
Hingga pada akhirnya Steffani yang malang semakin hari semakin memburuk, Fani sudah tak ingat tentang dirinya sendiri. ingatannya sudah hilang.
Fani hanya tertawa tanpa sebab, menangis pun ketika ia merasa ketakutan tapi entah karena apa.
Mama Rina dan Cici sang sahabat tak bisa melihat Fani Seperti ini, mereka tampak sedih bahkan sangat ikut terpukul melihat Fani yang tiba-tiba mengalami depresi i sehingga Fani mengalami gangguan ODGJ
''Sayang, cepat sembuh lah Nak. Mama sayang padamu, Mama gak mau melihat mu seperti ini.''
''Mama, ingin Fani yang dulu yang ceria dan penuh kebahagiaan, hikss.. Fani itu anak Mama.'' sambil terisak
Lalu, Papi Yoga datang.
''Rin, gimana sekarang Fani ?'' tanyanya
Mama Rina menatap sekilas pada Papi lalu kembali menunduk menggenggam tangan Fani. ''Hikss, dia masih sama Pak, malah kondisinya semakin memburuk. Fani tak ingat aku, dia berubah jadi orang lain. Pak, aku tidak mau melihat Fani Seperti ini. Tolong kembalikan Fani ku, yang penuh keceriaan '' pinta Mama Rina berharap ada yang menolong anaknya.
''Iya iya, kamu tenang. Aku akan cari jalan keluar ya, tenangkan dirimu.'' mengusap bahu Mama Rina.
Mama Rina menggeleng ''Tidak, aku tak bisa tenang. sebelum aku menemukan orang yang sudah berbuat keji seperti ini, aku ingin secepatnya orang itu tertangkap.'' Mama Rina marah nafasnya memburu.
''Iya Rin, aku berjanji akan menemukannya.''
'Aku harus cari hari dan waktu yang tepat, untuk mengatakan semuanya yang sebenarnya.'
__ADS_1
'Kalau, si pengecut dan si iblis itu ada di rumah ini, di sekitar Tante Rina.' Seseorang berbicara dalam hati.
Tak lama setelah itu. Sean berpamitan Katanya dia ada tugas kuliah, yang mengharuskan dia pergi.
Menambah kecurigaan lah semua ini di benak Cici yang memang sudah tahu semuanya.
Cici menatap tajam pada Sean, dan ia tersenyum miring penuh amarah.
'Ohh mau pergi ? mau kabur? tidak semudah itu Sean.' Tidak ada lagi rasa suka, rasa kagum. Yang ada rasa benci dan jijik pada mereka di hati Cici
sekarang.
Karena setahu Cici, Bulan ini tak ada mata kuliah yang mengharuskan untuk pergi kemana-mana mengerjakan tugas itu.
Cici hanya pura-pura memainkan ponselnya agar ia menjadi orang bo-doh di hadapan Sean.
''Tante, sebelum aku pergi. Aku ingin ngobrol bentar dulu sama Fani.'' ijin Sean yang memang bagi yang tak tahu akal busuknya, itu seperti perkataan yang manis tapi bagi Cici. itu sesuatu petaka.
Mama Rina memang tak menaruh curiga pun mengangguk membiarkan Sean ngobrol, karena rupanya selama ini di hadapan Mama Rina juga Papi Yoga Sean selalu menunjukkan respon atas musibah yang Fani hadapi.
Sementara Cici sudah semakin menajamkan telinganya juga matanya, saat pria tak waras itu mulai mendekat Fani.
''Fan, kamu cepat sembuh ya.'' mengusap kepala dan pipi Fani.
__ADS_1
''Fani kakak gak tega lihat kamu seperti ini. Kakak ingin kamu cepat sembuh dan kita ngumpul lagi '' lanjut Sean
''Mama mu, Papi. dan Kakak sayang padamu Fani.''
Cupp...
. Sean mencium bibir Fani tanpa Mama Rina dan Papi Yoga sadari, karena posisi mereka di belakang Sean. Tapi Cici sudah jelas melihat itu. Cici mengepalkan tangannya 'Kurang ajar, di saat seperti ini dia masih beraninya berbuat kaya gitu sama Fani yang sedang tidur.' Cici geram dan semakin tak menyangka perbuatan Pria ini tapi itu membuat Cici yakin soal dirinya yang dia dengar di kampus kemarin.
Setelah itu Sean bersalaman dengan Papi Yoga dan Mama Rina.
Tidak, ini tidak bisa di biarkan terlalu jauh. Cici sudah yakin dan sudah bulat, dia akan mengatakan semuanya hari ini. Demi Steffani.
Setelah kepergian Sean, entah sudah pergi dari rumah ini atau masih di sini, itu lebih bagus.
''O-om, Tan-te.'' panggil Cici suaranya mendadak bergetar saat ia mulai berkata.
''Ya, ada apa ?'' tanya Papi Yoga.
''A-aku, aku. ta-tahu si-siapa, orang yang su-sudah melakukan i-ini pada Fa-fani.'' ucap Cici tangannya sudah berkeringat dingin.
''Ci apa maksudmu ? Kau sudah tahu...?''
''Ya, Tante.'' jawabnya sambil mengeluarkan Air mata
__ADS_1
''Si-siapa Ci ? Siapa? cepat bilang Tante, Ci.?'' Mama Rina memiliki harapan.
''Dia, adalah .... ''