
''Aaaaahh, sakit ...Aduhh, aku ga-gak kuat ahh Mama ...'' suara Fani menjerit kesakitan menggema di ruangan rumah sakit.
Mami nya Raffi dengan gerak cepat dia membawa Fani ke rumah sakit, sebab Mami tahu kalau Fani ini akan segera melahirkan.
Tak lama Raffi sudah datang.
''Ma, mana Fani ?'' tanya Raffi nampak cemas
''Itu ada di dalam Raff.'' beritahu Mama
Saat Raffi ingin masuk segera Mami cegah dengan menahan tangan anaknya ini. ''Hei, kamu mau kemana Raff ?''
''Mi, Raff mau masuk ingin melihat kondisinya.'' jawab Raffi
''Tidak bisa Raff, ingat dia itu sedang akan melahirkan. Kamu gak boleh masuk melihatnya kamu bukan suaminya. Ingat Raff bukan muhrim.'' peringatan Mami
''Tapi mi, Raff gak ada kepikiran kesana juga Raff gak ada niat yang lain. Raff ini hanya mencemaskan dia.'' ucap Raffi dia ini pria yang baik dan tentu di didik oleh orang yang baik pula.
''Tetap gak bisa, iya Mami paham dengan maksud mu. Tapi Mami gak ijinkan kamu masuk, tenang lah ada Mama nya kok di dalam.
Kebetulan sekali, Mama Rina tadi siang datang ke kediaman keluarga Raffi si dokter yang menangani Fani.
Mungkin karena Mama Rina sudah akan tahu bahwa anaknya akan melahirkan sekarang dan itu mungkin karena ikatan batin ibu dan anak.
''Ya Baiklah Mi, Raff tunggu di sini.''
__ADS_1
''Sabar lah, tunggu waktu yang tepat .'' pesan Mami penuh arti.
Raff membalas dengan senyuman mengerti.
***
''Aaaahhhh , ma ... ''
''Hoekk, hoeekkk'' maka kini terdengar suara bayi menangis.
Suster keluar dari ruangan bersalin.
''Dengan keluarga pasien nyonya Fani.'' ucap suster itu
''Iya sus, kami keluarga nya.'' sahut Raff segera
''Apa sudah lahir bayi nya sus?'' tanya Raffi antusias sudah seperti dia saja Ayahnya si bayi kecil itu.
suster mengangguk, ''Benar sudah pak, bayi nya perempuan. Mari ikut saya.''
''Iya, syukurlah ya Mi.'' Raffi nampak bahagia Mami mengangguk.
Raffi dengan Mami pun masuk kedalam
Setelah di adzani.
__ADS_1
''Selamat nyonya, Tuan. Bayi Anda telah lahir dengan sempurna dan berjenis kelamin perempuan ya Nyonya. Saya begitu salut pada Anda Nyonya sangat sabar dan menerima instruksi dari saya tadi. Sehingga anda tak perlu di jahit.'' jelas dokter
Kemudian Raffi bertanya pada dokter bidan, ''Maaaf Bu bidan. Saat di lakukan persalinan tadi kondisi Nona Fani baik-baik saja kan?'' Raffi cemas Fani melakukan hal yang tak terduga atau penyakitnya kambuh.
''Tidak kok pak, tak terjadi apa-apa.''jawab bidan
''Ah syukurlah.''
''Em tapi sepertinya ini Anaknya tidak mirip dengan bapak ya, padahal bapak ini suaminya kan?'' celetuk suster mengejutkan
Semua langsung diam tapi menatap suster itu, Raffi menatap Fani sekilas lalu melihat Mama Rina yang tahu arti maksud ucapan suster tadi.
''Sus, jelas belum terlihat mirip siapa-siapa nya kan baru lahir. Apa suster gak mengerti soal ini?'' Mami angkat bicara
''Iya mohon maafkan saya Bu.'' suster itu menyesal
''Tidak apa, gak masalah tidak mirip dengan ku. Tapi aku akan menyayanginya .'' ucap Raffi serius sambil melihat pada bayi Fani ini.
Sementara Fani jadi kepikiran, kenapa bisa suster itu mengatakan hal yang tadi. Sampai bilang Anaknya tak mirip dengan Raffi, lalu mirip siapa dong?
Mama Rina segera mengusap pundak Fani agar tak memikirkan apapun. ''Jangan di pikirkan hal itu Nak, yang perlu saat ini kau pikirkan adalah kepulihan mu dan anak mu, urus lah dia dengan sebaik mungkin ya sayang. Mama begitu senang loh Nak, Mama sudah menjadi nenek.'' Mama Rina sengaja mengalihkan pikiran Fani.
Fani tersenyum lalu mengangguk paham. ''Mama benar, dia anak Fani. Dan Fani juga bahagia ma, Fani sudah jadi ibu sekarang.'' Fani menunjukkan ekspresi bahagia sekarang.
Tanpa yang lain tahu, sebenarnya Raffi juga ikut merasakan senang luar biasa. Dia yang bertahun-tahun mendambakan seorang anak. Dan kini di depannya dia menatap bahkan tadi sempat mendekap tubuh si kecil itu.
__ADS_1
Bolehkah Raffi menyayanginya, seperti pada anaknya sendiri. Dan Raffi merasa dia punya rasa tanggung jawab terhadap bayi perempuan ini. Raffi berjanji akan menjaga anak Fani.