Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)

Apa Salahku, Kak (Air Mata Steffani)
Dukungan untuk Steffani


__ADS_3

Keadaan rumah ini sudah tidak lagi damai dan tidak ada kebahagiaan kenyamanan di dalamnya.


Mama Rina begitu tersiksa juga sangat sakit hati akibat perbuatan sang anak tiri kepada Putri kandungnya.


''Hiksss, kenapa Sean bisa melakukan hal ini kenapa , apa salahnya Fani?'' Mama Rina menjerit menangis


Papi Yoga semakin memburuk kondisinya pun Akibat shock berat saat melihat langsung bagaimana Sean dan tiga temannya yang lain itu mengatakan mereka lah pelakunya.


''Se, Doni. Ryan Yuda, kenapa kalian jadi seperti ini. Kenapa kalian bisa melakukannya, Se Papi sangat kecewa padamu'' ucap Papi Yoga menangis menyesali dirinya yang tak becus.


Sementara Cici menguatkan Mama Rina, dan ia sudah menyiapkan polisi untuk menangkap Empat pria itu secepatnya agar tak bisa kabur.


Orang tua Tiga pria temannya Sean merasa keberatan saat anak mereka di seret paksa untuk di bawa ke kantor polisi oleh pihak keamanan tentunya.


Besoknya...


''Om, Om tidak main-main kan dengan pernyataan Om kemarin soal hukuman Sean.?'' tanya Cici serius dan tentu memastikan memperjelas lagi


Papi Yoga mengangguk mantap. ''Ya saya sangat serius dan saya tak main-main dengan ucapan saya kemarin, saya sudah putuskan untuk membuang anak iblis itu dari hidup saya.'' sangat penuh keseriusan dan tak ada keraguan saat Papi Yoga mengatakan hal tersebut.


Setelah keadaan Papi Yoga cukup membaik beliau meminta pada pengacara nya untuk membawanya menemui anak sialan itu di kantor polisi.


Ya, beberapa hari yang lalu. Sean dan kawan-kawan sudah di jebloskan ke dalam penjara namun untuk hukuman berapa lama nya mereka di bui masih perlu sidang berkelanjutan.


Namun untuk sekarang tentu semua harus di amankan dengan pengawasan pihak berwajib.

__ADS_1


Papi Yoga sendiri lah yang menjebloskan mereka, dan menguatkan kasus ini agar tidak ada yang bisa membebaskan mereka dengan jaminan.


Karena Papi Yoga tahu dari mana asal keluarga teman anaknya ini, ah anak! Papi Yoga tak Sudi menyebutnya anaknya lagi. Anak iblis itu lebih tepatnya. temannya anak iblis itu dari orang berada yang bisa sewaktu-waktu membebaskan dengan jaminan. Dan Papi Yoga sangat keras menolak adanya jaminan tersebut.


Papi Yoga di dorong dari kursi roda oleh asistennya. hingga kini Papi sudah berada di hadapan anak itu, tatapannya sangat menusuk tajam membunuh.


Sean sebelumnya tak pernah melihat mata elang itu yang Sean selalu lihat adalah mata penuh kehangatan dan kasih sayang, namun hari ini Sean tak mengenal siapa di hadapannya ini, ini bukanlah sang Papi.


''Pi .... maafkan Sean Pi,'' ucapnya memohon


Tapi Papi Yoga bergeming.


''Pi, Sean mohon. Tolong bebaskan Sean Pi, ini salah paham'' katanya.


''Heh, salah paham? salah paham bagaimana maksudmu pengecut?'' tanya Papi Yoga


''Oh lalu siapa pelakunya kalau bukan kamu anak setan,?'' Papi masih tenang


''Pi, kenapa mengataiku kaya gitu?'' Sean tak terima di sebut anak setan.


''Katakan siapa yang melakukan hal menjijikkan kaya gitu pada Fani?'' teriak Papi Yoga


''I-itu ... I-itu, ya pokoknya bukan Sean.''


''Cukup'' bentak Papi sudah kesal dengan tak bertanggung jawab nya anak ini bahkan untuk mengakui ya saja tidak berani sehingga membuat Papi Yoga semakin murka.

__ADS_1


''Pi....''


Papi Yoga mengangkat sebelah tangan agar Sean diam


''Papi kesini bukan ingin mendengar pembelaan mu ataupun omong kosong mu. Papi kesini mau mengatakan satu hal dan dengarkan ini baik-baik Sean--'' Papi menatap Sean yang kemarin kemarin masih ia banggakan tapi hari ini tidak!


''Saya Prayoga Irawan. Memutuskan mencoret kamu dari daftar keluarga, saya putuskan kamu sudah bukan lagi anak saya . Kamu tidak berhak lagi mendapatkan hak waris dari semua harta saya Dan saya tidak lagi punya anak laki-laki bernama Sean. Kamu bukan lagi anak saya.''


Duarrrrrr.........


Bagai di sambar petir di siang bolong.


Sean terpaku di tempat .


Dia merasa ini mimpi, tidak semua ini tidak benar.


''Pi, tidak Pi .... jangan seperti ini!''


''Pi, tunggu .... dengarkan Sean Pi,'


''Papi .... ini gak adil, Sean gak mau!''


Papi Yoga pun langsung pergi tak lagi mau mendengarkan semua perkataan maupun penolakan Sean. Keputusannya sudah bulat dan ia tak menyesal.


Besoknya Rasya teman Fani pun merasa aneh karena sudah lama ia tak mendapat kabar tentang Fani di tambah kemarin-kemarin dia memang sangat sibuk jadi hari ini lah baru dia bisa memutuskan akan datang menemui Fani di kediaman Papi Yoga Ayah tiri Fani begitu yang Rasya ketahui.

__ADS_1


Namun saat ia mendengar kabar tentang kondisi Fani sungguh membuatnya begitu mengejutkan sangat-sangat tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa Fani mengalami semua ini hingga ia menjadi sakit mental dan kejiwaan..


''Fan, kenapa bisa seperti ini?'' gumam Rasya tak bisa melihat sang sahabat seperti ini. Rasya akan membantu Fani.


__ADS_2