanya masih berkedip menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya.
Dokter dan perawat yang berjaga bergegas masuk dan memeriksa keadaan Desta. Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan. Keadaan Desta mengalami peningkatan yang signifikan.
" Aku seneng kamu sadar." Ucap Arsyi penuh rasa syukur dan mencium kening Desta dengan lembut.
" Elo baik-baik aja, Ken?" Tanya Desta dengan suara masih lemah. Desta memang belum diperbolehkan banyak bicara dulu. Luka di perutnya masih belum sembuh.
Ken tersenyum getir mendengar Desta masih saja mengkhawatirkannya. " Harusnya lo gak lakuin itu, Des." Ucap Ken dengan suara bergetar. " Gue gak akan maafin diri gue kalo hal terburuk menimpa elo."
Desta mengulum senyum. " Kalo gue gak begitu. Kita gak akan keluar hidup- hidup." Sahut Desta lagi.
*******
Ken baru saja pulang ke apartemennya setelah Alfi datang bergantian untuk menjaga Desta. Ken yang lelah. Menguap panjang karena semalam dia terjaga. Pikirannya terlalu senang mendapati Desta sudah siuman. Ken menuju kamarnya ingin merebahkan dirinya di kasur.
' Ting Tong'
Baru saja Ken ingin merebahkan dirinya di kasur. Terpaksa diurungkan dulu niatnya dan membuka pintu apartemennya.
"Zara?!" Ken terbelalak kaget karena Zara yang datang.
" Aku bawakan kamu sup. Kebetulan tadi aku masak banyak." Ujar Zara beralasan dan tanpa dipersilakan oleh Ken. Zara masuk ke dalam apartemennya.
" Alfi tau lo kesini?" Tanya Ken masih berdiri di ambang pintu.
Zara mengulas senyum. " Engga." Jawab Zara singkat.
Ken menghela nafasnya. Bisa mati dia kalo Alfi tahu jika istrinya menyambangi rumahnya.
" Bagaimana lukamu?" Tanya Zara dan mengambil kotak P3K yang memang tergeletak dekat wastafel.
__ADS_1
" Udah lebih baik." Jawab Ken.
" Duduk." Perintah Zara bermaksud ingin mengganti perban yang ada di pelipis Ken.
" Biar gue sendiri." Ken menolak.
" Aku bilang duduk!" Zara mengulang perintahnya.
Ken menuruti Zara dan duduk di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Dengan telaten Zara membersihkan luka Ken yang mulai mengering. Ken menahan nafasnya berusaha mengendalikan perasaannya. Jantungnya entah kenapa berdetak cepat berada sedekat itu dengan Zara.
" Udah jauh lebih baik." Ucap Zara ketika selesai mengganti perban Ken.
Ken membuang nafasnya setelah Zara kembali sibuk di dapur menyiapkan makanan yang dia bawa.
" Gue ngantuk, Zar. Gue tidur dulu ya." Ucap Ken.
" Makan dulu." Pinta Zara yang sudah menyiapkan makanan untuk Ken.
Ken menghela nafasnya dan dengan cepat menghabiskan sepiring nasi yang sudah disiapkan Zara.
" Gue tidur dulu. Kalo lo masih mau disini. Silahkan." Ucap Ken. Dia tidak ingin terlalu lama berdua dengan Zara. Takut terjadi sesuatu lagi.
" Aku pulang aja." Ucap Zara dengan wajah kecewa.
" Oke."
" Aku boleh tanya sesuatu, Ken?"
" Apa?"
" Kamu serius dengan Kinan?"
Ken menghela nafasnya. " Iya. Secepatnya kami akan menikah." Jawab Ken dengan menatap Zara yang berwajah sendu.
" Kamu seyakin itu?"
" Iya. Kinan wanita yang baik." Jawab Ken datar. " Silahkan kalo lo mau pulang. Gak baik juga lo dateng kesini tanpa Alfi." Ucap Ken dingin.
Zara menatap Ken nanar. Matanya mengembun dan siap meluncurkan bulir bening. Hatinya kembali terasa perih karena Ken masih bersikap tidak peduli dengannya. Perlahan Zara mendekati Ken.
" Jangan terlalu kejam sama aku, Ken." Ucap Zara dan memeluk erat tubuh Ken.
" Zar.." Ken berusaha melepaskan pelukan Zara.
' Cklek'
__ADS_1
Ken menoleh ke arah pintu. Kedua netranya membesar tatkala terlihat Kinan masuk ke apartemennya dengan wajah kecewa karena melihatnya dengan Zara sedang berpelukan.
Kinan hanya menggelengkan kepalanya tak percaya jika Ken mengkhianati dia dengan istri sahabatnya. Kinan langsung kembali keluar dari apartemen Ken dengan wajah kecewa dan hati yang terluka.