
Mobil hitam itu berhenti di parkiran Bandara kota ini, lalu seorang pria tampan keluar dari mobil tersebut. Dia pun memakai kacamata hitam dan berjalan menuju ruang tunggu.
Sebenarnya langkahnya terasa malas untuk pergi menemui orang itu, namun kembali rasa tanggung jawab nya yang menyuruhnya untuk menjemput istrinya.
Istri ? HM, rasanya kata-kata itu begitu menohok di hati si pria.
Benarkah dia punya istri ? Lalu, kenapa hari hari nya yang sebelumnya dia merasa sendiri dan kesepian. Lalu hari ini kata istri itu begitu terasa lucu dalam diri pria tersebut.
''Sangat lucu sekali, kenapa saya harus menuruti kata hati saya. Menjemput wanita itu. Yang bahkan dia tak memikirkan saya sekalipun.'' ucapnya pelan dan tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya. Pria tadi merasa bodoh karena mau mau saja menjemput wanita egois itu.
''Apa karena saya masih mencintainya ?'' kembali ucapnya berbicara pada diri sendiri.
''Tidak, mungkin ini hanya kepedulian saja.'' lanjutnya
Dia jadi bimbang, padahal kini sudah beberapa menit lagi padahal dia akan sampai tapi pria itu ingin berbalik badan bahkan mungkin sebaiknya pergi saja.
Saat kakinya sudah ingin melangkah pergi, namun dengan s terkejut karena ada seseorang memeluknya dari belakang..
Mendekap erat dadanya. Hingga tubuh mereka saling menempel.
''Mau kemana lagi, kenapa lama?'' tanya seorang wanita yang dia sebut istri tadi.
Rupanya saat Raffi berbaik badan, wanita ini melihat keberadaan Raffi maka dia pun mengejar Raffi dan saat sudah dekat segera dia menahan langkah Raffi dengan memeluknya dari belakang itu.
''Tolong lepaskan, ini di tempat umum.'' pinta Raffi melepas paksa tangan istrinya ini.
''Kenapa sih, biarin aja lah ngapain pikirkan orang lain, aku rindu sama kamu. '' ujar wanita itu kembali memeluk.
''Ku bilang lepaskan,'' sentak Raffi
''Kamu Kenapa sih, kamu gak kangen aku gitu ? Kenapa sangat kasar.'' bentak Laura Kiehl istri dokter Raffi.
''Sebaiknya jangan berdebat di tempat umum.'' ucap Raffi lantass dia pun melangkah pergi tanpa mengajak atau menggandeng tangan Laura istrinya yang baru pulang dari Jerman itu .
''Sial, kenapa dia semakin dingin. Dan apa dia tak bahagia aku pulang ?'' gumam Laura menatap kesal
''Tunggu..'' teriaknya pada Raffi dan mengejar.
Di mobil.
''Kamu aneh, kamu cuek apa kamu tak senang aku pulang hah?'' tanya Laura pada Raffi
__ADS_1
''Heh sejak kapan kau peduli padaku '' sentak Raffi yang benci bila hanya dirinya yang di salahkan tanpa istrinya ini sadar dengan kesalahan nya selama di Jerman.
''Ya apa maksudmu itu ?'' tanya Laura belum peka dan memang dia hanya memikirkan dirinya saja.
Brukkkk
Raffi mengerem mendadak dia meluapkan emosi nya dengan itu.
Lalu dia menatap dalam pada istrinya dan sangat dingin juga tajam bagai elang .
''Kemana kau saat aku meminta mu pulang hah?'' bentak Raffi
''Itu ... aku , aku kan berkarier '' jawab Laura beralasan
''Heh karir ya, lalu kau selalu mementingkan karir mu. Dan kau tak perduli dengan suamimu !'' ucap Raffi penuh penekanan.
''Tidak bukan begitu Raff.'' kekeh Laura
''Lalu apa? hei Laura sadar aku ini suami mu, aku butuh sosok istri. Tapi kau, kau malah memilih karier mu itu. Sialan !'' emosi Raffi
''Heh ngapain kamu bentak-bentak padaku, di sini bukan hanya salah ku ya. Kau juga salah.''
''Ya kau salah, dan salah mu sendiri yang tidak mau ikut dengan ku ke Jerman. Kau salah.'' dan selalu itu yang menjadi keributan mereka, soal Jerman dan ego.
''Baik mungkin sebaiknya kita berpisah saja !'' tegas Raffi mengejutkan Laura.
''A-apa ber- berpisah ? Hahaaa,itu tidak mungkin.'' ejek Laura.
''Kenapa tidak mungkin Hah, saya serius Laura. Kita bercerai saja!'' putus Raffi kembali kali ini dia harus tegas memilih keputusan juga rasa itu mulai tak ada di hati nya.
''Tidak bisa seperti itu, kau tak boleh membicarakan perceraian.''
'' Kenapa tidak ?''
''Karena semua keputusan itu hanya ada pada diriku saja.''
''Kenapa begitu sialan, ya terserah ku.''
''Gak . Bila yang ingin mengakhirinya semua ini harusnya aku, dan bila aku katakan tidak, ya tidak !''
''Kurang ajar, siapa dirimu. Aku juga punya hak !''
__ADS_1
''Aku yang lebih berhak, apa alasan mu kau mau bercerai hah? tidak akan ada yang mau dengan mu, hahaa'' ejek Laura
''Diam sialan.''
''Apa alasanmu hah?''
''Aku sudah tak tahan dengan mu, aku ingin berpisah.''
''Ohhhh, apa karena kau sudah mempunyai wanita baru hah? yang membuatmu ingin berpisah?'' tanya Laura
''Ya, aku sudah menemukan yang terbaik.''
''Apa? jadi ada Pelakor dalam rumah tangga kita?'' jelas Laura marah
''Ini semua karena mu.''
''Tidak bisa, enak saja aku kalah sama Pelakor. Siapa itu, katakan! Akan ku beri pelajaran.'' marah Laura
''Yang harus di beri pelajaran itu adalah kau, kau istri yang tau berperasaan.''
''Kau juga, beraninya kau selingkuh.''
''Sudahlah, memang sampai kapanpun kau akan menjadi wanita yang egois.''
***
Sementara itu Fani baru bangun tidur, dia pun mencari Mama nya juga dia lupa meninggal kan dokter Raffi tadi.
''Aduh aku ketiduran, aku lupa dengan mas dokter dia kan tadi masih berada di sini.''
Fani pun mencari ke depan tapi rupanya hari sudah larut, dan mungkin Raffi sudah pergi karena Fani tak menemukan nya.
''Eh Nak, sudah bangun. Ayo makan dulu sayang.'' ucap Mama dari dapur mungkin.
''Iya Ma, aku baru bangun. Tapi ma, suami Fani kemana lagi ma?'' tanya Fani
''Suami? suami siapa nak?'' jelas Mama merasa bingung
''Ih Mama ya suami Fani, dokter Raffi.'' ucap Fani
''Apa ? dokter Raffi, suami ? '' apa ini maksudnya? Sungguh Mama Rina jadi semakin kebingungan.
__ADS_1