Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Sean tahu Rasya teman Fani


__ADS_3

Fani sudah pergi begitu saja tanpa menghiraukan Sean yang masih mematung di tempatnya.


menatap kepergian Fani dan pria itu,.


''Gue harus cari tahu, siapa tuh cowok '' gumam Sean, segera Sean berlari dan berniat akan membuntuti mereka. Barangkali Fani tak langsung pulang ke rumahnya, juga kalaupun pulang, semoga Sean jadi tahu siapa dia..


Bbbbrrrmmmmm..


Mobil BMW pun sudah meluncur membuntuti mobil di depannya ini.


Yang membawa Fani si adik tiri.


''Heh, rupanya tuh cowok bukan orang sembarang ya, gue tahu itu mobil cukup mahal '' ujar Sean.


Beberapa saat, rupanya mobil itu sudah sampai di halaman rumah Fani. Dan artinya Fani langsung di antarkan pulang juga oleh pria itu yang tak lain adalah Rasya sahabat Fani waktu masa putih abu-abu.


Fani pun turun dan di ikuti Rasya,


''Makasih ya sudah Jemput aku lagi Sya.'' ujar Fani pada Rasya


Rasya mengangguk dan tersenyum ''Sama-sama''


''Oh ya, ayo masuk dulu'' ajak Fani.


''Boleh memangnya?'' goda Rasya.


''Ah kamu, ya tentu boleh dong, ayo'' kekeh Fani dengan memukul pelan lengan Rasya.


''Ya baiklah ayo.'' sahut Rasya,.


Mereka pun masuk.


Lagi-lagi seseorang menatap tak suka dengan interaksinya mereka ini,.


''Huh so akrab banget.'' ejek nya lantas dia juga ikut berjalan dan mau ikut masuk, tentu Sean harus tahu tuh laki siapa.


Penasaran banget ini kayaknya si Sean .


''Ma,, Fani pulang.'' ucap Fani masuk rumah, sambil teriak manggil Mama Rina


''Eh Nak, akhirnya kamu pulang juga'' seru sang Mama menghampiri ke depan.


''Ma, ada apa?'' Fani jadi cemas kan.


''Tidak ada, bukan apa-apa, tadi itu Mama mencemaskan mu, habisnya kamu pergi kuliah gak bawa kendaraan, Mama jadi khawatir kamu juga gak bawa ponsel.'' jelas Mama mengatakan kekhawatirannya


''Ah itu, iya maaf Ma, Fani gak bilang dulu Mama'' seru Fani dengan tertawa dan merasa bersalah.


si Mamah sekarang menatap yang di samping Fani, ''Ini siapa Fan?'' tanya Mama


''Oh ya lupa, kenalkan Ma ini--''

__ADS_1


''Rasya Tante'' Rasya cepat memotong perkataan Fani ia lebih dulu menyebutkan namanya.


''Rasya? Rasya temanmu yang waktu SMA?'' tebak Mama menatap Fani Rasya bergantian


''Benar Ma, Rasya yang teman Fani'' angguk Fani.


''Aduh Rasya, gimana kabar kamu Nak? kenapa lama gak kesini lagi jenguk Fani?'' Mama Rina memberondong dengan pertanyaan.


''Ma, satu-satu lah nanya nya'' kata Fani


''Iya''


''Kabarku, baik Tante, iya maaf ya Rasya baru bisa kesini sekarang, tapi Tan, percayalah Rasya Selalu ingat pada kalian kok'' ujar Rasya dan justru saat mengucapkan selalu ingat tapi tatapannya ia tunjukkan pada Fani.


Mama Rina pun jelas Paham arti tatapan itu. ''Hm jadi Benar ya kamu suka ingat sama Fani''


''Iya benar Tante,Eh itu maksudnya, pada mu juga Tan.'' ralat Rasya Ketika sudah sadar dengan perkataannya. Rasya menggaruk tengkuknya itu sambil senyum nunduk..


Suatu kebenaran sudah Sean lihat, 'Oh jadi dia teman Fani waktu SMA, lalu, pergi kemana dia sebelumnya,?' hati Sean


Tiga bulan kemudian..


''Rin, sebenarnya Aku capek juga bila harus bolak-balik seperti ini.'' ucap si Papi Yoga , kini waktu menunjukkan malam hari, dua pasangan yang tak lagi muda tengah berbincang.


Mama Rina tahu arah tujuan perkataan suaminya ini, pasti Papi Yoga menginginkan dirinya ikut pergi ke rumah besar milik Papi Yoga.


Namun, Mama Rina bukan tidak mau, tapi Mama Rina bingung dengan anak gadisnya, yang tak mau ikut juga.


''Rin, kamu sudah coba bujuk Fani lagi belum?'' tanya Papi Yoga pada sang istri, yang sedari tadi bergeming.


''Oh gitu, tapi Rin, itu Fani alasannya tidak mau karena apa ya? Apa karena ada Sean?'' tanya Papi merasa penasaran.


''Saya pun tidak tahu kenapa, tapi sepertinya bukan '' jawab Mama Rina.


''Kalau saya yang coba bicarakan pada Fani gimana boleh kan?'' kata Papi Yoga meminta pendapat Mama Rina


''Tentu boleh kok Pak, silahkan di coba saja'' kata Mama Rina


''Ya baiklah.'' Keduanya pun segera tidur karena hari sudah malam.


Dan waktu yang tepat untuk bicara pada Fani itu sepulang Fani kuliah.


Hari ini Papi Yoga sengaja pulang cepat, agar bisa mengobrol santai dengan Fani. Maka disinilah mereka sekarang, di belakang rumah berhadapan kolam ikan.


''Pak, kata Mama, bapak mau ada bicarakan hal penting padaku ?'' ujar Fani memulai percakapan.


''Benar Fani, saya langsung saja ya, begini Fan, terus terang saja, saya menikah lagi itu Ingin ada yang mengurus, memang selama ini saya cukup puas dengan Mama mu. Tapi Fan, asal kamu tahu kalau saya juga kadang merasa capek bila harus bolak-balik seperti ini, kesini dan ke rumah besar, Jadi Fani, saya mohon mau ya kamu ikut ke rumah saya, yang akan menjadi rumahmu juga kok'' Papi Yoga menjelaskan semuanya, juga meminta Fani ikut tinggal di rumahnya bareng Mama Rina..


Fani pun tampak mendengarkan dengan serius, dan Fani mengerti yang dimaksud Pak Yoga. Tapi.....


''Bagaimana Fan?''

__ADS_1


''Em, itu anu pak '' rasanya lidah Fani Kelu.


''Fani, apa kamu keberatan karena adanya Sean ?'' tanya Papi Yoga lagi


''Bu-bukan Seperti itu kok Pak, hanya saya, Ya baiklah saya mau ikut dengan bapak dan Mama '' akhirnya putusan Fani mau juga ikut pindah.


''Beneran Nak ?'' si Papi senang tapi harus memastikan lagi


Fani pun mengangguk sebagai jawaban..


''Terima kasih ya Nak, kamu sudah mengerti ingin bapak, beneran ya tidak apa-apa kan bila kalian pindah ke rumah Bapak ?.dan kamu tak merasa terpaksa kan?''


''Tidak Pak.''


''Baiklah, terima kasih Fani, dan maaf kalau saya egois ''


''Ah tidak kok Pak '' Fani menggeleng


''Oh ya Fan, tidak apa kan besok kita langsung pindahan, juga mumpung besok kalian libur ngampus?'' ujar pak Yoga


'Secepat itu?' dalam batin Fani


''I-iya pak tak apa.''


''Ok , sekali lagi makasih ya Fani, saya mau beritahu dulu Sean.''


''Iya pak.''


[Se..]


[Ya Pi?]


[Besok pagi-pagi kamu kesini.!]


[Ada apa Pi,?]


[Kesini saja, bantu Papi]


[Ya ada apa Papiiii] gemas deh


[Besok bantu Papi angkut barang Mama mu dan Fani, yang akan pindahan.!] Papi bicara dengan jelas sekarang.


[Wah, yang benar Pi, jadi Fani mau tinggal sama kita?]


[Benar, dan Mama mu, juga.]


[Ok Pi,,, Siap, Sean akan bantu Papi.]


[Ok, awas telat kamu kesini nya.!]


[Siap, gak akan telat!]

__ADS_1


[Yasudah.]


'Hm, Yes. Akhirnya !'


__ADS_2